Rupiah Anjlok Parah Nyaris Tembus Rp 17.000 per Dolar AS Pagi Ini, Ini Penyebabnya!

Avatar of PortalMadura.com
Rupiah Anjlok Parah Nyaris Tembus Rp 17.000 per Dolar AS Pagi Ini, Ini Penyebabnya!
Rupiah Anjlok Parah Nyaris Tembus Rp 17.000 per Dolar AS Pagi Ini, Ini Penyebabnya!

PortalMadura.com – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau mengalami pelemahan tajam pada perdagangan Senin (9/3/2026) pagi. Mata uang Garuda kini berada di posisi yang sangat rentan, bahkan nyaris menembus level psikologis baru di angka Rp 17.000 per dolar AS.

Berdasarkan data perdagangan pasar spot pagi ini sekitar pukul 10.00 WIB, Rupiah berfluktuasi melemah di kisaran Rp 16.950 hingga Rp 17.015 per dolar AS. Tekanan jual yang tinggi terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah, membuat posisinya terus tergerus sejak pembukaan pasar.

Rincian Kurs di Sejumlah Bank Besar

Kondisi di pasar spot langsung berdampak pada kurs yang ditetapkan oleh perbankan nasional. Berikut adalah rincian indikatif kurs dolar AS di beberapa sumber utama pagi ini:

  • Pasar Spot (Indikatif): Jual Rp 16.995 | Beli Rp 16.985
  • Bank BCA (TT Counter): Jual Rp 17.025 | Beli Rp 16.925
  • Bank Mandiri (TT Counter): Jual Rp 17.050 | Beli Rp 16.900

*Data Kurs TT Counter BCA dan Mandiri menunjukkan harga yang harus Anda bayar untuk membeli dolar AS (Kurs Jual) atau harga yang Anda terima saat menjual dolar AS (Kurs Beli).

Tiga Faktor Utama Pemicu Kejatuhan Rupiah

Para analis pasar keuangan menyebutkan bahwa pelemahan tajam Rupiah hari ini bukanlah tanpa sebab. Setidaknya ada tiga kombinasi faktor global yang menjadi pemicu utama ambruknya nilai tukar Garuda:

  1. Eskalasi Ketegangan Geopolitik di Timur Tengah: Situasi yang semakin memanas di kawasan tersebut memicu kekhawatiran global akan gangguan rantai pasok, terutama energi. Investor merespons dengan kecemasan tinggi.
  2. Lonjakan Harga Minyak Dunia: Kekhawatiran geopolitik langsung mendongkrak harga minyak mentah global yang melonjak menembus level US$ 108 per barel. Sebagai negara net-importer minyak, kenaikan ini memberikan tekanan inflasi dan memperlebar defisit transaksi berjalan Indonesia.
  3. Penguatan Dolar AS sebagai Aset Safe Haven: Di tengah ketidakpastian global, arus modal keluar dari pasar negara berkembang dan beralih ke aset aman (*safe haven*). Dolar AS menjadi pilihan utama investor, sehingga permintaannya melonjak drastis dan menekan mata uang lainnya, termasuk Rupiah.

Pelemahan yang terjadi sangat cepat ini menjadi perhatian serius bagi pelaku usaha, terutama mereka yang bergantung pada bahan baku impor. Pasar kini mencermati langkah-langkah intervensi yang mungkin diambil oleh Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses