PortalMadura.com-Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) menunjukkan penguatan tipis pada perdagangan pagi ini. Berdasarkan data rata-rata pasar, rupiah berada di level Rp16.953 per dolar AS, menguat dibanding posisi penutupan hari sebelumnya yang mencapai Rp16.971 per dolar AS.
Penguatan ini terjadi di tengah dinamika pasar keuangan global dan domestik yang terus dipantau oleh pelaku pasar. Informasi kurs tersebut dikonfirmasi melalui data resmi dari empat bank besar nasional—Mandiri, BCA, BNI, dan BRI—pada Rabu (21/1).
Di Bank Mandiri, kurs jual e-rate (special rate) pada pukul 09.20 WIB tercatat Rp16.950 per dolar AS, sementara kurs belinya Rp16.980. Untuk transaksi melalui TT counter dan bank notes (berdasarkan data Selasa, 20 Januari), kurs jual dan beli masing-masing berada di Rp17.060 dan Rp16.760.
Sementara itu, Bank BCA mencatat kurs jual e-rate Rp16.965 dan kurs beli Rp16.945 pada pukul 09.19 WIB. Adapun untuk layanan TT counter dan bank notes, kurs jual dan beli sama-sama Rp17.095 dan Rp16.795.
Di Bank BNI, special rate pada pukul 09.20 WIB menunjukkan kurs jual Rp16.974 dan kurs beli Rp16.954. Sementara untuk transaksi TT counter dan bank notes, kurs jual dan beli masing-masing Rp17.105 dan Rp16.815.
Terakhir, Bank BRI melaporkan kurs jual e-rate Rp16.980 dan kurs beli Rp16.918 pada pukul 09.03 WIB. Untuk layanan TT counter, kurs jual dan beli tercatat Rp17.095 dan Rp16.795.
Perlu dicatat, kurs e-rate atau special rate berlaku untuk transaksi valas dalam jumlah tertentu melalui saluran digital atau prioritas. Kurs TT counter digunakan saat nasabah melakukan setoran atau transfer valas melalui teller bank, sedangkan kurs bank notes berlaku untuk transaksi tunai dalam bentuk uang kertas asing.
Sementara itu, kurs jual adalah harga yang dikenakan bank ketika menjual dolar kepada masyarakat, dan kurs beli adalah harga yang ditawarkan bank saat membeli dolar dari nasabah.
Pergerakan rupiah hari ini mencerminkan respons pasar terhadap sentimen ekonomi global dan kebijakan moneter domestik. Para analis memperkirakan tekanan terhadap rupiah akan terus dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga The Fed serta perkembangan neraca perdagangan Indonesia dalam pekan ini.




