PortalMadura.com – Tensi geopolitik yang meningkat di Timur Tengah telah memicu gangguan signifikan pada Selat Hormuz, menyebabkan efek domino berupa lonjakan inflasi global, pelemahan mata uang, serta perlambatan ekonomi dunia.
Selat Hormuz, jalur vital bagi 20 hingga 35 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia, kini mengalami disrupsi fungsional menyusul konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Akibatnya, harga minyak mentah Brent melonjak drastis, mencapai lebih dari US$100 per barel pada 8 Maret 2026 dan menembus US$112 per barel pada 19 Maret 2026.
Kenaikan harga energi ini secara langsung meningkatkan biaya logistik, transportasi, dan produksi di berbagai sektor industri, yang kemudian mendorong inflasi tinggi di banyak negara.
Badan Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD) serta Komisi Ekonomi Regional PBB (ESCAP) melaporkan bahwa prospek ekonomi Asia memburuk dengan cepat sejak krisis memuncak, meningkatkan inflasi dan melemahkan kepercayaan konsumen.
Di Laos, inflasi naik dari 6,2 persen pada Februari menjadi lebih dari 10 persen pada April 2026, sementara Pakistan mencatat lonjakan inflasi dari 7,3 persen menjadi 10,9 persen pada periode yang sama.
Kondisi serupa dialami Nepal, di mana nilai tukar 1 dolar AS mencapai 154,5 rupee pada 19 Mei 2026, hampir 10 rupee lebih tinggi dibanding awal Februari 2025, yang memperburuk biaya impor.
Pelemahan mata uang terjadi akibat kenaikan biaya impor, khususnya energi, serta peningkatan biaya pinjaman karena investor menilai ulang risiko pasar global.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi global diperkirakan melambat hingga 2,5 persen, jauh di bawah level sebelum pandemi Covid-19, dengan pertumbuhan ekonomi Asia Timur menurun dari 5 persen menjadi 4,4 persen pada tahun 2026.
Indonesia sebagai negara net importir minyak, menghadapi tekanan fiskal berat karena membengkaknya subsidi energi dan potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) domestik.
Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menyatakan bahwa penutupan Hormuz dapat memicu kenaikan harga BBM hingga 25 persen di Indonesia.
Pemerintah Indonesia bahkan mempertimbangkan kebijakan bekerja dari rumah (WFH) untuk aparatur sipil negara (ASN) dan swasta sebagai langkah mitigasi efisiensi konsumsi BBM.
Selain energi, rantai pasok global untuk komoditas lain seperti pupuk juga terancam terganggu, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur penting seperempat hingga sepertiga perdagangan bahan baku pupuk dunia.
Sektor penerbangan menjadi salah satu yang paling rentan, dengan maskapai di Eropa dan AS mulai memangkas ribuan jadwal penerbangan akibat tekanan biaya bahan bakar.
Di tengah ketidakpastian ini, emas kembali diminati sebagai instrumen lindung nilai, berpotensi mendorong kenaikan harga logam mulia tersebut.
Krisis yang berlarut-larut ini mengancam akan menurunkan konsumsi minyak global hingga 10 persen jika jalur pasokan vital tersebut tidak segera dibuka kembali, menurut Bloomberg pada 25 April 2026.
Analisis dari berbagai ahli menegaskan bahwa tanpa transformasi struktural di sektor energi, Indonesia dan banyak negara lain akan tetap rentan terhadap gejolak global seperti konflik di Selat Hormuz.





