PortalMadura.com – Nilai tukar Rupiah terus menunjukkan tren pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pertengahan Juni 2026, memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar dan masyarakat.
Pada Jumat, 19 Juni 2026, rupiah dibuka melemah 0,30 persen atau 54 poin di pasar spot exchange, mencapai level Rp 17.848 per dolar AS.
Angka ini menunjukkan penurunan dari penutupan sehari sebelumnya, Kamis, 18 Juni 2026, yang berada di posisi Rp 17.794 per dolar AS.
Baca Juga:
Secara lebih luas, rupiah telah terdepresiasi 6,91 persen secara year-to-date (ytd) dari posisi awal tahun 2026 di Rp 16.725 per dolar AS.
Bahkan, mata uang Garuda ini sempat menyentuh level Rp 18.005 per dolar AS pada 3 Juni 2026, menandai titik terlemah dalam setahun terakhir.
Langkah Agresif Bank Indonesia Hadapi Tekanan
Menanggapi pelemahan ini, Bank Indonesia (BI) telah melakukan serangkaian kebijakan moneter yang agresif dalam kurun waktu kurang dari sebulan.
Terakhir, pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 17-18 Juni 2026, BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen.
Keputusan ini juga diikuti dengan kenaikan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,75 persen dan Lending Facility menjadi 6,50 persen.
Sebelumnya, BI telah menaikkan BI-Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen pada 19-20 Mei 2026.
Kenaikan berlanjut pada 9 Juni 2026 dengan tambahan 25 bps menjadi 5,50 persen, sebuah langkah luar biasa yang diambil di luar jadwal RDG bulanan.
Secara total, BI telah mengerek suku bunga acuan sebanyak 100 bps dalam rentang waktu kurang dari satu bulan.
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa kenaikan suku bunga ini bertujuan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global yang tinggi.
BI juga aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing, baik melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, maupun Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri.
Penguatan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada tenor 6, 9, dan 12 bulan juga dilakukan untuk menarik investasi portofolio asing.
Faktor Global dan Domestik Pendorong Pelemahan Rupiah
Tekanan Eksternal: Kebijakan The Fed dan Geopolitik
Pelemahan rupiah sebagian besar dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) AS.
The Fed mempertahankan suku bunga tetap stabil tetapi mengisyaratkan potensi kenaikan lebih lanjut, didorong oleh inflasi AS yang masih di 4,2 persen, jauh di atas target 2 persen.
Prospek kenaikan suku bunga The Fed membuat dolar AS menguat signifikan, mencapai level tertinggi dalam setahun terakhir pada 18 Juni 2026.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut penguatan dolar AS ini sebagai pemicu utama pelemahan rupiah saat ini.
Tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury tenor 10 tahun mencapai 4,47 persen) juga memicu pelarian modal dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik AS-Iran, terus menekan harga minyak dunia.
Harga minyak mentah diperdagangkan sekitar 95,15 dolar AS per barel pada 4 Juni 2026, sekitar 50 persen lebih tinggi dibanding setahun sebelumnya.
Kenaikan harga minyak meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi Indonesia, sehingga menekan rupiah.
Dana Moneter Internasional (IMF) juga memproyeksikan inflasi global akan meningkat menjadi 5,4 persen pada tahun 2026, yang turut berkontribusi pada tekanan terhadap mata uang.
Faktor Internal: Defisit dan Kebutuhan Valas
Dari sisi domestik, beberapa faktor turut memperkeruh kondisi rupiah.
Indonesia sebagai net importer energi sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak global, yang meningkatkan permintaan dolar AS.
Defisit neraca pembayaran sebesar 9,1 miliar dolar AS pada kuartal I 2026 juga menjadi sinyal tekanan eksternal yang signifikan.
Selain itu, terdapat kebutuhan dolar AS musiman antara April hingga Juni untuk pembayaran repatriasi dividen, utang luar negeri, dan biaya jamaah haji.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa sumber tekanan rupiah berasal dari banyak jalur, termasuk impor energi, arus keluar modal, dan keraguan terhadap arah kebijakan.
Tekanan fiskal dan semakin sempitnya ruang fiskal pemerintah juga menjadi perhatian, terutama terkait beban pembayaran utang luar negeri dan subsidi energi.
Sentimen pasar dan spekulasi negatif yang dipicu oleh ketidakpastian politik atau ekonomi domestik juga dapat mempercepat aksi jual dan pelemahan rupiah.
Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Ekonomi Nasional
Pelemahan rupiah memiliki dampak langsung dan tidak langsung terhadap perekonomian Indonesia.
Salah satu dampak paling terasa adalah kenaikan harga barang impor, yang memicu inflasi impor dan menggerus daya beli masyarakat.
Produk-produk seperti daging, telur, dan susu yang masih bergantung pada impor berpotensi mengalami kenaikan harga.
Biaya operasional Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menggunakan bahan baku impor juga meningkat.
Beban pembayaran utang luar negeri pemerintah dan korporasi otomatis membengkak karena memerlukan lebih banyak rupiah untuk melunasinya.
Biaya studi di luar negeri, publikasi jurnal internasional, serta pengadaan alat kesehatan dan obat-obatan impor juga menjadi lebih mahal.
Meskipun demikian, dosen Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Dr. Imelda Dian Rahmawati, menilai bahwa pelemahan rupiah ini belum tentu menjadi tanda krisis ekonomi.
Prospek dan Tantangan Rupiah ke Depan
Ke depan, prospek rupiah masih akan bergantung pada meredanya ketegangan global dan efektivitas kebijakan domestik.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memproyeksikan rupiah pada semester II-2026 akan bergerak di kisaran Rp 17.300 hingga Rp 17.900 per dolar AS.
Dalam skenario positif, jika gencatan senjata AS-Iran efektif, harga minyak dunia menurun, dan arus modal asing kembali masuk, rupiah berpotensi menguat ke Rp 17.000 hingga Rp 17.300 per dolar AS.
Namun, jika tekanan global berlanjut, rupiah masih berpeluang menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan keyakinannya bahwa rupiah undervalued dan seharusnya menguat, didukung oleh imbal hasil yang menarik, pasar keuangan domestik yang lebih dalam, dan pertumbuhan ekonomi yang tangguh.
BI akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk memitigasi kenaikan inflasi impor dan menjaga inflasi 2026-2027 tetap dalam sasaran 2,5±1 persen.
Sinergi antara BI dan pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal serta efektivitas kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) sangat krusial untuk menambah pasokan devisa.
Stabilitas rupiah tidak hanya bergantung pada suku bunga, tetapi juga pasokan devisa yang memadai dan kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan ekonomi.




