PortalMadura.com, Jakarta – Dixon Marcello dan Sulthan Atha Muhammad, mahasiswa dari STIE BMIT dan UPN Veteran Jawa Timur, melihat peluang besar dalam mengolah sampah plastik menjadi produk bernilai tinggi. Dengan semangat keberlanjutan, mereka merintis Fure, merek furniture berbasis material daur ulang yang semakin berkembang. Bimbingan dari program Sociopreneur Journey yang diadakan oleh MAXY Academy dan TBN Indonesia membantu mereka memahami strategi bisnis sosial yang berdampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.
Fure berawal dari keingintahuan mereka terhadap harga jual limbah plastik saat berinteraksi dengan para pengepul sampah. Terinspirasi oleh Brothersmake, mereka mulai bereksperimen dalam program WMK di Universitas Ciputra. Awalnya, mereka hanya memproduksi dekorasi kecil seperti tatakan gelas, tetapi respons pasar yang baik mendorong mereka untuk mengembangkan bisnis ini lebih serius. Kini, Fure telah memperluas lini produknya dan menjangkau pasar lebih luas.
Selain menghasilkan produk berkualitas, Fure juga memiliki misi sosial dengan berkontribusi pada pencapaian SDGs, terutama dalam mengentaskan kemiskinan. Mereka melibatkan masyarakat dalam produksi dan distribusi, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan komunitas lokal. CEO MAXY Academy, Isaac Munandar, menilai Fure sebagai contoh bisnis sosial yang mampu membawa perubahan nyata dalam pengelolaan limbah.
Fure membuktikan bahwa furniture ramah lingkungan tidak harus mengorbankan desain maupun fungsionalitas. Dengan menggunakan bahan daur ulang berkualitas tinggi, mereka ingin menunjukkan bahwa industri furniture bisa berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan. Lebih dari sekadar bisnis, Fure adalah sebuah gerakan yang mendorong perubahan positif dan berkelanjutan bagi masyarakat.