PortalMadura.com–Harga perak global mencetak kenaikan harian paling signifikan sejak awal 2026 pada perdagangan Minggu (8/2/2026), dengan spot price melonjak 10,09% ke level 77,98 dolar AS per troy ounce. Lonjakan ini memicu penyesuaian harga perak batangan Antam yang naik Rp2.000 per gram menjadi kisaran Rp56.500–Rp57.550.
PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengonfirmasi kenaikan harga fisik perak murni yang berlaku efektif hari ini. Untuk ukuran 100 gram, harga berkisar Rp7,7–Rp11,4 juta, sementara batangan 500 gram menembus angka Rp38 juta. Kenaikan ini mencerminkan ketatnya pasokan perak murni domestik serta tingginya biaya impor dan premi sertifikasi.
Analis komoditas dari IndoTrading Research, Rendra Wijaya, menjelaskan bahwa reli perak kali ini dipicu oleh dua faktor utama. Pertama, permintaan industri hijau—khususnya untuk panel surya dan komponen kendaraan listrik—melonjak signifikan di awal tahun 2026. Kedua, investor mulai melirik perak sebagai aset yang masih undervalued dibandingkan emas yang telah menyentuh level Rp3 juta per gram.
“Perak sempat tertekan akibat aksi ambil untung pekan lalu, tetapi fundamental permintaan industri yang kuat membuatnya rebound brutal hari ini,” ujar Rendra kepada media, Minggu siang.
Di pasar ritel, harga perak merek internasional bersertifikasi LBMA seperti Heraeus dan Valcambi terpantau lebih tinggi. Batangan 1 gram dijual sekitar Rp153.100, sementara ukuran 1 kilogram dari merek premium mencapai Rp92–Rp98,9 juta. Selisih harga ini disebabkan oleh kelangkaan stok dan biaya logistik impor yang meningkat.
Meski tren positif, para ahli mengingatkan investor untuk waspada terhadap volatilitas tinggi perak. Berbeda dengan emas, perak memiliki spread (selisih beli-jual) yang lebih lebar dan sangat sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah. Koreksi teknis juga berpotensi terjadi setelah kenaikan double-digit dalam sehari.
“Bagi yang belum masuk pasar, lebih bijak menunggu koreksi 2–3% sebelum akumulasi. Orientasi investasi perak sebaiknya jangka menengah-panjang minimal dua tahun untuk menikmati potensi kenaikan dari transisi energi global,” tambah Rendra.
Kenaikan perak kali ini menandai pergeseran persepsi pasar terhadap logam putih tersebut—tidak lagi sekadar pelengkap portofolio emas, tetapi sebagai aset strategis dengan fundamental permintaan industri yang solid di era ekonomi hijau





