oleh

Misteri Alquran Kuno Tulisan Tangan di Pulau Giliyang Sumenep

PortalMadura.Com, Sumenep – Pulau Giliyang, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, yang dijadikan salah satu destinasi wisata unggulan oleh pemerintah daerah setempat, menyimpan banyak misteri dan sejarah serta keunikan tersendiri.

Salah satunya, sebuah mushaf Alquran kuno hasil tulisan tangan pada kertas kayu yang masih terselamatkan. Saat ini, Alquran tersebut ada di rumah, Tolak Ani, istri dari kepala dusun (Kadus) Kalompang, Desa Banraas, Pak Salam.

Dalam salah satu lembaran Alquran tersebut, dengan menggunakan tulisan Arab disebutkan penulisnya, adalah Kiai Si’im bin Simati. Asal rumah si penulis yakni Pantai Ropet.

Lokasi Pantai Ropet ada diujung timur Pulau Giliyang, tepatnya di Desa Banraas. Sayangnya, warga setempat tidak ada yang tahu siapa sebenarnya Kiai Si’im bin Simati tersebut.

“Asal usul penulis Alquran itu tidak ada yang tahu. Yang jelas, ia seorang pertapa dan diperkirakan hidup pada periode atau generasi ketiga sejak pembabatan Pulau Giliyang,” kata salah seorang warga setempat, Ahyak Ulumuddin (41), pada PortalMadura.Com, Sabtu (3/6/2017).

Menurut legenda, pertama kali, Pulau Giliyang dibabat pada tahun 1668 masehi oleh dua pemuda, yakni Andang Taruna dan Jaya Prana yang disebut-sebut berasal dari Binangko, Sulawesi Selatan.

Sayang, Andang Taruna wafat sekitar tahun 1672 masehi, atau tiga tahun setelah pembabatan Giliyang. Dan adiknya, Jaya Prana yang suka merantau, pergi ke wilayah Jawa.

Sekitar tahun 1766 masehi, datang lagi seorang ulama besar dari daerah yang sama, yakni Makassar, Sulawesi Selatan. Ia bernama Daeng Karaeng Masalle yang lahir tahun 1715 masehi di Makassar dan wafat tahun 1793 Masehi di Giliyang.

Datangnya Daeng Karaeng Masalle ini, bertepatan dengan kepemimpinan keraton Sumenep dipundak Asiruddin atau Panembahan Sumolo yang mendapat gelar Pangeran Notokusumo I. Asirudin memimpin Sumenep dari tahun 1762 masehi sampai tahun 1811 masehi.

Baca: Ini Keajaiban Alquran Kuno Tulisan Tangan

Dari tahun wafatnya Andang Taruna hingga datangnya Daeng Karaeng Masalle yang mendapat julukan K. Sora Laksono, ada jarak waktu hingga 94 tahun.

Dari jarak waktu yang cukup lama tersebut, diperkirakan dakwa dilanjutkan oleh Juk Zamzam yang merupakan periode kedua sejak pembabatan Pulau Giliyang. Juk Zamzam adalah pengikut setia Andang Taruna.

Setelah Juk Zamzam atau pada periode ketiga, dakwa Islam diperkirakan dilanjutkan oleh Kiai Si’im bin Simati yang merupakan penulis Alquran kuno tersebut. “Dan Alquran itu sangat dikeramatkan oleh warga Pulau Giliyang,” tutup Ahyak Ulumuddin.

Pembabat Pulau Giliyang :

Periode I : Andang Taruna dan Jaya Prana (kakak beradik datang tahun 1668 masehi dan Andang Taruna wafat tahun 1672 masehi).
Periode II : Juk Zamzam (Pengikut setia Andang Taruna).
Periode III: Kiai Si’im bin Simati (Penulis Alquran 15 juz).
Periode IV: Daeng Karaeng Masalle (Datang tahun 1766 – wafat di Giliyang tahun 1793).

(Hartono)