oleh

Novel JPURT, Perjuangan dan Nilai Pendidikan

Novel Jpurt karya Putu Wijaya ini menceritakan tentang seorang bapak yang bernama Pak Amat. Ia adalah seorang masyarakat biasa yang sangat menjunjung tinggi nasionalisme.

Pak Amat tinggal bersama dengan istrinya yang bernama Bu Amat dan seorang anak putrinya yang bernama Ami. Ami adalah seorang anak gadis yang mempunyai paras cantik dan ia mempunyai pemikiran yang modern.

Pak amat sangat tidak menyukai sikap pemerintah yang mencari keuntungan politik dalam musibah bencana alam yang terjadi di Aceh. Pemerintah yang mementingkan politik daripada musibah yang terjadi pada saudara-daudara kita di Aceh, membuat Pak Amat menulis sebuah kritikan-kritikan dan tidak sengaja didengar oleh salah satu wartawan.

Akhirnya wartawan tersebut tertarik untuk membuat kritikan-kritikan Pak Amat dimuat di koran. Setelah membaca unek-unek Pak Amat tersebut, banyak masyarakat yang ingin menyumbang dan memberi bantuan kepada saudara-saudara yang ada di Aceh, termasuk juga para pejabat-pejabat pemerintah yang ikut membantu.

Perjuangan Pak Amat demi menyadarkan masyarakat yang memiliki pandangan berbeda-beda terhadap kemerdekaan dan makna dari kemerdekaan itu sendiri.

Pak Amat yang hatinya sangat miris melihat masyarakat di sekitarnya lebih mementingkan untung dan ruginya mengikuti hari perayaan kemerdekaan itu akhirnya bertindak dengan mengumpulkan para warga kampung untuk membicarakan masalah hari kemerdekaan tersebut agar masyarakat sadar betapa pentingnya kita mengikuti atau merayakan hari kemerdekaan itu karena kita sebagai masyarakat Indonesia wajib menghargai jasa para pahlawan kita yang tekah gugur demi mempertahankan Indonesia dan perjuangan para pemuda terdahulu yang dengan sangat bersemangat mempertahankan Indonesia demi Indonesia merdeka, walaupun itu dengan taruhan nyawa mereka.

Seiring dengan perkembangan jaman, banyak masyarakat yang kurang paham tentang apa arti dari kemerdekaan di dalam diri mereka. Mereka hanya bisa melontarkan kata-kata tanpa memikirkan bagaimana orang-orang terdahulu, mereka para pemuda yang memperjuangkan kemerdekaan dengan taruhan jiwa raga mereka.

Tetapi saat ini malah sebaliknya para pemuda jaman sekarang jika disuruh untuk melakukan kegiatan kemerdekaan, kebanyakan dari mereka lebih memikirkan untung dan ruginya mengikuti sebuah acara kemerdekaan tersebut pada diri mereka.

Nilai pendidikan yang terkandung dalam novel JPRIT ini yaitu Pak Amat selalu mengajarkan anaknya yaitu Ami untuk selalu bersyukur, selalu ramah kepada orang, rendah hati dan selalu tolong menolong tanpa mengaharapkan imbalan dari sesorang itu.

Bencana alam tsunami yang terjadi di Aceh membuat Ami berkeinginan pergi ke Aceh untuk membantu para korban bencana di sana. Akan tetapi, Pak Amat melarangnya pergi karena takut hal yang tidak diinginkan terjadi pada Ami.

Pak Amat menasihati Ami agar dia mengerti maksud Pak Amat melarangnya untuk pergi ke sana walaupun sebenarnya niat Ami sangat baik untuk membantu masyarakat di sana.

Dalam hal ini unsur yang digunakan dalam menganalisis novel yang berjudul JPURT karya Putu Wijaya yaitu unsur intrinsik: tema, tokoh, penokohan, alur, gaya bahasa, setting, sudut pandang dan amanat.

Tema yang terdapat dalam novel yang berjudul JPURT karya Putu Wijaya yaitu perjuangan, karena menceritakan tentang tokoh Pak Amat yang sangat menjunjung tinggi nasionalisme dan sangat menentang pemerintah yang tidak baik serta Pak Amat sangat ingin mempertahankan Bintang Gerilya miliknya yang sudah betahun-tahun dijaganya.

Loading...

Dalam novel JPURT ini ada 4 tokoh yaitu Pak Amat, Bu Amat, Ami dan Pak Alit. Penokohan dalam novel yaitu tokoh Pak Amat adalah seorang ayah yang sangat menyayangi anaknya yaitu Ami, ia adalah orang yang mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi, baik hati, dan suka menolong.

Tokoh Bu Amat adalah seorang ibu yang penyayang, baik hati dan sangat cerewet. Tokoh Ami adalah seorang anak gadis cantik yang baik hati, penyayang, suka menolong dan mempunyai pemikiran yang modern.

Tokoh Pak Alit adalah seorang warga yang menjabat sebagai ketua kebersihan lingkungan, ia mempunyai sikap yang baik dan sangat sabar. Alur pada novel JPURT ini menggunakan alur Maju, karena menceritakan kelanjutan cerita pada novel yang berjudul JPURT karya Putu Wijaya.

Adapun gaya bahasa yang digunakan pada novel ini yaitu bahasa yang digunakan sulit untuk dipahami karena ada beberapa kata yang menggunakan bahasa yang tinggi.

Terdapat setting pada novel yaitu setting tempat, suasana dan waktu. Setting tempat pada novel JPURT yaitu di rumah Pak Amat, di meja makan, di kamar Ami, di lingkungan kampung dan balai desa.

Setting suasananya yaitu menyenangkan dan mengharukan karena menceritakan tentang pemerintah yang lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada masyarakat yang mengalami musibah bencana tsunami di Aceh.

Setting waktu yang ada pada novel tersebut yaitu pada pagi hari, pukul 10.00, sore hari, pukul 00.00, tahun baru, tanggal 26 Desember dan hari minggu.

Sudut pandang yang digunakan pada novel JPURT yaitu sudut pandang orang ketiga, karena dalam menceritakan novel tersebut menyebutkan nama tokoh. Adapun amanat yang tepat untuk novel JPURT yaitu jangan menyalahgunakan kekuasaaan untuk hal yang merugikan masyarakat bawah yang lebih membutuhkan.

Dalam novel yang berjudul JPURT karya Putu Wijaya ini menggunakan pendekatan anilitis. Pendekatan analitis menurut Aminuddin (2014) yaitu salah satu pendekatan yang berusaha memahami gagasan, cara pengarang menampilkan gagasan atau mengimajikan ide-idennya, sikap pengarang dalam menampilkan gagasan-gagasannya, elemen intrinsik dan mekanisme hubungan dari setia elemen intrinsik itu sehingga mampu membangun adanya kesalarasan dan kesatuan dalam rangka membangun totalitas bentuk maupun totalitas maknanya.

Peristiwa tentang politik mengisahkan tentang Bintang Gerilya yang ditawar oleh salah satu seorang kolektor dengan jumlah harga yang sangat tinggi yaitu sebesar lima belas miliyar rupiah.

Tokoh Pak Amat adalah seorang ayah yang sangat mencintai dan sangat menyayangi anaknya yang bernama Ami. Ia mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi dan sangat tidak suka dengan sikap pemerintah yang lebih mementingkan diri sendiri dibandingkan dengan masyarakat.

Pemerintah tidak peduli akan kehidupan masyarakat kalangan bawah dan Pak Amat sangat tidak menyukai hal tersebut. Akhirnya Pak Amat membuat sebuah kritikan-kritikan dan dimuat disalah satu koran.

Saat Bintang Gerilya milik Pak Amat ditawar oleh seorang kolektor dengan harga yang tinggi dan Pak Amat tidak ingin menjualnya karena ia teringat akan nasionalisme serta perjuangan para pemuda terdahulu yang berjuang dengan taruhan nyawa untuk meraih kemerdekaan.(*)

Penulis : Luh Putu Ema Noviyanti
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.



whatsapp share top ten article
Loading...
Loading...

Komentar