PortalMadura.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar finansial global. Pada perdagangan Kamis (12/03/2026) siang, harga minyak mentah jenis Brent melonjak drastis hingga 10,5 persen menembus level US$100 per barel. Lonjakan harga energi ini berimbas langsung pada melemahnya aset kripto utama, Bitcoin.
Berdasarkan data pasar, Bitcoin sempat merosot hingga 2 persen dan tertahan di kisaran US$69.600. Sentimen negatif ini dipicu oleh laporan serangan terhadap dua kapal tanker minyak di perairan Irak, yang meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Sentimen Risk-Off dan Gejolak Timur Tengah
Kenaikan harga minyak yang sangat cepat memicu kondisi risk-off, di mana investor cenderung menghindari aset berisiko tinggi termasuk saham dan kripto. Konflik yang melibatkan Iran di wilayah Selat Hormuz menjadi perhatian utama, mengingat jalur tersebut merupakan urat nadi perdagangan minyak dunia.
Rachael Lucas, analis dari BTC Markets, menjelaskan bahwa volatilitas minyak dan ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan membuat investor lebih berhati-hati. “Kami memperkirakan adanya aksi ambil untung di level US$70.000 karena latar belakang makroekonomi tetap tidak stabil dalam jangka pendek,” ungkapnya.
Bitcoin Sebagai Lindung Nilai di Tengah Volatilitas
Meski sempat melemah, Bitcoin menunjukkan karakteristik unik sebagai aset likuid. Sejak ketegangan udara antara AS, Israel, dan Iran meningkat pada akhir Februari lalu, aset digital ini sempat menyentuh angka US$73.000 sebelum kembali terkoreksi. Banyak investor masih memandang Bitcoin sebagai instrumen lindung nilai yang memungkinkan mereka bergerak cepat sesuai kondisi pasar.
Di sisi lain, penguatan harga energi mendorong sebagian pedagang besar untuk beralih sementara ke dolar AS sebagai aset aman utama (safe haven).
Aktivitas ‘Whale’ dan Proyeksi Jangka Panjang
Meskipun pasar sedang tertekan, para pemegang Bitcoin skala besar atau yang dikenal sebagai “Whales” dilaporkan justru memanfaatkan momentum ini untuk melakukan akumulasi. Andreja Cobeljic, Kepala Perdagangan Derivatif di Amina Bank, mencatat adanya aktivitas pembelian yang konsisten di kisaran harga rendah.
- Suku Bunga Pendanaan: Mencapai level terendah dalam lima minggu terakhir, mengindikasikan potensi momentum kenaikan dalam jangka pendek.
- Akumulasi Whale: Teramati secara konsisten pada kisaran harga US$60.000-an sebagai basis dukungan kuat.
- Historis Pasar: Kondisi pendanaan negatif secara historis sering kali mendahului pengembalian (return) yang kuat dalam jangka panjang.
Kondisi pasar saat ini sangat bergantung pada perkembangan diplomasi di Timur Tengah. Meskipun ada sinyal mengenai berakhirnya konflik, gangguan lalu lintas di Selat Hormuz diprediksi masih akan membayangi pergerakan harga komoditas dan aset digital dalam beberapa pekan ke depan.





