oleh

MH Said Abdullah Sempat Jadi Tukang Cuci Mobil & Sales Kripik Tempe

PortalMadura.Com, Sumenep – Perjalanan karir politik MH Said Abdullah ternyata tidak semudah membalikkan tangan. Pria kelahiran Sumenep, Senin, 22 Oktober 1962 sempat menjadi tukang cuci mobil dan sales kripik tempe sebelum menjadi wakil rakyat di DPR RI dari daerah pemilihan (Dapil) Madura.

Namun, semangat dan istikomahnya mendalami dunia politik sudah tertanam sejak usia sekolah menengah atas. Alumni SMAN I Sumenep ini, secara de fakto sudah menjadi ketua salah satu organ politik segi tiga banteng, yakni Pemuda Demokrat DPC Sumenep ketika duduk di kelas 2 SMA.

Aliran darah dunia politik bapaknya mengalir, maka sejak kelas 3 SMA sudah dipercaya untuk memangku jabatan sekretaris DPC PDI (Partai Demokrasi Indonesia) dan Ketua Majelis Muslimin Indonesia. “Dari sini, awal saya memulai karir politik praktis dan sampai 2014 ini sudah lebih separuh umur saya mengeluti dunia politik,” kata Said, Selasa (1/4/2014).

Ia semakin aktif di dunia politik setelah lulus SMA pada tahun 1984. Persahabatan dengan Megawati Soekarno Putri (Kala itu Mega DPC Jakarta Selatan) semakin memantapkan dirinya untuk lebih mendalami dunia politik. Hingga akhirnya pada tahun 1986 atau di usia 23 tahun terpilih menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Partai (MPP) Pusat dan termuda se Indonesia.

Ia pun memutuskan untuk menetap di Jakarta. Usai Pemilu tahun 1987 menjadi staf ahli wakil ketua DPR RI di bidang Polkam. “Pada masa itu, yang membentuk karakter politik saya, yakni dari tahun 1982 sampai 1988. Baru bisa mulai mandiri di dunia politik pada awal tahun 90-an,” terangnya.

Karakter politiknya yang mulai matang, ditandai dengan membentuk jaringan ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Meski awalnya tidak pernah bermimpi untuk menjadi wakil rakyat di senayan, karena pertimbangan kemampuan akademik yang hanya lulusan SMA. Namun, partai justru mendesak mengamanatkan.

Loading...

“Keinginan saya menjadi wakil rakyat ditingkat kabupaten. Waktu itu, mau ambil dapil Cilacap atau asal kelahiran istri. Tapi, DPP justru mengamanatkan di DPR RI Dapil Madura. Karena perintah partai, saya jalani meski saat itu butuh perjuangan yang keras dan perlu meyakinkan pada publik,” ujarnya.

Dalam perjalanan hidup alumni, SDN 1 Kepanjin Sumenep ini juga tak lepas dari suka duka kehidupan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia mengaku pernah menjadi tukang cuci mobil selama 7 bulan, dan menjadi sales kripik tempe pada tahun 1989. “Saya juga harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jadi tukang cuci mobil dan menjadi sales kripik tempe pernah saya rasakan,” bebernya.

Pahit manisnya hidup selama di Jakarta menjadi cambuk untuk terus berkarya. Bintang kelas yang selalu diraih sejak dibangku sekolah juga dibuktikan, hingga akhirnya pernah mendapatkan gaji Rp 68 juta per bulan.

“Saya sempat mengeluti bisnis batu bara yang setiap tahunnya mampu memasok 300 ribu ton. Gaji saya pada tahun 1997, mencapai Rp 69 juta. Pikiran sederhana, ngapain harus jadi anggota dewan yang gajinya waktu itu hanya Rp 4,2 juta. Sehingga saya sempat menolak pada ibu Mega untuk nyalek ,” ucapnya.

Ia baru memutuskan untuk menjadi caleg dari dapil Madura pada tahun 2009. “Saya mencoba meyakinkan publik, akhirnya 2009 dapat kursi di senayan,” terangnya.

Di tahun politik ini, ia juga mengajukan untuk dicoret dari pencalegan. Namun, DPP masih tetap menginginkan tetap maju dari dapil Madura. “Secara pribadi, saya tetap butuh masukan dari masyarakat Madura agar tahun 2014 ini lebih bisa mengabdikan diri untuk masyarakat Madura,” tandas alumni SMP Ma’arif Sumenep ini.(htn)



Komentar