Sumenep Garap Energi Terbarukan, BRIN dan Akademisi Kolaborasi Wujudkan Kemandirian Energi

Avatar of PortalMadura.com
Sumenep Garap Energi Terbarukan, BRIN dan Akademisi Kolaborasi Wujudkan Kemandirian Energi
Sumenep Garap Energi Terbarukan, BRIN dan Akademisi Kolaborasi Wujudkan Kemandirian Energi
PortalMadura.comPemerintah Kabupaten Sumenep mulai memasukkan isu energi bersih dan berkelanjutan sebagai prioritas utama dalam perencanaan pembangunan lima tahun ke depan. Langkah konkret ditandai dengan kunjungan tim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama kalangan akademisi ke Kantor Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumenep pada Selasa, 27 Januari 2026, untuk membahas koordinasi kebijakan Energi Baru Terbarukan (EBT).
Pertemuan strategis ini menjadi fondasi awal transformasi arah pembangunan daerah berbasis keberlanjutan, seiring meningkatnya tantangan ketahanan energi dan tekanan ekonomi di wilayah kepulauan Madura bagian timur tersebut.
Kepala Bappeda Sumenep Arif Firmanto menegaskan, persoalan energi kini telah bergeser dari sekadar ketersediaan pasokan menjadi isu strategis keberlanjutan pembangunan jangka panjang. “Transisi menuju energi baru terbarukan bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan. Kami harus menyiapkannya dengan kebijakan matang, terencana, dan berbasis riset ilmiah,” ujar Arif kepada TribunMadura.com, Selasa (27/1/2026).
Arif mengakui pemerintah daerah tidak dapat bekerja sendiri dalam merancang kebijakan energi yang komprehensif. Kehadiran BRIN dinilai strategis sebagai mitra dalam menyediakan basis data akurat, kajian potensi energi lokal, hingga pengembangan teknologi tepat guna yang sesuai karakteristik geografis Sumenep.
“BRIN memiliki kapasitas riset yang dibutuhkan untuk memetakan potensi tenaga surya, biomassa, biogas, hingga energi berbasis kearifan lokal yang melimpah di Sumenep,” jelasnya.
Lebih lanjut, Arif menegaskan komitmen Bappeda Sumenep menjadikan kebijakan EBT sebagai bagian integral dalam seluruh dokumen perencanaan pembangunan daerah. Mulai dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2026-2031, hingga Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) tahunan.
“Pengembangan EBT akan kami arahkan secara terintegrasi dan berkelanjutan, bukan sekadar program seremonial atau jangka pendek,” tegasnya.
Kabupaten Sumenep yang terdiri dari 128 pulau dinilai memiliki potensi besar pengembangan energi terbarukan. Wilayah pesisir yang mendapat paparan sinar matahari optimal cocok untuk panel surya, sementara sektor pertanian dan peternakan yang masih dominan menyimpan potensi besar pengembangan biomassa dan biogas.
Namun, Arif menekankan potensi tersebut membutuhkan pendekatan riset dan inovasi agar dapat dimanfaatkan secara optimal dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal. Kolaborasi dengan BRIN dan kalangan akademisi diharapkan menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan praktik pembangunan di tingkat daerah.
“Yang kami dorong adalah kebijakan aplikatif yang bisa langsung diterapkan di masyarakat, bukan sekadar konsep di atas kertas,” pungkasnya.
Langkah Sumenep ini sejalan dengan komitmen nasional mencapai net zero emission pada 2060 sekaligus menjawab tantangan ketergantungan daerah kepulauan terhadap pasokan BBM yang kerap terkendala cuaca dan logistik. Dengan roadmap EBT yang terintegrasi dalam perencanaan pembangunan, Sumenep berpotensi menjadi pilot project transisi energi di kawasan kepulauan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses