oleh

Nurfitriana : Pembangunan sektor pariwisata itu untuk masyarakat Sumenep

PortalMadura.Com, Sumenep – Program tahun kunjungan wisata (Visit Sumenep 2018), mulai dijalankan oleh pemerintah daerah setempat. Salah satunya, even Sumenep Mengukir.

Sedikitnya 42 even yang akan digelar sepanjang tahun 2018. Namun, tidak sedikit di antara warga Sumenep, Madura, Jawa Timur, yang masih bertanya-tanya, untuk siapa pembangunan dan pengembangan pariwisata Sumenep?.

Pertanyaan itu memantik Istri Bupati Sumenep, Nurfitriana Busyro Karim untuk menjelaskan. “Tentu untuk masyarakat Sumenep,” tegas Fitri, sapaan akrab Nurfitriana, pada PortalMadura.Com, via telepon, Kamis (8/2/2018).

Bahkan, ketua hijaber Sumenep ini mengaku siap all out di dunia industri pariwisata Kabupaten Sumenep demi kesejahteraan masyarakat Sumenep.

“Menggerakkan dunia pariwisata itu memang tidak mudah, tetapi dengan menghidupkan dunia pariwisata, maka sedikitnya ada 185 sektor ekonomi lainnya yang ikut bangkit,” kata Fitri.

Dalam Undang-undang Pariwisata No. 10 Tahun 2009, disebutkan bahwa industri pariwisata adalah kumpulan usaha pariwisata yang saling terkait dalam rangka menghasilkan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam penyelenggaraan pariwisata.

Menurutnya, dengan pembangunan dan pengembangan dunia wisata, otomatis ekonomi masyarakat sekitar akan bangkit. Dan tidak hanya dilakukan oleh sekelompok orang tertentu, tetapi dapat dilakukan oleh semua warga Sumenep.

“Misalnya, sekali kita berlibur ke tempat wisata, sudah jelas kita butuh tiket, kuliner, penginapan, alat transportasi. Belum lagi yang menggunakan pesawat, ada breakfast, layanan antar jemput, persewaan mobil, kita juga butuh oleh-oleh dan kebutuhan lainnya. Ini sudah jelas menyokong ekonomi masyarakat dari berbagai sisi,” urainya.

Dunia Pariwisata Dinamis

Tebing Bagian Timur Pulau Giliyang
dok. Tebing Bagian Timur Pulau Giliyang

Nurfitriana Busyro Karim menegaskan, dunia pariwisata itu sangat dinamis dan pola pikir kaula muda-mudi sekarang berbeda dengan tempo dulu. “Dulu mereka berfikir menabung untuk beli sesuatu, sekarang tidak semuanya untuk ditabung. Tentu sebagian untuk berlibur ke tempat wisata,” katanya.

“Pengalaman itu jauh lebih penting bagi mereka. Otomatis, mereka akan berkunjung ke tempat-tempat wisata untuk mencari dan menambah pengalaman. Dengan pola pikir dan kebutuhan mereka itulah kita sambut kedatangan mereka di wisata Sumenep,” ujarnya dengan nada semangat.

Dikatakan, dunia pariwisata itu sangat dinamis dan tidak akan pernah berhenti selama dunia ini masih bergerak dan sifatnya berbeda dengan kekayaan alam lainnya.

Ia mencontohkan kekayaan alam yang tidak berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat sekitar, yakni eksplorasi alam yang dilakukan PT Freeport Indonesia di daerah dataran tinggi Kabupaten Mimika, Provinsi Papua.

Loading...

“Di sana, kekayaan alamnya luar biasa. Tapi apa yang terjadi, apakah warga sekitar terlibat langsung. Bagaimana dengan kesehatan warga sekitar. Malah informasi terakhir, mereka mengalami gizi buruk. Itu artinya, masyarakat sekitar tidak terlibat, kalau kekayaan alamnya sudah habis ditambang, para pengusaha itu akan pergi,” katanya.

Berbeda dengan industri dunia pariwisata yang terus berkembang dan dampak positifnya dapat dinikmati oleh semua masyarakat. Sehingga kreasi yang inovatif terus dibutuhkan. “Di sinilah peran semua pihak sangat dibutuhkan untuk pembangunan dan pengembangan dunia pariwisata Sumenep,” tandasnya.

Sumenep Perlu Belajar Pariwisata

Kunjungan Nurfitriana bersama pejabat Pemkab Sumenep ke Lombok (Foto, Istimewa)

Beberapa waktu lalu, sejumlah pejabat dan elemen lainnya berkunjung ke Lombok Barat. Tujuannya, mereka belajar pengelolaan dan pengembangan pariwisata demi masyarakat Sumenep.

“Sumenep memang perlu terus belajar tentang dunia pariwisata. Salah satunya, ya ke Lombok,” terang Nurfitriana.

Dipilihnya Lombok bukan karena ada kedekatan atau hubungan emosional Nurfitriana yang merupakan tempat kelahirannya. Namun, menurut dia, karena ada kesamaan kultur antara Sumenep dengan masyarakat Lombok.

Selain itu, destinasi wisata Lombok sudah go Internasional dengan predikat World’s Best Halal Tourism Destination dan World’s Best Halal Honeymoon Destination.

“Jadi, pengembangan industri pariwisata itu tidak harus selalu dipandang negatif. Masyarakat Lombok itu agamis, tidak jauh berbeda dengan masyarakat Madura, khususnya Sumenep. Lombok juga dikenal dengan negeri seribu masjid,” terangnya.

Bahkan, kata Nurfitriana, banyak tuan guru (sebutan lain, kiai) yang banyak jadi pemimpin. Mereka justru menjadi penggerak industri pariwisata demi kesejahteraan masyarakatnya.

“Kita memang tidak akan pernah mencontoh Lombok. Dan Sumenep jangan sampai sama dengan Lombok, karakter Sumenep ya tetap Sumenep. Dan Sumenep jangan sampai sama dengan wisata Bali,” tandasnya.

Kunjungan ke Lombok bagian dari usaha pemerintah Kabupaten Sumenep untuk mempelajari dan mengambil hikmah dari perjuangan masyarakatnya dan pemerintahan di Lombok dalam mengembangkan dunia pariwisata.

“Kalau Lombok harus menghabiskan 30 tahun baru menjadi seperti sekarang. Sumenep jangan sampai 30 tahun la dalam membangun industri pariwisata,” ucapnya.

Ia pun berharap, masyarakat Sumenep terus bergandengan tangan untuk kemajuan demi kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Dan sebagai istri orang nomor satu di bumi Sumekar, ia mengaku siap all out di industri pariwisata bersama masyarakat Sumenep yang memegang teguh kultur dan agama. (Hartono)



Komentar