oleh

11 Tahun SKHU Di Tahan Sekolah, Wali Murid Ngamuk

SUMENEP (PortalMadura) – Wali murid sekolah Sya’airunnajah, Dusun Bindung Dua, Desa Lenteng Barat, Kecamatan Lenteng, Sumenep, Madura, Jawa Timur mengamuk. Mereka memprotes kebijakan sekolah yang menahan Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN) putra-putrinya.

Lembaga Sya’airunnajah, mengelola lembaga dari Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD) dan Matrasah Tsanawiyah (setingkat SMP). Para siswa lulusan dua tingkatan lembaga tersebut, mayoritas SKHUN-nya tidak diberikan pada saat pelulusan.

“SKHU tidak diberikan. Ada yang sudah lulus tahun 2002 lalu, sampai sekarang tidak diberikan,” kata Nur Masyhudi (42), salah seorang wali murid, Rabu (18/12/2013).

Para wali murid tersebut datang ke sekolah putra-putrinya sambil mencak-mencak. Bahkan, ada yang membawa batu gunung dan siap melempari gedung sekolahnya. Untung, wali murid lain mampu menahan emosi mereka.

Tidak tahu pasti alasan sekolah kenapa SKHUN milik siswa tidak diberikan oleh pihak sekolah. Namun, wali murid yang lain mengartikan agar siswa lulusan sekolah Sya’airunnajah tidak melanjutkan ke lembaga lain.

Wali murid juga mengaku dipungut biaya tambahan sebesar Rp300 ribu untuk mengeluarkan ijasah. “Kalau ijasah sudah diberikan, tapi harus bayar dulu 300 ribu rupiah,” ujarnya.

Para wali murid tersebut mengaku sangat membutuhkan SKHUN putra-putrinya, sebab saat ini ada yang sudah kelas 3 Madrasah Aliyah (setingkat SMA) di lembaga lain.

“Anak saya melanjutkan ke lembaga lain. Sekarang sudah kelas 3, tapi SKHU-nya juga tidak diberikan,” imbuh wali muraid lainnya.

Pihak wali murid sudah sering menanyakan pada pihak sekolah, namun tidak mendapatkan jawaban konkrit. Bahkan, salah seorang alumninya hanya menemukan foto copy SKHUN atas nama dirinya. “Kami sempat liat hanya foto copy yang ditunjukan pihak sekolah. Aslinya tidak ada,” tegas Arifin, alumni Sya’airunnajah.

Sementara, salah seorang pembantu Yayasan Sya’airunnajah, Isom Rabbani mengaku tidak tahu alasan pihak sekolah menahan SKHUN milik siswa.

“Saya tidak tahu, mas! Kalau soal menebusan ijasah harus membayar, itu seikhlasnya kok. Ada yang memberi sumbangan dalam bentuk barang berupa semen,” tandasnya.(htn).


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.