Rupiah Terpuruk di Atas Rp18.000 per Dolar AS, Tembus Rekor Terendah Sepanjang Sejarah Hari Ini!

Avatar of PortalMadura.com
Rupiah Terpuruk di Atas Rp18.000 per Dolar AS, Tembus Rekor Terendah Sepanjang Sejarah Hari Ini!
Rupiah Terpuruk di Atas Rp18.000 per Dolar AS, Tembus Rekor Terendah Sepanjang Sejarah Hari Ini!

PortalMadura.com – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin tertekan pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah setelah melampaui level psikologis Rp18.000.

Keterpurukan Rupiah Melampaui Batas Psikologis

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), kurs rupiah ditutup pada Rp18.039 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis, 4 Juni 2026.

Angka ini menunjukkan pelemahan signifikan sebesar 0,6% dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp17.931 pada Rabu, 3 Juni 2026.

Beberapa platform pasar bahkan mencatat nilai tukar rupiah lebih rendah, dengan Kompas.com melaporkan kurs berada di level Rp18.038 per dolar AS dan sempat menyentuh Rp18.044 per dolar AS.

Sementara itu, BeritaSatu.com melaporkan rupiah mencapai Rp18.021 per dolar AS hari ini.

Kurs spot rupiah juga melemah Rp82 atau 0,46% menjadi Rp18.049 per dolar AS, menurut Kontan.co.id.

Trading Economics mencatat nilai tukar USD/IDR naik menjadi 18.022,0000 pada 4 Juni 2026, meningkat 0,38% dari sesi sebelumnya.

Wise juga menunjukkan nilai tukar dolar AS ke rupiah adalah 18.043,8 hari ini, mencerminkan perubahan 0,640% sejak kemarin.

Secara historis, USD/IDR mencapai titik tertinggi sepanjang masa sebesar 18.065,10 pada Juni 2026.

Tren Pelemahan Jangka Panjang

Keterpurukan rupiah ini bukan fenomena sesaat, melainkan kelanjutan dari tren pelemahan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Dalam sebulan terakhir, rupiah telah melemah sekitar 3,59% dan terdepresiasi lebih dari 10,54% selama 12 bulan terakhir per 3 Juni 2026.

Sejak awal tahun, mata uang Garuda telah kehilangan sekitar 7,2% nilainya terhadap dolar AS, menjadikannya salah satu mata uang pasar berkembang dengan pelemahan terdalam.

Dalam dua tahun terakhir, rupiah telah kehilangan hampir 15% nilainya terhadap dolar AS, dari sekitar Rp15.400 pada akhir 2023 hingga menembus Rp17.500 pada pertengahan Mei 2026 dan Rp17.900 pada akhir Mei 2026.

Faktor-faktor Pendorong Pelemahan Rupiah

Pengaruh Eksternal yang Mendesak

Eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus menjadi pemicu utama, mendorong kenaikan harga minyak global dan memicu risiko inflasi yang lebih tinggi.

Kondisi ini memicu arus modal keluar dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, karena investor mencari aset yang lebih aman.

Data pasar tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan juga memperkuat ekspektasi kebijakan Federal Reserve yang lebih ketat, termasuk potensi kenaikan suku bunga, yang membuat dolar AS semakin perkasa.

Arah suku bunga global dan kekuatan dolar AS secara fundamental mempengaruhi arus modal ke negara-negara berkembang.

Jika imbal hasil aset dolar AS tetap tinggi, investor akan menuntut premi yang lebih besar untuk memegang aset rupiah.

Tekanan Domestik yang Berkelanjutan

Tingginya permintaan dolar AS di dalam negeri, khususnya untuk repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri, memberikan tekanan signifikan pada rupiah.

Biaya impor minyak dan gas yang meningkat juga mengikis surplus perdagangan dan menipiskan cadangan devisa Indonesia, mengingat Indonesia mengimpor sekitar 1,5 juta barel minyak setiap hari, di mana 85% untuk BBM bersubsidi.

Kekhawatiran investor terhadap situasi fiskal Indonesia dan spekulasi penurunan peringkat kedaulatan turut memperparah sentimen negatif.

Arus keluar modal semakin dalam setelah delapan saham lokal dikeluarkan dari indeks FTSE Russell, menambah tekanan terkait MSCI.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi juga menyoroti siklus tahunan korporasi yang membebani nilai tukar rupiah.

Di samping itu, kerentanan struktural ekonomi Indonesia, seperti ketergantungan pada ekspor komoditas mentah, membuat perekonomian lebih rentan terhadap fluktuasi harga global dan keterbatasan dalam menghasilkan devisa.

Laju inflasi yang tidak terkontrol juga dapat menggerus daya beli masyarakat dan melemahkan daya saing produk lokal, memicu depresiasi rupiah.

Upaya Bank Indonesia Menjaga Stabilitas

Bank Indonesia (BI) telah mengambil langkah-langkah stabilisasi, termasuk meningkatkan intensitas intervensi di pasar.

BI juga menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% sebagai respons terhadap tekanan terhadap rupiah.

Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan komitmen Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar offshore NDF dan domestik DNDF.

Namun, Josua Pardede, Ekonom Bank Permata, mencatat bahwa pengalaman sejumlah negara Asia menunjukkan kenaikan suku bunga tidak selalu mampu memberikan dukungan jangka panjang terhadap mata uang domestik.

Dampak Pelemahan Rupiah bagi Masyarakat dan Bisnis

Pelemahan rupiah berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat dan sektor bisnis.

Harga barang impor, termasuk bahan baku produksi, cenderung meningkat.

Biaya produksi naik, yang pada gilirannya dapat mendorong kenaikan harga energi dan barang-barang konsumsi.

Ruang gerak dunia usaha menjadi semakin sempit karena peningkatan biaya operasional dan ketidakpastian ekonomi.

Meskipun demikian, pelemahan rupiah tidak secara otomatis mendorong ekspor, seperti yang ditunjukkan oleh analisis Center of Macroeconomics and Finance (MacFin) INDEF.

Proyeksi dan Harapan di Tengah Ketidakpastian

Proyeksi pergerakan rupiah ke depan bervariasi di kalangan ekonom dan analis.

Josua Pardede memperkirakan rupiah pada semester II-2026 akan bergerak di kisaran Rp17.300 hingga Rp17.900 per dolar AS.

Skenario positif, seperti gencatan senjata AS-Iran, penurunan harga minyak, pelemahan dolar AS, dan masuknya kembali modal asing, berpotensi menguatkan rupiah ke Rp17.000 hingga Rp17.300 per dolar AS pada akhir tahun.

Namun, ekonom Syafruddin Karimi memproyeksikan rupiah dapat bergerak di rentang yang lebih lemah, yaitu Rp17.900 – Rp18.400 per dolar AS pada semester II-2026.

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi bahkan memprediksi potensi rupiah merosot hingga Rp19.000 per dolar AS dalam waktu dekat, khususnya sepanjang bulan Juni ini.

Di sisi lain, Gubernur BI Perry Warjiyo pernah memperkirakan rata-rata pergerakan nilai tukar rupiah pada 2026 akan berada di rentang Rp16.000-Rp16.500 per dolar AS, berdasarkan fundamental ekonomi Indonesia yang stabil.

Meskipun demikian, realitas pasar saat ini jauh melampaui asumsi nilai tukar dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp16.500 hingga Rp16.900 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah menjadi cerminan kekuatan dan kelemahan yang perlu diperbaiki dalam fondasi ekonomi nasional, mendorong kebijakan yang lebih visioner dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses