Beberapa contoh token likuid dari liquid staking termasuk stETH dari Lido, bLUNA dari Anchor Protocol, dan rETH dari Rocket Pool. Cara kerja liquid staking melibatkan staking aset di platform tertentu dan menerima token derivatif sebagai gantinya. Token ini bisa dimanfaatkan di berbagai platform lain tanpa kehilangan manfaat staking, sehingga investor bisa tetap mendapatkan imbalan staking sambil memaksimalkan penggunaan aset mereka di ekosistem DeFi.
Keuntungan liquid staking antara lain akses likuiditas, potensi penghasilan tambahan melalui protokol DeFi, diversifikasi risiko, dan fleksibilitas tinggi dalam memindahkan aset. Hal ini membuat liquid staking menjadi pilihan favorit bagi investor yang ingin tetap mengoptimalkan aset mereka tanpa harus menunggu periode unstaking yang biasanya memakan waktu.
Salah satu perusahaan yang mendukung adopsi teknologi blockchain di Indonesia adalah Palapa melalui PT Global Karya Wisesa. Token Palapa (PLPA), yang dibangun di atas blockchain Ethereum dengan standar ERC-20, telah terdaftar resmi oleh Bappebti, memperkuat posisinya sebagai aset kripto yang dapat diperdagangkan di pasar Indonesia.