oleh

Sanggar Tarara, Wujud Kebangkitan Kesenian Bangkalan (Part-3)

Tahap selanjutnya menuangkan konsep langsung dalam bentuk pola. Pemotongan dan penjahitan kostum dilakukan sendiri oleh Septi. Setelah kostum bagian atas dan bawah jadi barulah dibawa ke sanggar untuk ditunjukkan ke koreografer. Selesainya pengerjaan bagian utama kemudian dilanjutkan dengan pemasangan asesoris.

Septi Indrawati sedang merias penari anak-anak dibantu rekannya di Sanggar Tarara. (Foto: Istimewa)

“Berdasarkan pengalaman, pembuatan kostum paling lama memakan waktu sebulan. Jika saya bisa mengerjakannya secara kontinyu, kostum bisa selesai dalam waktu 15 hari. Jadi tergantung situasi dan kondisi yang saya alami saat pengerjaan,” tutur Septi yang menganggap kostum Tari Lengge’ sebagai kostum paling berkesan yang pernah dibuatnya.

Loading...

Jumlah kostum yang dibuat haruslah melebihi jumlah penari. Semisal penarinya tujuh orang, maka Septi harus membuat sepuluh kostum. Sisa kostum yang tak digunakan nantinya bisa disewakan untuk acara karnaval, wisuda sekolah, dan sebagainya. Oleh karena pembuatannya menggunakan dana sanggar, kostum otomatis jadi aset sanggar.

Selain sebagai salah satu sumber pendapatan sanggar, uang sewa kostum juga dipakai untuk pembuatan kostum baru serta kebutuhan sanggar lainnya. Sumber pendapatan lain datang dari jasa rias. Biasanya, jasa sewa kostum juga diikuti jasa rias. Tak heran bila Septi harus menjalani skedul cukup padat lantaran menerima permintaan jasa rias di beberapa tempat. Bersambung Part-4 (*)

Penulis : Agus Hidayat
Editor : Putri Kuzaifah
Berita PortalMadura
Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

portalmadura.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE