PortalMadura.com– Harga perak batangan PT Aneka Tambang (Antam) mencatatkan kenaikan signifikan pada Sabtu, 21 Februari 2026. Logam mulia ini kini dibanderol Rp53.150 per gram, mengikuti reli harga komoditas perak di pasar internasional yang terus menguat.
Kenaikan ini terjadi baik di pasar domestik maupun global. Bagi investor yang mempertimbangkan perak sebagai alternatif investasi selain emas, pergerakan harga ini patut menjadi perhatian.
Rincian Harga Perak Antam Terbaru
Berdasarkan data yang dihimpun, berikut daftar harga perak batangan murni produksi Antam per 21 Februari 2026 (sudah termasuk PPN 11%):
| Satuan | Estimasi Harga |
|——–|—————|
| 1 Gram | Rp53.150 |
| 10 Gram | Rp1.079.411 – Rp1.198.900 |
| 250 Gram | Rp13.875.000 |
| 500 Gram | Rp26.862.000 |
| 1 Kilogram | Rp75.753.000 – Rp87.000.000 |
Harga tersebut dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti fluktuasi pasar. Calon pembeli disarankan untuk mengecek informasi terbaru melalui kanal resmi Antam atau gerai logam mulia terpercaya sebelum bertransaksi.
Pemicu Kenaikan: Performa Gemilang Perak Global
Lonjakan harga perak di Indonesia tidak terlepas dari aksi bullish perak di bursa komoditas dunia. Data pasar menunjukkan harga spot perak (silver spot) meroket ke level USD 84,57 per troy ons.
Dalam kurun 24 jam terakhir, perak global tercatat naik drastis sebesar 8,93%. Penguatan ini didorong oleh kombinasi faktor permintaan industri, sentimen investasi safe-haven, serta pergerakan nilai tukar mata uang.
Untuk instrumen perak digital atau berbasis kripto, nilai konversi saat ini terpantau berada di kisaran Rp43.042 hingga Rp45.005 per gram. Angka ini memberikan opsi alternatif bagi investor yang ingin eksposur terhadap perak dengan modal lebih fleksibel.
Apa Artinya bagi Investor?
Kenaikan tajam dalam waktu singkat menandakan volatilitas tinggi di pasar perak. Di satu sisi, ini membuka peluang capital gain bagi trader jangka pendek. Di sisi lain, investor jangka panjang perlu mempertimbangkan fundamental permintaan industri—terutama dari sektor energi terbarukan dan elektronik—sebagai penopang harga dalam jangka menengah-panjang.
Analis menyarankan investor untuk tidak terjebak FOMO (fear of missing out). Lakukan riset mendalam, sesuaikan dengan profil risiko, dan pertimbangkan diversifikasi portofolio sebelum memutuskan alokasi dana ke komoditas ini





