oleh

Pesantren Salaf di Madura, Tanamkan Moral Melalui Apel Pagi Setiap Rabu

PortalMadura.Com, Sumenep – Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah, daerah Karang Anyar, Desa/Kecamatan Guluk-guluk, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur menerapkan apel pagi (upacara bendera) yang dilaksanakan rutin setiap hari Rabu.

Tidak seperti pada umumnya, upacara bendera dilaksanakan pada hari Senin. Pemilihan hari Rabu tersebut mempunyai filosofi tersendiri bagi pesantren asuhan KH. Muhajir Bahruddin yang berdiri bulan Juni tahun 2015.

Didapat dari kitab-kitab klasik, seperti Kitab Ta’limul Muta’alim yang disusun dan di karang oleh Syekh Az-Zarnuji, menyebutkan bahwa turunnya ilmu adalah pada hari Rabu dan Minggu. Sehingga hari Rabu dipilih untuk melaksanakan apel pagi.

Bagi peserta maupun santri yang bertugas dalam apel tersebut, tetap mengenakan pakaian khas pesantren, yakni sarung atau gamis juba. Sedangkan bagi santri putri mengenakan cadar.

KH. Muhajir Bahruddin mengungkapkan, penerapan apel pagi merupakan salah satu sarana untuk menanamkan kedisiplinan bagi santri dan konsolidasi antar santri sebelum mengikuti pembelajaran dalam kelas.

“Lebih-lebih untuk menanamkan moral bagi santri dan rasa nasionalisme kaum santri, karena pada pelaksanaan apel pagi itu ada ruang bagi pengasuh untuk menyampaikan tausiyah,” kata KH. Muhajir pada PortalMadura.Com, Rabu (10/8/2016).

Tak hanya santri putra yang diwajibkan ikut apel pagi tersebut. Para santri putri dengan mengenakan cadar juga ikut serta. Bahkan, santri putra yang mengenakan pakaian ciri khas santri juga tak terlihat canggung atau kaku dalam mengikuti upacara.

Mereka mengikuti dengan hikmat layaknya peserta upacara pada umumnya yang dilaksanakan di sekolah-sekolah umum setiap hari Senin.

Pondok pesantren dengan motto “Salaf Total Berijazah Formal” ini, juga menerapkan tahfidz Al Quran dan hafal kitab Al-Khulasa al-Alfiya (Alfiyah) yang merupakan kitab berisi syair (berirama), tentang tata bahasa Arab dari abad ke-13.

Namun pesantren yang memiliki hampir 100 orang santri ini tidak meninggalkan pelajaran umum untuk mendapatkan ijazah formal. “Untuk mendapatkan ijazah formal, juga ada pelajarannya, tapi khusus bagi santri yang sudah kelas akhir, baik Tsanawiyah (setingkat SMP, red) maupun Madrasah Aliyah (setingkat SMA, red),” terangnya.

“Para santri wajib hafal juz 30 Al Quran dan ngaji atau paham kitab Alfiyah,” sambungnya.

Dikatakan, dengan penggabungan antara salaf (pelajaran kitab-kitab klasik) dengan pelajaran umum, maka santri yang sudah lulus dapat melanjutkan pada pendidikan formal lainnya diberbagai lembaga diluar pondok pesantren maupun lembaga pendidikan lainnya.

“Kedepan, dan sekarang sudah dalam proses, ijazah yang dikeluarkan internal pesantren dalam usaha agar diakui oleh negara melalui SK menteri,” pungkasnya.(Hartono)

Ist. Santri Pakai Sarung dan Gamis Juba
Ist. Santri Pakai Sarung dan Gamis Juba