oleh

Resensi Buku – Kemilau Tasawuf Dalam Alunan Puisi

PortalMadura.Com – Pemaknaan tentang tasawuf sering kali di sandangkan pada mereka yang tak cinta terhadap dunia, melepaskan diri dari komunikasi dengan manusia, berpakaian compang camping, dan selalu berdiam diri dan melupakan hakikat kemanusiaanya sebagai mahluk sosial. Padahal esensi sebenarnya dari tasawuf sebagaimana pernyataan Rumi yang terdapat dalam karya Masmuni Mahatma, yaitu kesucian hati.

Untuk itu, buku berjudul Bulan Diatas Ka’bah ini, berusaha mengangkat dan mengkolaborasikan antara kekuatan sufistik dengan karya dari pelakunya, baik itu pemikiran, karya patung, seni lukis keramik, ornamen, atau bahkan puisi sebagaimana Jalaluddin Rumi, dan Jeihan Sukmantoro mengaplikasikanya. Sehingga nantinya akan menghasilkan sebuah relasi yang menarik mengeai karya dan latar belakang pembuatnya.

Memang tak terlalu banyak para sastrawan Indonesia yang berusaha mengkaji mengenai relasi sastrawi-sufistik, yang pada dasarnya memang sudah menjadi fondasi bagi bagi raja-raja Islam zaman dahulu. Lebih dari itu, penyebaran pola keberagamaan yang diajarkan oleh Wali Songo tentu melalui beberapa hal yang salah satunya adalah karya seni, sehingga sangat menarik bila sastawan-sastrawan Indonesia abad ini mempunyai pemikiran khusus mengenai sastrawi sufisitik.

Substansi karya Masmuni Mahatma ini, berusaha menelaah lebih lanjut mengenai pemikiran Jeihan Sukmantoro melalui seni lukis, puisi, dan ketasawufan dari Jeihan. Dengan berangkat melalui pendefinisian mengenai apa itu tasawuf kemudian menyajikan karya-karya dari seorang sufi sekaliber Jalaluddin Rumi, Ibn Arabi, Alghazali, dan Inayatkan. Bukan hanya itu, didalam buku ini juga termaktub mengenai karya-karya besar dari mereka walaupun itu hanya sebagian saja. Namun, amat disayangkan dalam buku karya Masmuni ini, tidak memberikan contoh karya sastra dari Al-Ghazali pada Bab 2.

Sebagaimana kata-kata Rumi yang dikutip oleh Mahatma, bahwa puisi tentu bukanlah karya yang hanya terikat dengan rima, bait, diksi, lagu atau bahkan diksi yang terlampau hebat, akan tetapi juga berkaitan dengan kebaikan dan perilaku masyarakat. Sehingga paradigma salah kaprah terhadap puisi memang harus segera digusur dari benak para sastrawan yang tentu hanya sekedar menantikan karyanya masuk di media kemudian mendapatkan royalti dengan sebanyak-banyaknya.

Esensi dari puisi seharusnya sebagaimana mestinya agar dapat mempengaruhi masyarakat untuk memperbaiki diri dan menemukan esensi spiritualitasnya.

Latar belakang pemikiran Jeihan Sukmantoro termaktub pada bab tiga. Ia terlahir dari pasangan suami istri Widiatmo dan Mari, di Desa Ngampel, Surabaya, pada tahun 1938. Ayahnya yang keturunan kraton dan ibunya keturunan China. Dari latar belakang itulah ia kemudian menggabungkan tradisi ke keratonan dengan kebudayaan modern ala China sebagaimana ia warisi dari ibunya.

Loading...

Ayahnya mengajarkan tentang budaya kejawen, sementara ibunya tetap ngotot dalam dunia kemodernan. Dari latar belakang kehidupan itulah yang membuat Jeihan memadukan tradisi modernitas barat dengan sufistik ala timur.

Kembali pada perbincangn mengenai dunia sufistik, ia cenderung disamakan dengan kata tasawuf meski pada dasarnya, pemaknaan mengenai asal muasal kata itu banyak mengalami perbedaan oleh sebagian besar umat Islam. Namun, secara gamblang Masmuni Mahatma meletekkan pemikiran tasawuf terdiri dalam beberapa lapisan sebagaimana ia mengutip pendapat dari Al-Ghazali, bahwa tasawuf terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu Al bidayat, Mujahadat, dan Madzaqat.

Dalam artian secara gamblang ketiganya merupakan tingkatan dari yang terendah sampai yang tertinggi. Jika dikaitakan dengan pemikiran Jeihan Sukmantoro terutama dalam sajaknya akan ditemukan beberapa proses bahwa ia ingin menanamkan bagaimana seharusnya eksistensi dari tasawuf itu sendiri.

Mayoritas dari karyanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman ibadah haji. Tak ayal salah satu sajaknya kemudian menjadi judul buku yang ditulis oleh Masmuni Mahatma.

Jika memang Masmuni ingin mengkolaborasikan mengenai pemikiran sufistik dengan karya, tentu tokoh Indonesia yang juga menggeluti dunia sufi adalah Syekh Nawawi Albanteni, sebab beliau juga mengarang kitab klasik yang menjadi referensi bagi sebagian besar orang yang ingin tahu tentang seluk-beluk tasawuf. Namun, jika memang difokuskan pada seni sastra saja, tentu ia Masmuni tidak mencantumkan mengenai sajak dari Al-Ghazali yang sifatnya puitis.

Mengenai tokoh Jeihan ia memang tak terlalu banyak dikenal di kalangan penyair. Ia lebih dikenal dengan pelukis, padahal karyanya yang berupa sajak juga tak kalah hebatnya. Salah satu puisi yang nyentrik adalah Bulan Diatas Ka’bah. Selain itu, ia juga dikenal sebagai tokoh sajak yang sifatnya mbeling.

Sajak mbeling adalah sajak yang sifatnya pendek dan berisi sindiran namun penuh makna seperti sajaknya yang berjudul Jumratul Aqabah.

Dalam sajaknya Bulan Diatas Ka’bah, Jeihan memaparkan soal keterleburan hamba dengan Tuhan. Bahwa seakan-akan seorang hamba telah begitu menyatu dengan tuhanya.(har)

Judul : Bulan Diatas Ka’bah (Sufistika Jeihan)
Karya Masmuni Mahatma
Isbn : 978-979-16594-5-1
Penerbit : Jeihan Institute
Tahun : 2013

Madura-Mei 2015
Peresensi : Hasibuddin (Your B)



whatsapp share top ten article
Loading...
Loading...

Komentar