oleh

Tega! Proses Parsalinan Tak Dilayani, Ibu Muda Lahir di Teras Rumah, Bidan Minta Bayaran Rp800 Ribu

PortalMadura.Com, Sampang – Seorang perempuan berumur 25 tahun, Aljannah, warga Dusun Taman, Desa Ketapang Laok, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, mendadak melahirkan di depan rumah bidan, SF.

Suaminya, Zainuri (29) menceritakan, istrinya melahirkan sekitar pukul 22.00 WIB, 4 Juli 2020 di depan rumah bidan Desa Ketapang Barat, Kecamatan Ketapang dengan keadaan pendarahan.

Untuk sampai ke rumah bidan desa, Aljannah dibonceng menggunakan motor oleh suaminya. Namun, harapan mendapat pelayanan dari sang bidan justru pupus. Zainuri memanggil-manggil ibu bidan SF tidak mendapat respon.

“Tapi suami bidan yang merespon, bahwa istrinya (bidan) sedang sakit,” katanya, Selasa (7/7/2020).

Tidak berselang lama, anak dari bidan itu juga menyampaikan jika ibunya tidak bisa melayani pasien. Alasannya, tidak ada asistennya.

Puncaknya, Aljannah meronta kesakitan hingga warga di sekitar rumah bidan berdatangan. Dan akhirnya Aljannah melahirkan tanpa sentuhan tangan bidan SF.

“Sebelum lahir, saya sempat menghubungi keluarga untuk datang membantu istri,” ujarnya.

Anehnya, begitu Aljannah melahirkan bayi berjenis kelamin perempuan dengan normal, sang bidan SF baru menghampiri Aljannah dan disarankan masuk ke ruang praktik bidan untuk dibersihkan.

“Selesai dibersihkan, bayi diletakkan di inkubator selama kurang lebih lima belas menit,” terangnya.

Yang semakin membuat suami Aljannah heran, bidan masih tega meminta bayaran yang nilainya cukup besar.

“Kami masih membayar Rp 800 ribu kepada bidan. Keesokan harinya, istri saya mengalami pendarahan dan wajahnya pucat,” ucapnya.

Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) wilayah Sampang, Rosidah menjelaskan, tarif Rp 800 ribu untuk pasien melahirkan di rumah bidan yang membuka praktik mandiri dinilai sangat wajar.

“Tarif Rp 800 ribu untuk pasien melahirkan itu wajar. Bidan praktik tidak ada standar harga dalam mematok tarif,” dalihnya.

Terpisah, anggota DPRD Sampang, Abdus Salam, menyayangkan sikap oknum bidan yang dinilainya tidak memiliki jiwa kemanusiaan. Proses persalinan tidak dilayani namun harus membayar hingga Rp 800 ribu.

“Dinas kesehatan harus menindaklanjuti kasus ini, agar ke depan tidak terjadi insiden yang sama. Cabut izin praktik bidan itu. Tugas bidan bukan hanya mencari keuntungan finansial belaka tapi nasib pasien sangat perlu diperhatikan,” tandasnya.(*)

Penulis : Rafi
Editor : Oktaviana Dwi KK
Tirto.ID
Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

portalmadura.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE