oleh

Resensi Buku – Riwayat Bumi Madura

PortalMadura.Com – Barangkali tidaklah berlebihan jika mengatakan bahwa pesona dan keistimewaan Madura telah mengundang decak kagum beberapa pihak. Telah banyak tulisan yang menuturkan tentang Madura, mulai dari kebudayaannya, anugerah kekayaan alam yang melimpah, pariwisata, kesenian tradisional, bahasa, hingga Carok sebagai simbol mempertahankan harga diri. Terbukti, banyak sekali peneliti luar yang tertarik meneliti tentang Madura. Sebut saja Huub de Jonge dari Belanda atau Helene Bouvier dengan judul bukunya “Lebur”. Selain itu, peneliti asli kelahiran Madura juga ikut andil memperkaya khazanah tentang Madura, semisal Prof. Mien A. Rifai dan Dr. Latif Wiyata.

Rasa ingin tahupun tentang seluk beluk Madura, terurai dengan lugas dalam “The History of Madura” oleh Samsul Ma’arif, alumni Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang lahir di desa Purbowangi Kabupaten Kebumen, yang berupaya “menghidupkan” kembali sejarah panjang Madura dari kerajaan, kolonialisme hingga kemerdekaan.

Buku ini terdiri dari 6 bagian. Samsul Ma’arif memulai bagian pertamanya dengan menyajikan berbagai pendapat asal-usul nama Madura yang berasal dari kata “Madu Oro” yang artinya pojok daratan luas (hal. 4). Pendapat lain mengatakan bahwa nama Madura diambil dari India. Tepatnya dari daerah Madurai di Tamil Nadu, India Selatan. Tak luput pula, kondisi geografis pulau Madura yang bertutur keadaan alam, pembagian wilayah, jumlah penduduk, pegunungan, musim dan iklim, kondisi tanah, susunan bebatuan, serta pulau-pulau kecil di Madura, menimang pembaca larut dalam keindahan Madura.

Barulah pada bagian kedua, penulis mulai mengulas tentang sejarah Madura. Sejak era Singosari telah ada pemerintahan di Madura. Namun pemerintahan tersebut adalah bagian dari kerajaan di Jawa. Baru setelah runtuhnya kerajaan Majapahit (1400 Caka atau 1478 M), serta belum kuatnya kerajaan Demak dan Pajang, beberapa kerajaan kecil di Madura mengalami perkembangan pesat. Diantaranya adalah kerajaan Songennep, Pamekasan, Palarakan, Bliga, dan Jamburingin. Selain itu ada pula kerajaan Arosbaya dan Sampang.Kemajuan-kemajuan tersebut disebabkan kerajaan-kerajaan di Madura bisa melepaskan diri dari hegemoni kerajaan yang lebih besar di Jawa seperti Majapahit. Namun hal ini tidak berlangsung lama karena setelah Sultan Agung mendirikan Mataram Islam, Madura bagian barat kembali menjadi bagian kekuasaan kerajaan Jawa (hal. 51-52)

Selain sejarah, termaktub pula beberapa tulisan seputar potensi Madura, yaitu tembakau, garam, dan beberapa situs penting. Pemahaman penulis mengenai potensi Madura tersebut juga sangat mencengangkan. Secara khusus ia melaporkan tentang perkembangan tembakau di Madura (baca ulasannya di halaman 70). Kemudian penulis juga tahu betul daerah-daerah penghasil tumbuhan yang dijuluki emas hijau itu, yang berkualitas tinggi di Madura. Tetapi kini, daun emas itu hanya tinggal cerita. Hal tersebut dipicu oleh rendahnya harga jual tembakau yang tiap tahunnya semakin menurun.

Loading...

Sementara pada bagian ketiga, keempat, dan kelima dihabiskan untuk membedah panggung politik Madura, Sejarah masuknya Islam di Madura, dan kearifan budaya Madura.

Kualifikasi keilmuan penulis ini terlihat pada kepiawaiannya mengolah data yang mumpuni dan komprehensif. Pembaca akan menemukan footnote buku-buku terkait tempat ia merujuk, yang semakin memperkuat keakuratan data. Seperti Mien Ahmad Rifai (Manusia Madura), Abdurrahman (Sejarah Madura: Selayang Pandang Sumenep), Huub de Jonge (Garam, Kekerasan, dan Aduan Sapi), Latief Wiyata (Carok), dan lain sebagainya. Sangat mengagumkan!

Kejelian penulis dalam merambahKearifan Budaya Madura, seperti permukiman TakatLanjang, rumah diatas laut/ rumah apung di Desa Sepanjang, Kecamatan Sapeken, menyandingkan Tanean Lanjangmenambah deretan potret keragaman kultur. Menarik, karena mungkin sebagian dari kita masih belum mengenal Takat Lanjang ini. Sebab, yang sering kita jumpai di buku-buku lain hanyalah kupasan tentang kultur Tanean Lanjang saja. Semakin lengkap dengan adanya pembahasantiga jalur Islamisasi di Madura, berupa jalur perdagangan, jalur kerajaan, dan jalur juru dakwah (wali) ataupun kiai yang kian menegaskan bahwa masyarakat Madura menempatkan posisi kiai sebagai lapisan teratas, karena dianggap sebagai guru (bagi santrinya) dan bapak (bagi masyarakatnya).

Keunggulan lain yang dimiliki oleh buku setebal 224 halaman ini diramu dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami oleh pembaca. Bahasanya ringan namun tetap sanggup memberi makna yang dalam serta sangat piawai memoles keindahan Madura melalui pilihan kata-katanya. Lebih-lebih penulis memperkaya ulasannya dengan menyisipkan pribahasa-pribahasa Madura yang unik dan menarik. Mengundang iri dan rindu dendam “kacong Cebbing” Madura dalam memberdayakan Tanah Tumpah Kelahirannya.

Beberapa hal yang menjadi kritik atas buku ini adalah pertama, penulisdirasa masih perlu daya eksplorasi kearifan budaya Madura yang utuh dan komprehensif. Kedua, secara teknis penulisan, masih banyak ditemukan salah ketik bahkan ada beberapa kalimat yang tergolong tidak efektif, sehingga sangat mengganggu kenyamanan pembaca. Memang, tak ada gading yang tak retak.

Namun, tak diragukan lagi, buku the History of Madura ini telah menjadi salah satu sumber sejarah penting untuk mengetahui kehidupan masyarakat Madura di masa lampau. Karya Samsul Ma’arif ini, walau bukan kelahiran asli bumi Madura patut diapresiasi. Setidaknya hal ini juga menjadi lecutan bagi generasi muda Madura selanjutnya untuk tidak kalah dalam menghasilkan sebuah masterpiece yang sangat berharga bagi siapapun, khususnya masyarakat Madura sendiri. Selamat membaca!.(har)

Judul Buku : The History of Madura
Penulis : Samsul Ma’arif
Penerbit : Araska
Tahun Terbit : Cetakan I, Januari 2015
Jumlah Halaman : 224 Halaman
No. ISBN : 978-602-300-072-2

Madura, 02 Juni 2015
Peresensi : Indina Zulfa Ilahi (YOUR B)



whatsapp share top ten article
Loading...
Loading...

Komentar