oleh

Wujud Kebangkitan Kesenian Bangkalan, Sanggar Tarara Konsisten Garap Tiga Konsep Tarian (Part-2)

Guna memperkaya referensi, Sudarsono kerapkali menyaksikan pertunjukan tari di Gedung Cak Durasim Taman Budaya Surabaya. Lain itu, ia banyak melibatkan diri dalam acara diskusi, saresehan, ataupun workshop tari di berbagai kota (Solo, Yogyakarta, Surabaya, dan empat kabupaten di Madura). Tak terkecuali obrolan non formal dengan para pelaku seni diluar tari.

Roda kehidupan memang harus berputar. Dari yang semula banyak menimba ilmu, kini ia pantas menyandang predikat seniman tari dengan puluhan karya yang banyak terinspirasinya dari adat istiadat, budaya, serta tingkah polah keseharian rakyat Madura. Sumber inspirasi tersebut akan terus ia gali untuk direpresentasikan menjadi karya tari baru di Sanggar Tarara.

Setidaknya ada tiga karya tari yang menurutnya berkesan. Pertama Tari Andolenan Bahhong. Tarian beraura mistis ini diangkat dari ritual memuja leluhur yang ada di Desa Katol, Kecamatan Geger, Bangkalan. Durasi tarian ini cukup lama, sekitar 15 menit. Pertama kali ditampilkan pada ajang festival tari Pekan Budaya Jawa Timur di Malang tahun 2001.

Loading...

“Oleh karena tarian ini beraura mistis, sejumlah kejadian pernah kami alami. Ada penari yang pingsan usai tampil, ada pula yang kerasukan. Saat tampil tangan pemain gendang tiba-tiba kram. Saya bahkan pernah melihat ada sosok tinggi-besar diantara para penari,” ujar Sudarsono.

Kedua adalah Tari Pasemoan Kerabhen Sape yang hingga kini ditampilkan setiap kali ada kerapan sapi di Bangkalan. Menurut Sudarsono, tarian semacam ini sebelumnya telah ada, ciptaan para seniornya, namun ia menciptakan dengan gayanya sendiri.

“Saya tak menampik …


Penulis : Agus Hidayat
Editor : Hartono


Berita PortalMadura Aplikasi Android PortalMadura
Loading...

Komentar