PortalMadura.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan pergerakan fluktuatif pada Selasa, 2 Juni 2026, ketika pasar keuangan menanti rilis data ekonomi domestik penting di tengah sentimen geopolitik global yang masih membayangi. Rupiah sempat menguat tipis di awal pekan, namun proyeksi dari sejumlah analis mengindikasikan tekanan pelemahan atau pergerakan terbatas sepanjang hari ini.
Pada perdagangan awal pekan, Senin, 1 Juni 2026, rupiah di pasar spot berhasil ditutup menguat ke level Rp 17.805 per dolar AS, mencatatkan apresiasi sebesar 0,43% dari penutupan akhir pekan sebelumnya di Rp 17.881 per dolar AS, berdasarkan data Bloomberg.
Penguatan ini sebagian besar didorong oleh faktor teknikal setelah rupiah dinilai cenderung oversold, seperti yang disampaikan oleh Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong.
Selain itu, implementasi kebijakan baru Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) yang mulai berlaku secara bertahap sejak 1 Juni 2026 turut memberikan sentimen positif bagi mata uang Garuda.
Kebijakan DHE ini mewajibkan eksportir SDA untuk menempatkan DHE mereka di dalam negeri, bertujuan untuk meningkatkan pasokan valuta asing di pasar domestik.
Penurunan harga minyak mentah dunia juga menjadi salah satu faktor eksternal yang memberikan dukungan terhadap penguatan rupiah pada periode tersebut.
Namun, untuk perdagangan hari Selasa, 2 Juni 2026, pasar diperkirakan akan lebih fokus pada data ekonomi domestik yang akan dirilis, termasuk data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia bulan Mei.
Konsensus pasar memprediksi inflasi Mei 2026 akan sedikit meningkat, berpotensi mempengaruhi sentimen pasar.
Analis dari PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah pada kisaran Rp 17.800 hingga Rp 17.850 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Sementara itu, Lukman Leong memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran yang lebih sempit, antara Rp 17.750 hingga Rp 17.850 per dolar AS.
Data dari berbagai sumber perbankan pada 2 Juni 2026 juga menunjukkan bahwa kurs dolar AS terhadap rupiah bergerak di rentang Rp 17.800 hingga Rp 17.900, mendekati level psikologis Rp 18.000 yang menjadi perhatian pelaku pasar dan masyarakat.
Tekanan terhadap rupiah masih sangat terasa di tengah penguatan dolar AS secara global yang terus menjadi tantangan bagi banyak negara berkembang, termasuk Indonesia.
Ketidakpastian geopolitik global, khususnya terkait negosiasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, juga terus membebani sentimen pasar.
Prospek kesepakatan damai yang belum menemui titik terang ini membuat investor global bersikap hati-hati dan cenderung menarik modal dari pasar negara berkembang.
Selain itu, tekanan musiman terhadap rupiah juga muncul dari kebutuhan dolar AS untuk pembayaran repatriasi dividen, pelunasan utang, dan biaya jamaah haji pada periode tertentu.
Cadangan devisa Indonesia yang terjaga dan berbagai kebijakan stabilisasi yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, sebelumnya menyatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia sesungguhnya kuat untuk menopang nilai tukar, meskipun ada tekanan jangka pendek dari faktor global dan musiman.
Langkah-langkah intervensi Bank Indonesia di pasar tunai dan pasar forward terus dilakukan untuk menstabilkan rupiah, baik di dalam maupun luar negeri.
Namun, dampak positif dari kebijakan DHE terhadap rupiah dinilai sebagian analis kemungkinan tidak akan berlangsung lama jika perhatian pelaku pasar masih terfokus pada perkembangan geopolitik global.
Pelemahan rupiah memiliki dampak signifikan pada perekonomian nasional, termasuk potensi kenaikan harga barang impor, bahan baku industri, dan produk elektronik yang pada akhirnya dapat membebani masyarakat umum.
Oleh karena itu, pergerakan rupiah pada hari ini dan beberapa waktu ke depan akan terus menjadi sorotan utama bagi investor, pelaku usaha, dan masyarakat luas.
Kombinasi antara kebijakan domestik yang proaktif dan dinamika ekonomi global yang kompleks akan menentukan arah pergerakan mata uang Garuda di paruh kedua tahun 2026.




