PortalMadura.com

Resensi Buku – Roda Kehidupan Sang Tambeng

  • Sabtu, 20 Juni 2015 | 08:06
Resensi Buku – Roda Kehidupan Sang Tambeng
Loading...

Pak Kupak Iling
Ilinga Sandor Ranjih
Bapak Entar Ngaliling
Nak Tembeng Tao Ngajih
Ngajih Bebena Cabbhih
Le Ollena Sarabih Potton    

PortalMadura.Com – Anak yang tambeng yang berkepribadian seperti cabai, siapa lagi kalau bukan Mohammad Mahfud. Ya! Dia adalah anak Keempat pasangan Mahmodin dan Siti Khadijah. Omben, Sampang.

Di tempat ini lah anak tambeng ini di lahirkan. Anak keempat dari kedua pasangan ini sejak lahir mempunyai sedikit keunikan, jika kedua telinganya di tarik lurus maka akan sejajar mendekati hidung. Hal itu di percaya masyarakat bahwa kelak akan menjadi orang besar.

Sejak bayi, kedua orang tuanya Mahmodin ditugaskan di tempat lain dan mengharuskan mereka pindah ke daerah Waru, Pamekasan. Anak laki-laki yang mempunyai kepribadian tambeng ini selama kecil mengaji pada salah satu Kyai di rumahnya, Kyai Mardhiyan.

Dalam novel ini menceritakan kisah hidup Mahfud yang dikenal dengan nama Mahfud MD. Seorang Mahfud disini diceritakan mempunyai keinginan untuk melanjutkan pendidikannya ke SMP favorit di Pamekasan, namun impiannya itu harus di batalkan karena orang tuanya menginginkannya melanjutkan sekolahnya ke Pendidikan Guru Agama Pertama Negeri (PGA PN).

Kecewa yang dirasakan akhirnya terkalahkan dengan pemikirannya bahwa inilah jalan yang terbaik. Akhirnya Mahfud menuruti perintah bapaknya untuk masuk PGA PN. Di hari pertamanya dia sudah mendapatkan teman baru yang bernama Minhaji yg berasal dari Nyalaran.

Sejak masuk dihari pertama sekolah itu nama Mahfud dikenal dengan sebutan Mahfud MD, KENAPA? Karena didalam satu kelas ada 3 siswa yang bernama Mahfud, dan wali kelasnya, Pak Asbun Nawawi mencari jalan keluar untuk membedakan ketiga Mahfud tersebut dengan menggunakan nama orang tuanya dibelakang nama mereka. Karena nama bapak anak tambeng ini adalah Mahmodin, maka di singkatlah menjadi Moh. Mahfud MD.

Baca Juga:  Diduga Menganut Aliran Sesat Setelah Ngaku Bisa Isra' Mi'raj

Selain Minhaji kawan pertamanya di bangku PGA itu ia juga berteman baik dengan Hafandi yang berasal dari Talang, Pamekasan. Semenjak saat itulah mereka selalu bertiga.

Novel ini memberikan cerita ketika bapak Mahfud, Mahmodin ditangkap oleh anggota KORAMIL Kecamatan Waru dengan tuntutan telah menghianati Negara, Subversif. Yang artinya setiap Menteri Polisi harus mengikuti aturan Negara.

Seketika pengumuman kelulusan PGA PN menuntun Mahfud dan kedua kawannya mendapatkan beasiswa untuk sekolah di  PHIN (Pendidikan Hakim Islam Negeri) Yogyakarta.

Bahkan dalam buku ini menceritakan pengalaman pertama kalinya Mahfud dan kedua kawannya itu sampai di terminal Jayabaya, yang sempat terptipu dengan tawaran salah satu kondektur bus yang membuat mereka turun di Kota Semarang.

Selama menimba ilmu di PHIN hingga akhirnya dimana hari kelulusan PHIN. Pena Allah SWT menunjukkan jalannya, ya! Mahfud di terima di Kampus UGM dengan jurusan Sastra Arab dan sekaligus diterima di UII sebagai mahasiswa fakultas Hukum.

Di ceritakan juga Mahfud yang bergabung dalam redaksi majalah Muhibbah, sebuah majalah kampus, dan Mahfud juga menjadi anggota HMI di UII. Sejak bergabung sebagai anggota HMI ada sosok perempuan yang membuatnya jatuh hati. Zaizatun Nihayati, asal Jember.

Banyak cara yang Mahfud mulai mencari informasi tentang pujaan hatinya itu. Semakin hari kedekatan Mahfud dan Yatie semakin terlihat, bahkan Mahfud sering kali bermain ke kosan Yatie. Hingga suatu hari Mahfud di panggil oleh pejabat civitas akademika UII karena majalah Muhibbah yang menjadi tanggung jawabnya terlalu banyak mengkritik dan mencaci pemerintah. Hingga majalah muhibbah itu di tahan.

Baca Juga:  Peresmian Kantor DPC PPP Pamekasan Tanpa Dihadiri Pengurus DPW dan DPP

Bukan hanya itu saja, novel ini menceritakan lika-liku kehidupan dari awal pendidikan Mahfud SD, PGA PN, PHIN, S1, S2, hingga S3. Semasa mudanya Mahfud dalam buku ini mulai dikenal di media, seperti Bernas, Kedaulatan Rakyat, atau Suara Muhammadiyah.

Buku dengan tebal lebih dari 500 lembar ini menceritakan secara rinci Posisi Mahfud sebagai anggota Birokrasi yang diawali sebagai Pendiri atau Ketua Bidang Hukum dan HAM di DPP PAN hingga akhirnya Mahfud MD menduduki Kursi Ketua Mahkamah Konstitusi.

Sebuah tantangan kahidupan seperti tidak bisa dilewati. Layaknya sebuah keadilan Tuhan, cahaya Tuhan bersifat lurus dan terukur walaupun di pantulkan, karena cahaya-Nya tak bisa ditawar.

Novel ini mempunyai kualitas kertas yang bagus, membuat nyaman di baca tapi dalam novel ini terdapat banyak kesalahan penulisan nama, banyak nama yang di tulis ulang. Bahkan tidak sedikit juga halaman yang hilang, sehingga membuat saya bingung kelanjutan ceritanya.

Penulisan bahasa Madura dan bahasa asing ada yang tidak diartikan, ini membuat pembaca yang bukan berasal dari Madura sulit untuk menerjemahkan. Rasanya jika tidak membaca keseluruhan novel ini tidak akan puas. Read The Novel!

Judul : Cahayamu Tak Bisa Kutawar
Penulis : Aguk Irawan MN
Editor : Didik L. Hariri
Penerbit :    AR-RUZZ MEDIA
Cetakan : I, 2014
ISBN : 978-602-7874-86-2
Tebal : 548 halaman

Pamekasan, 20 Juni 2015
Peresensi : Ienas Beauty Kirana (Your B)

Loading...
Advertisement
Iklan Murah

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional