oleh

Menolak Disebut Sejarawan Meski Ibarat Buku Sejarah Berjalan

Raden Panji Abdul Hamid Mustari Cakraadiningrat

PortalMadura.Com, Bangkalan – Dalam otaknya tertanam fakta-fakta sejarah Kerajaan Madura Barat yang tak ragu diungkap. Di hati nuraninya terpatri tekad dan semangat terus menyalakan obor sejarah Bangkalan. Baginya, sejarah adalah jejak peradaban yang berperan penting menuntun pada kehidupan saat ini.

Gempur Rokok Ilegal Pemkab Sumenep

BACA : Jelang Liga 3 Jatim 2021, Madura FC Masih Butuh Empat Laga Uji Coba

Usianya telah menginjak 72 tahun. Langkahnya mulai terlihat gontai, tatapan matanya tak lagi tajam, nada suaranya masih terdengar nyaring walau kadang bergetar. Status pegawai negeri sipil juga telah ia tanggalkan. Namun di balik itu ia ibarat buku berjalan, yang selalu jadi tempat bertanya dan berdiskusi banyak orang.

Pepatah Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China memang berlaku bagi Raden Panji Abdul Hamid Mustari Cakraadiningrat. Kacamata menjadi alat bantu mendalami isi dan makna buku, literatur, maupun dokumen sejarah lainnya. Proses pendalaman sejarah tak pernah berhenti diselami.

Tak hanya dari bukti tertulis, juga lewat cerita para sesepuh maupun interaksi dengan orang-orang yang dianggapnya mengerti sejarah. Proses yang berbanding lurus dengan kesibukan barunya sebagai “pelayan” bagi mereka yang awam perihal Kerajaan Madura Barat, di mana salah satu fasenya ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Bangkalan.

“Saya merasakan kepuasan batin setelah bertahun-tahun mendalami sejarah, khususnya Kerajaan Madura Barat. Selain faktor leluhur, budaya di era tersebut masih relevan diterapkan di era sekarang. Itulah salah satu poin penting yang bisa diambil, selain faktor ketokohan dan jiwa patriotisme yang telah ditunjukkan para leluhur,” terang RP. Hamid, pada PortalMadura.Com beberapa waktu lalu.

Anehnya, meski menguasai sejarah dan budaya Kerajaan Madura Barat, pria yang mengakhiri karir pegawai negeri sipil di Dinas Pertambangan dan Energi Bangkalan (2001-2003) ini tak mau disebut sejarawan. Ia lebih ingin diposisikan sebagai pemangku adat garis keturunan Kesultanan Bangkalan, yang jadi episode terakhir Kerajaan Madura Barat sebelum akhirnya dibubarkan Belanda pada 22 Agustus 1885.

“Terlalu berat menyandang sebutan sejarawan. Cukup pemerhati sejarah dan budaya saja. Saya yakin masih ada yang bisa menceritakan lebih detail tentang sejarah dan budaya, yang tak hanya menyangkut Kerajaan Madura Barat saja,” ujar pria yang akrab disapa Kai’ Hamid atau Abah Hamid ini.

Dilihat dari silsilah, RP. Hamid tergolong anak keturunan Kesultanan Bangkalan. Ia termasuk generasi keenam dari mendiang Sultan Raden Abdul Kadirun. Beliau adalah raja ke-11 Kerajaan Madura Barat, atau raja kedua dalam pemerintahan Kesultanan Bangkalan dengan gelar Sultan Raden Abdul Kadir Cakraadiningrat II. Masa kepemimpinan beliau berlangsung selama 32 tahun (1815-1847).

Bagi kakek dari sembilan … Selengkapnya

Dapatkan Berita terbaru dari kami via Telegram

Komentar