oleh

Mahalnya Kejujuran di Era Milenial

(Renungan Hari Agung Kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW)

Oleh: Mohammad Hafid

Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Sunan Giri Surabaya asal Pamekasan

Jujur saya sangat terengah dan sesak melihat fenomena keberadaan umat Islam diabad 21 ini. Kehidupan mereka penuh hoaks, pencintraan, dan kamuflase belaka.

Mereka seakan-akan tidak mengenal identitas dirinya sebagai umat Islam. Mereka hanyut dalam era keterbukaan seperti sekarang. Mereka tak peduli dirinya mau bertindak bagaimanapun yang penting bagi mereka adalah happy, menyenangkan serta mendapatkan kemanfaatan duniawi belaka.

Kejujuran sebagai nilai-nilai prinsipil kehidupan menjadi sesuatu yang sangat mahal dalam hidup mereka khususnya pada era yang dikenal dengan era milenia ini.

Terbukti, para pemuda dan pemudi sebagai generasi bangsa sudah tak lagi menganggap kejujuran sebagai sumber keselamatan dan kebahagiaan. Mereka lebih senang berkata bohong, menebar hoaks dan melakukan pencitraan semata, tanpa pikir akan kesesuaiannya dengan kata hati nurani.

Begitu pun juga, para pemimpin entah ia tokoh, kiai, pejabat sekalipun menganggap kejujuran sebagai sesuatu yang tak berguna. Lihatlah dengan seksama, era yang dipenuhi dengan banjirnya perkembangan tehnologi ini.

Dengan mudahnya mereka dikelabui oleh perkembangan yang diagung-agungkan. Akal budi, jiwa bijak dan hati nurani mereka dibiarkan tercuci oleh perkembangan.

Bagi mereka, perkataan dan tindakan sudah tak lagi penting dipikirkan. Apakah ia benar, jujur, ikhlas dan menebarkan keselamatan. Bahkan, lebih miris lagi, seringkali mereka menjadikan agama sebagai pancingan memikat kepentingan.

Internet dan smartphone yang menjadi branding perkembangan era sekarang menjadi bukti kuat mahalnya kejujuran dikalangan mereka. Betapa banyak ujaran kebencian bergentayangan di sosial media, jutaan fitnah/hoaks dalam setiap harinya menjadi santapan paling nikmat media sosial, dan kebohongan serta pencitraan juga tidak luput ambil bagian didalamnya.

Fenomena ini menjadi sebuah problem yang sangat perlu disadari agar tidak terus berlanjut. Karena jika kita tarik nafas dalam-dalam, kemudian kita melihat dengan akal sehat daan hati nurani kita akan menemukan sebuah keyakinan bahwa kejujuran itu sangat penting dalam kehidupan ini, karena ketenangan dan kebahagiaan bersumber dari kejujuran.

Maka dari itu, pada momen yang sangat penting ini marilah kita merenung sejenak, mengingat pesan-pesan Nabi Muhammad SAW akan urgensi dari sebuah kejujuran sebagai sebuah perayaan Hari Agung Kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Pengertian Kejujuran dan macamnya

Jujur secara sepintas bermakna tidak bohong, yaitu kesesuain antara perkataan dan realita. Tapi secara detail, jujur bisa diartikan kesesuaian antara niat, perkataan, tindakan dan sikap.

Kita dapat menyerderhanakan makna jujur dari pengertian diatas dengan keterbukaan, tidak menyalahi apa yang seharusnya dikatakan dan dilakukan, menyuarakan perbuatan hati dan bersikap sesuai dengan hati nurani. Sehinga, tepatlah jika kejujuran memang betul-betul menyelamatkan seseorang selamanya, sesuai dengan pepatah “Kejujuran menyelamatkanmu selamanya sedang kebohongan menyelamatkanmu hanya sesaat” karena seseorang yang jujur tidak tertekan, berbeda dengan seseorang yang berbohong ia tertekan dan terjajah akibat dari menyembunyikan sesuatu.

Sesuai dengan pengertian diatas jujur itu tidak hanya satu macam. Ada yang disebut jujur dalam niat serta keyakinan, dengan menjadikan perkataan dan perbuatan hanya untuk Allah semata.

Kejujuran itu juga bisa dalam sebuah perkataan, dimana perkataan betul-betul sama dengan realita yang ada, tidak mengada-ngada alias menyebarkan hoaks.

Kejujuran juga dapat berwujud dalam perbuatan, bilamana perbuatan menjadi cerminan dari yang sebenarnya, bukan malah munafik dan pencitraan yang hanya manis diluar sedang dalamnya bobrok.

Pesan-pesan Nabi Tentang Wajibnya Kejujuran

Wajibnya sebuah kejujuran dalam kehidupan manusia terlihat dalam sabda-sabda Nabi Muhammad SAW. Ada banyak sabda yang beliau ketengahkan terkait kejujuran. Namun penulis disini tidak ingin menyampaikannya secara detail.

Penulis hanya ingin memberikan gambaran umum saja sebagai berikut:

Pertama, perintah untuk berbuat jujur. Hadits yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhori dan Muslim. Dalam riwayat ini Nabi Muhammamd SAW mewajibkan kejujuran dan melarang kebohongan.

Kejujuran diperintahkan, karena menurut beliau, kejujuran merupakan kebaikan yang dapat mendatangkan kenyamanan serta surga. Kebohongan dilarang, karena ia bentuk dari kejahatan yang dapat melahirkan kesengsaraan serta neraka.

Kedua, hadits yang menegaskan manfaat kejujuran. Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa kejujuran sangat menenangkan sedang kebohongan dapat menggelisahkan dan meresahkan. Hadis ini diriwayatkan oleh Imamal-Turmudzi dan Imam Ahmad.

Kejujuran dapat menenangkan karena secara psikologi seseorang yang jujur tidak dihantui ketakutan. Ia bebas dan merdeka dari tekanan. Berbeda dengan orang yang melakukan kebohongan, ia resah dan gelisah karena ia menyimpan bobrok yang selalu menekan untuk ditutupi.

Ketiga, hadits yang berbicara tentang pentingnya sebuah kejujuran dalam segala situasi. Rasul SAW menegaskan keharusan berlaku jujur dimanapun dan dalam kondisi apapun bahkan sekalipun luarnya terkesan adanya kehancuran.

Beliau juga, mewanti-wanti agar menjauhkan diri dari kebohongan sekalipun didalamnya terkesan ada keselamatan. Hadits ini diriwayatkan oleh Abi al-Dunya.

Dalam riwayat lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan al-Turmudzi, Rasul hanya memperboleh tiga bentuk kebohongan, yaitu kebohongan seorang suami terhadap istrinya yang bertujuan menyenangkan, kebohongan dalam peperangan dan kebohongan untuk mencegah pertikaian.

Namun, sekalipun ketiga bentuk kebohongan ini diperbolehkan, namun bukan anjuran, tapi hanya sebagai jalan terakhir setelah tidak ditemukannya solusi lain.

Keempat, hadits yang memberikan pencerahan agar selalu setia pada hati nurani. Beliau SAW menanggapi pertanyaan salah satu sahabatnya tentang kebaikan dan dosa, dengan menyuruhnya untuk melihat hati nurani, karena kebaikan membuat ketenangan jiwa sedang keburukan dan dosa dapat menjadikannya jiwa berada dalam kegelisahan dan kebimbangan.

Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat hati nurani yang selalu saja dalam kejujuran, polos dan penuh keterbukaan. Maka tidaklah salah jika kita sering mendengar kata-kata bahwa hati tidak pernah berbohong.

Ada beberapa tips untuk melatih kejujuran agar kita betul-betul membumikannya dalam kehidupan yang sangat menantang ini, pertama, memantapkan hati untuk selalu ikhlas dan jujur dalam memulai segala sesuatu.

Kedua, membersihkan hati dan pikiran dari segala penyakit dengan cara banyak berzikir dan mengingat Allah SWT. Ketiga, konsultasikan segala perkataan dan tindakan pada hati nurani yang terdalam dan dengarkanlah fatwanya.

Keempat, yakinkan diri bahwa kejujuran merupakan jalan keselamatan dan kebahagiaan. Terakhir, biasakan jujur pada diri sendiri, keluarga dan masyrakat dalam segala hal.

(Artikel ini disarikan dari buku Selalu Ada Jawaban Selama Mengikuti Akhlak Rasulullah, karya Dr. Muhbib Abd. Wahab MA.)(*)