oleh

Pendapatan Hampir Setengah Penduduk Dunia Hanya USD5,5 per Hari

PortalMadura.Com, Jakarta – Meskipun perekonomian dunia mengalami kemajuan, namun hampir setengah atau 46 persen dari populasi dunia atau sekitar 3,4 miliar penduduk dunia hidup dengan pendapatan hanya USD5,5 per hari (Rp83.600 dengan kurs Rp15.200 per dolar AS).

Bank Dunia mengatakan standar penghasilan USD5,5 per hari mencerminkan pendapatan minimal di Negara-negara berpenghasilan menengah ke atas.

Sementara itu, sekitar 1,9 miliar penduduk atau 26,2 persen dari populasi dunia hidup dengan penghasilan kurang dari USD3,2 per hari (Rp48.640 dengan kurs Rp15.200 per dolar AS). Rata-rata mereka adalah penduduk di Negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah.

Bank Dunia menyebut dalam laporan Poverty and Shared Prosperity Report: Piecing Together the Poverty Puzzle, setengah dari populasi dunia tersebut masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasarnya untuk hidup layak.

Presiden Grup Bank Dunia Jim Yong Kim dalam keterangan resminya, Rabu, mengatakan pihaknya tetap berkomitmen untuk mencapai tujuan mengakhiri kemiskinan ekstrem, yang didefinisikan sebagai hidup dengan pendapatan kurang dari USD1,90 per hari (Rp28.880 dengan kurs Rp15.200 per dolar AS) pada tahun 2030.

Pangsa populasi dunia yang hidup dalam kemiskinan ekstrim, berdasarkan data Bank Dunia, sudah turun menjadi 10 persen pada tahun 2015. Tetapi laju penurunan kemiskinan ekstrim saat ini cenderung melambat.

Bank Dunia menyebut pertumbuhan ekonomi dunia saat ini membuat banyak penduduk miskin dunia tinggal di Negara kaya. Penambahan batas garis kemiskinan dan perluasan pemahaman tentang kemiskian menurut Kim, menjadi krusial untuk melawan kemiskinan secara menyeluruh

“Mengakhiri kemiskinan ekstrem pada tahun 2030 dan meningkatkan kemakmuran bersama adalah tujuan kami, dan kami tetap berkomitmen untuk itu,” kata Kim. dilaporkan Anadolu Agency, Rabu (17/10/2018).

Pada saat yang sama, lanjut dia, Bank Dunia juga dapat mengambil pandangan yang lebih luas tentang kemiskinan pada tingkat dan dimensi yang berbeda di seluruh dunia.

“Pandangan ini mengungkapkan bahwa kemiskinan lebih luas dan mengakar, menggarisbawahi pentingnya berinvestasi pada manusia,” imbuh Kim.

Meskipun tingkat kemiskinan ekstrem telah menurun secara substansial dari 36 persen pada tahun 1990, perluasan penelitian tentang kemiskinan dalam laporan tersebut menunjukkan besarnya tantangan dalam memberantasnya.

Laporan Bank Dunia juga melampaui ukuran-ukuran kemiskinan untuk memahami bagaimana akses terhadap air dan sanitasi, pendidikan, atau listrik yang memadai mempengaruhi kesejahteraan keluarga.

Dan karena beban kemiskinan paling banyak seringkali menimpa perempuan dan anak-anak, laporan tersebut juga menganalisis bagaimana kemiskinan dapat bervariasi dalam rumah tangga.

Laporan ini juga menemukan bahwa 40 persen penduduk dengan pendapatan termiskin berada di 70 dari 91 Negara yang dipantau.

Di sisi lain, lebih dari setengah penduduk dunia memiliki pendapatan yang tumbuh lebih cepat daripada rata-rata pertumbuhan ekonomi. Namun, kemajuan dalam berbagi kemakmuran masih tertinggal di beberapa wilayah di dunia.

Laporan itu juga memperingatkan bahwa perlu adanya penguatan data yang diperlukan untuk menilai kemakmuran bersama di beberapa Negara.

Hanya satu dari empat Negara berpenghasilan rendah dan empat dari 35 Negara rapuh dan terkena konflik yang memiliki data kemakmuran bersama dari waktu ke waktu.

“Langkah-langkah baru memungkinkan Bank Dunia untuk memantau kemiskinan di semua Negara, dalam berbagai aspek kehidupan, dan untuk semua individu di setiap rumah tangga,” ungkap Kim. (AA)