oleh

Sanggar Tarara, Wujud Kebangkitan Kesenian Bangkalan (Part-3)

Potongan kain tersebut kemudian dirangkai sedemikian rupa dan dengan segala cara oleh Pa’ong, termasuk pembuatan asesoris, hingga menjadi kostum tari. Kalaupun perlu ditambah jahitan agar lebih kuat, Sudarsono akan membawanya ke salah satu penjahit yang mendukung aktifitas wadah tarinya.

Kekosongan Personil Kostum

Koleksi kostum Sanggar Tarara yang tersimpan rapi dalam lemari kaca di rumah Septi Indrawati. (Foto: Istimewa)

Episode penuh perjuangan perihal kostum telah jadi sejarah yang mengiringi proses berkesenian Sudarsono hingga terbentuknya Sanggar Tarara. Episode yang hanya bisa dikenang, dan bukan untuk diulang. Sejarah yang kiranya pantas dijadikan pembakar semangat bagi semua elemen sanggar untuk terus berkreasi, berinovasi, dan bereksplorasi lewat tarian.

Loading...

Barulah di awal-awal tahun 2000-an sanggar ini membuat kostum sendiri. Kini tanggung jawab pengerjaan kostum dipercayakan pada Septiana Indrawati (30). Keterlibatan perempuan yang awalnya jadi anak didik sanggar di tahun 2000 ini tak lepas dari situasi yang terjadi saat itu.

Oleh karena tergolong anak didik yang rajin berlatih dan cepat menangkap materi latihan, ia kemudian diberi tanggung jawab melatih satu kelompok tari katagori anak. Saat menginjak bangku sekolah menangah atas (SMA), ia menerima tugas lain sebagai penanggung jawab apabila ada pihak luar yang ingin menggunakan jasa penari Sanggar Tarara untuk acara resepsi pengantin, penyambutan tamu, dan sebagainya.

Porsi melatih anak didik yang dilakoni Septi perlahan berkurang seiring kesibukan baru di managemen sanggar yang mengarah ke nilai komersil. Dialah yang mengatur kerjasama dengan pihak luar. Di sela-sela itu ia melihat adanya kekosongan personil yang menangani kostum.

Dari sekedar …


Penulis : Agus Hidayat
Editor : Putri Kuzaifah


Berita PortalMadura
Loading...

Komentar