oleh

Resensi Buku – “Berdzikir Bersama Alam Semesta”

PortalMadura.Com – Ketika kita mendengar nama D. Zawawi Imron pasti yang ada dalam benak kita adalah seorang Kiai sekaligus sastrawan yang berasal dari Sumenep, Madura yang namanya sudah dikenal seantero negeri bahkan di Asia Tenggara.

Namanya juga dikenal karena karyanya yang luar biasa, mulai dari buku kumpulan puisi hingga buku lain beliau ciptakan. Nah, dalam buku “mengaji bukit mengeja danau” ini beliau menulis 110 puisi yang terdiri dari berbagai tema terutama yang berkaitan alam, masyarakat dan agama.

Buku ini sebenarnya ditulis atas usaha sastrawan Minang yang memiliki inisiatif untuk mengundang para sastrawan terbaik negeri untuk menghadiri Rumah Puisi yang terletak di daerah pegunungan, perbukitan, hutan dan dan danau untuk menggoreskan karyanya di Rumah Puisi, dan salah satu sastrawan yang diundang adalah D. Zawawi Imron.

Selama bermukim tersebut terbentuklah buku kumpulan puisi ini yang hanya diselesaikan beliau dalam 30 hari, buku yang berisi 110 puisi ini merupakan bentuk interaksi penulis dengan alam sekitar Rumah Puisi, misalnya puisi yang berjudul
“Singkarak”.

Keramas di ujung siang, nanti menyusui jantung malam
Bertingkat bukit mengambang suara bangsi
Dan hidup memang mahal
Tapi sedikit yang mampu membayar
Dengan harga yang tunai, dengan harkat yang pijar (hal 18).

Dari sebuah bait puisi diatas jelas bahwa penilis ingin menyampaikan kepada pembaca untuk memahami alam yang salah satunya bukit sebagai bahan renungan betapa ayat Tuhan telah terhampar luas di sekitar kita tinggal bagaimana kita menyikapi ayat tersebut untuk merenungi bagaimana harus hidup di dunia yang fana ini.

“Layang-layang Singkarak”
Singkarak di tepi danau
Kota kecil untuk sujud, untuk keringat
Tapi aku memilihnya untuk mengigau
Dalam mimpi yang indah Dosakah ingau ?
Nanti dulu Kita berembuk dengan air mata ibu,
Untuk apa kita mengalir Meniru batang Ombilin ? (hal 21).

Dalam penggalan puisi ini penulis menggambarkan bagaimana beliau menjadikan danau sebagai pilihan diksi yang sangat tepat untuk menulis sebuah puisi yang menggugah pembaca dengan memahami pesan tersirat dalam bait puisi tersebut.

Salah satu bentuk aktualisasi diri penulis yang memiliki latar belakang pendidikan agama yang sangat kuat di salah satu pondok pesantren di Madura juga tidak luput dari diksi yang dipilih penulis dalam puisinya.

Loading...

Bagaimana penulis melaksanakan anjuran agama untuk menyampaikan ayat Tuhan walaupun satu ayat kepada umat, namun yang menjadi salah satu nilai tersendiri dari buku ini adalah bagaimana ayat Tuhan yang disampaikan penulis dengan diksi puisi yang begitu indah sehingga pembaca merasa senang untuk membaca buku ini.
Kita bisa lihat puisi yang berjudul “Hati Yang Basah” (hal 37).

“Kuteguk Air”
Kemudian kususuri pantai
Kugenggam pasir
Sambil kuteguk rasa getir
Pasir berdzikir
Antara angin dan pasir
Ada nasibku yang mengalir (hal 102).

Yang menjadi nilai tersendiri dari buku bagaimana penulis menggunakan diksi yang berlatar belakang budaya Minang sebagaimana penulis bermukim dalam beberapa hari di Rumah Puisi, yang sebenarnya memiliki perbedaan yang mencolok dengan penulis yang berlatar belakang Madura. Sebagaimana tertuang dalam sebuah bait puisi yang berjudul “Maninjau”(hal 15), “Singkarak”(hal 18), “Untuk Pak Syafi’I Maarif”(hal 35), “Dari Batu Batikam”(hal 41).

Madura yang merupakan tanah kelahiran penulis tidak luput dari diksi yang beliau tulis dalam bait puisi yang menjadi sebuah keindahan yang sulit ditemukan dalam buku yang bergenre sama,bagaimana menggabungkan istilah yang kita kenal selama ini dari budaya Minang denganistilah-istilah budaya Madura dalam sebuah karya sastra berupa kumpulan puisi yang indah. Kita bisa melihat perpaduan istilah kedua budaya tersebut dalam penggalan puisi yang berjudul “Gerimis”.

Dan garis akan habis, tapi garis tak harus habis
Tergantung sejauh mana darah teriris
Setelah garam asin dan api panas
Karena di belakang yang tampak tersimpan teka-teki (hal 64).

Buku ini memiliki sedikit kelemahan dari segi kualitas kertas yang digunakan, namun kelemahan tersebut dapat ditutupi dengan puisi-puisi yang indah, pesan yang tersurat maupun tersurat dari setiap diksi puisi penulis yang begitu menggugah kita ketika menyelami buku ini dengan seksama.

Bagaimana penulis memberikan pelajaran kepada kita untuk menyadari betapa ciptaan Tuhan yang terhampar luas di alam semesta sebagai bahan renungan bagi kita untuk melaksanakan amanahnya. Untuk itu saya menyarankan kepada para pembaca untuk membaca buku ini apalagi bagi pembaca yang memiliki kecenderungan menyukai buku yang bergenre sastra.(har)

Judul : Mengaji Bukit Mengeja Danau
Penulis : D. Zawawi Imron
Penerbit : Fadli Zon Library
Tempat terbit : Jakarta
Tebal : 112 halaman
Peresensi : Mustofa EL-Hadiri Your B



Komentar