oleh

Wujud Kebangkitan Kesenian Bangkalan, Sanggar Tarara Konsisten Garap Tiga Konsep Tarian (Part-2)

“Saya tak menampik kalau referensi penggarapan tari ini juga datang dari tari ciptaan sebelumnya. Hanya saja saya mencoba untuk mempertegas gerakan tari hingga nuansa Bangkalan terlihat kental. Demikian pula dengan penggarapan musiknya,” cetus pria berkacamata ini.

Sedang tari ketiga adalah Tari Kamantakah, yang mengambil inspirasi dari budaya dan kehidupan lingkungan kraton. Kamantakah adalah tari penyambutan atau tari selamat datang bagi tamu, pejabat, atau orang penting. Proses penciptaannya memakan waktu bertahun-tahun. Tarian yang di Kraton Solo atau Kraton Yogyakarta disebut Tari Bedoyo ini sangat diimpikan Sudarsono.

Alasannya, di Bangkalan pernah berdiri kraton (Kesultanan Bangkalan), yang merupakan bagian dari perjalanan panjang Kerajaan Madura Barat. Lokasi kraton kini telah beralih fungsi menjadi Markas Kodim 0829, yang berdampingan dengan Pendopo Agung Bangkalan. Sampai sekarang tari Kamantakah sering ditampilkan sebagai pembuka dalam acara tertentu.

Sudarsono juga seorang pemain serta penata musik tradisional. Hampir semua jenis musik tradisional di Madura ia kenal dan bisa memainkannya. Tak sedikit pula sumbangsih ide, pemikiran, serta gagasannya telah tercurah untuk memberi warna baru bagi kehidupan kesenian di Bangkalan.

Latihan Beralaskan Paving

Loading...
Aktifitas latihan tari usia anak di Sanggar Tarara. (Foto: Istimewa)

Berawal di Pendopo Agung Bangkalan, dan kini menempati Stadion Kerapan Sapi RP. Mochamad Noer sebagai tempat latihan. Tercatat lebih dari lima kali Sudarsono memindahkan anak didiknya berlatih. Untuk mencari tempat latihan baru, saat harus pindah dari tempat latihan lama, ia harus memohon ijin pada pemilik tempat ataupun pimpinan suatu instansi.

Sungguh perjuangan …

Halaman: 1 2 3 4 5 6

Penulis : Agus Hidayat
Editor : Hartono

Komentar