oleh

Perbedaan Amalan Qaashir dan Muta’addi yang Perlu Diketahui

PortalMadura.Com – Setiap orang tentunya memiliki amal tersendiri dalam menjalani kehidupan di dunia. Bentuk amal tersebut bisa berbagai rupa, baik berupa ucapan, perbuatan ataupun getaran hati. Adapun nilai dari amal tersebut tergantung dari niat pelakunya.

Pada hakikatnya, segala amal yang dilakukan tersebut sudah tercatat rapi sesuai rencana Allah SWT. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12)

Dalam kehidupan, Anda perlu mengenal dua amalan yaitu amalan qaashir dan amalan muta’addi. Sudah tahukah Anda apa maksud dari keduanya itu?. Untuk mengetahuinya, mari simak penjelasan berikut ini:

Dilansir PortalMadura.Com, Selasa (3/12/2019) dari laman Islampos.com, amalan muta’addi adalah amalan yang manfaatnya untuk orang lain, baik manfaat ukhrawi (seperti mengajarkan ilmu dan dakwah ilallah), bisa juga manfaat duniawi (seperti menunaikan hajat orang lain, menolong orang yang dizalimi).

Sedangkan amalan qaashir adalah amalan yang manfaatnya hanya untuk pelakunya saja, seperti puasa dan iktikaf. Lantas, manakah yang lebih afdal, apakah amalan qaashir ataukah amalan muta’addi?.

Para fuqoha syariat menyatakan bahwa amalan muta’addi yang manfaatnya untuk orang lain lebih utama dari amalan qaashir yang manfaatnya untuk diri sendiri.

Di antaranya yang dijadikan dalil adalah hadis dari Abu Darda’ radhiyallahu anhu, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan di malam badar dari bintang-bintang lainnya” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Tirmidzi).

Selain itu, ada juga sebuah hadis yang mengatakan bahwa, “Demi Allah, sungguh satu orang saja diberi petunjuk (oleh Allah) melalui perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun juga” (HR. Muslim, no. 2674).

Sementara itu, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah pun berkata, “Pelaku ibadah qaashirah hanya mendapatkan manfaat untuk dirinya sendiri; jika ia meninggal dunia, amalannya akan terputus. Adapun pelaku ibadah muta’addi, maka walaupun meninggal dunia, amalannya tidaklah terputus” (Utruk Atsaran Qabla Ar-Rahiil, hlm. 8).

Loading...

Baca Juga : 7 Amalan Sunah yang Bisa Bikin Hati Lembut

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menerangkan bahwa keutamaan di sini dari sisi jenis, bukan berarti semua amalan muta’addi lebih afdal dari amalan qaashir. Salat, puasa, dan haji termasuk dalam ibadah qaashirah dalam hukum asalnya, namun ibadah ini termasuk dalam rukun Islam dan merupakan amalan Islam paling penting. Lihat Utruk Atsaran Qabla Ar-Rahiil, hlm. 8.

Disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, para ulama berkata, “Ibadah yang paling afdal adalah amalan yang dilakukan sesuai rida Allah dalam setiap waktu dengan memandang pada waktu dan tugas masing-masing” (Madarij As-Salikin, Ibnul Qayyim, 1:89, Asy-Syamilah – Penerbit Dar Al-Kutub Al-‘Arabi).

Lebih lanjut, Ibnul Qayyim menyampaikan, “Ibadah yang paling baik pada waktu jihad adalah berjihad, walaupun nantinya sampai meninggalkan wirid rutin seperti salat malam, puasa di siang hari, meninggalkan salat sempurna untuk salat wajib (salatnya diqashar) tidak seperti dalam keadaan aman.

Apabila ada tamu hadir di rumah, paling afdal adalah sibuk melayani tamu daripada rutinitas yang sunah, begitu pula dalam menunaikan hak istri dan keluarga.

Kemudian, saat tiba waktunya sahur maka paling afdal adalah sibuk dengan salat, membaca Alquran, berdoa, berzikir, dan beristighfar. Sedangkan apabila datang seseorang meminta dibimbing atau saat itu adalah waktu mengajarkan ilmu pada orang yang tidak paham, paling afdal adalah membimbing dan mengajarkan ilmu.

Selanjutnya, jika ada azan berkumandang, paling afdal adalah sibuk menjawab azan daripada melakukan rutinitas ibadah lainnya. Apabila waktu salat lima waktu tiba, maka lebih afdal adalah serius dan melakukannya dalam bentuk yang sempurna, bersegera melakukannya pada awal waktu, lalu keluar ke Masjid Jami’ walaupun itu jauh”.

Intinya, memberikan manfaat pada orang lain (amalan muta’addi) lebih afdal daripada hanya untuk pribadi sendiri (amalan qaashir). Namun, perlu diketahui, hal ini bukan berarti Anda lantas mengenyampingkan perkara wajib seperti salat yang memang harus dilakukan. Wallahu A’lam.


Rewriter : Putri Kuzaifah
Sumber : islampos.com


Berita PortalMadura
Loading...
Tirto.ID
Loading...

Komentar