Rupiah Tembus Rp17.150 Per Dolar AS: Tekanan Harga Minyak Dunia Jadi Pemicu Utama

Avatar of PortalMadura.com
Rupiah Tembus Rp17.150 Per Dolar AS: Tekanan Harga Minyak Dunia Jadi Pemicu Utama
Rupiah Tembus Rp17.150 Per Dolar AS: Tekanan Harga Minyak Dunia Jadi Pemicu Utama

PortalMadura.com – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan terus mengalami tekanan berat pada perdagangan Selasa (10/3/2026). Mata uang Garuda diperkirakan akan bergerak melemah dan tertahan di atas level psikologis baru, menyusul lonjakan harga minyak mentah dunia yang kian memanas.

Para pengamat pasar valuta asing memproyeksikan kurs Rupiah hari ini akan berfluktuasi di rentang Rp16.950 hingga Rp17.150 per Dolar AS. Sentimen negatif ini muncul seiring dengan indeks Dolar AS yang kembali menguat terhadap mata uang negara berkembang.

Harga Minyak Dunia Jadi Beban Berat

Faktor utama yang menekan posisi Rupiah adalah melambungnya harga minyak mentah jenis Brent yang kini menembus angka 114 Dolar AS per barel. Sebagai negara yang bergantung pada impor minyak, kenaikan harga energi global ini secara otomatis meningkatkan permintaan Dolar AS di dalam negeri untuk membiayai impor.

Kondisi ini diperparah oleh beberapa sentimen global dan domestik lainnya:

  • Ketegangan Geopolitik: Konflik di Timur Tengah yang melibatkan kekuatan besar memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global, membuat investor cenderung mengamankan modalnya ke aset safe haven seperti Dolar AS.
  • Defisit Anggaran (APBN): Kenaikan harga minyak dunia memicu kekhawatiran pasar terhadap pembengkakan subsidi energi pemerintah, yang berpotensi memperlebar defisit APBN Indonesia.
  • Ekspektasi Suku Bunga: Pasar kini menanti langkah tegas Bank Indonesia (BI). Jika pelemahan terus berlanjut, BI diprediksi akan mengintervensi pasar atau bahkan menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) guna menstabilkan kurs.

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini 10 Maret 2026: Berpotensi Rebound di Tengah Tekanan Rupiah

Dampak Terhadap Sektor Riil

Analis memperingatkan bahwa jika Rupiah tetap bertengger di level Rp17.000 dalam jangka waktu lama, sektor riil seperti industri makanan dan minuman akan terdampak langsung. Kenaikan biaya bahan baku impor kemungkinan besar akan diteruskan kepada konsumen melalui penyesuaian harga jual produk di pasar lokal.

Baca Juga:Harga Perak Hari Ini 10 Maret 2026: Peluang Rebound Saat Rupiah Terpuruk, Waktunya Borong?

Hingga pembukaan pasar pagi ini, pelaku pasar tetap waspada memantau rilis data inflasi Amerika Serikat serta langkah intervensi dari Bank Indonesia untuk meredam volatilitas nilai tukar.


Disclaimer: Analisis ini disusun berdasarkan data pasar terkini dan bertujuan sebagai referensi berita. Pergerakan nilai tukar bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dinamika pasar global dan domestik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses