oleh

Ini Makna Idul Fitri yang Harus Umat Islam Ketahui

PortalMadura.Com – Umat Islam telah melaksanakan puasa Ramadan selama satu bulan penuh, akhirnya mereka menemui Idul Fitri atau lebaran pada 1 Syawal. Inilah titik bagi setiap diri umat Muslim naik kelas dari bawah ke atas, dari rendah ke tinggi, dan dari buruk ke baik. Syawal artinya meningkat alias naik kelas.

Perlu umat Islam ketahui, bahwa 1 Syawal juga disebut sebagai hari penanda kemenangan. Kemenangan atas pencapaian diri mengalahkan segala yang dilarang. Padahal, yang dilarang serba penuh kenikmatan.
Akan tetapi, Anda telah berhasil melewatinya dengan penuh kesabaran dan kesadaran. Makan, minum, berbicara kotor, berbohong, menggunjing, pacaran, merokok, dan segala kenikmatan lainnya Anda mampu kendalikan. Ruh inilah yang semestinya dibawa pada 11 bulan berikutnya. Agar Ramadan tidak lenyap begitu saja setelah euforia kemenangan dirayakan.

Selain itu, yang pantas menikmati kemenangan 1 Syawal adalah mereka yang ikut dalam “proses pertarungan”. Bertarung melawan diri sendiri (jihadun nafs), inilah pertarungan terbesar. Bahkan, lebih besar dari Perang Badar pada zaman Rasulullah.

Seperti dikisahkan dalam hadis yang diriwayatkan al-Baihaqi dalam kitab az-Zuhd (384) dan al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab Tarikh Baghdad (6/171) yang berbunyi: “Kita kembali dari jihad yang kecil (Perang Badar) kepada jihad yang lebih besar (perang melawan hawa nafsu)”.

Jihad terbesar inilah yang semestinya Anda siapkan pasca Ramadan. Jangan sampai euforia kemenangan yang setiap tahun Anda rayakan tetap saja mengantarkan Anda ke jalur yang sama, yaitu penuh dosa dan salah.

Seperti layaknya arena pertarungan, yang tidak ikut “bertarung” berarti tidak pantas merayakan kemenangan. Banyak orang hebat gagal bertarung melawan dirinya. Hebat di mata orang belum tentu hebat bagi dirinya. Mampu menebar nasihat dan dakwah, tetapi gagal menasihati dan mendakwahi dirinya. Bahkan, keluarganya sekalipun.

Baca Juga: Menurut Al Quran, Ini Arti Lebaran Idul Fitri yang Perlu Diketahui

Padahal, diri dan keluarga itulah yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban. Seperti firman Allah: “Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka” (QS at-Tahrim : 6).

Sayangnya, saat ini di tengah maraknya industri nasihat, banyak orang pandai menasihati, tetapi tidak pandai menasihati diri sendiri. Lebih mudah menjadi pembicara hebat daripada menjadi pendengar hebat. Lebih mudah berbicara daripada diam seribu bahasa. Terjadilah inflasi kata-kata. Karena, untuk menjadi pendengar hebat, butuh kesediaan dan kerelaan diri untuk menerima kebenaran dan kebaikan. Lalu, muncullah kesombongan. Arti sederhana dari sombong adalah menolak kebenaran. Mengabaikan nasihat kebaikan. Untuk itu, hindari dengan terus introspeksi agar tidak sampai lupa diri.

Dengan datangnya Idul Fitri, Anda move on-kan diri sepenuh hati menuju kemenangan. Saatnya Anda berhenti dari segala bentuk dusta dan kesalahan. Inilah substansi kemenangan. Mari Anda lebarkan diri membuka tali silaturahmi pada Syawal ini. Membuka hati untuk saling memaafkan atas segala kesalahan. Anda sudahi hal-hal yang membuat kotor rohani Anda.

Anda harus move on-kan “mind-body-soul” Anda kepada kebenaran Allah. Bukan kebenaran manusia atau kebenaran penguasa. Karena, sering kali di tangan penguasa, kebenaran tergadaikan. Mari sambut kemenangan Anda karena Anda pantas merayakannya. Wallahu A’lam.


Rewriter : Salimah
Sumber : republika.co.id

Komentar