oleh

5 Cara Atasi Balita yang Berperilaku Posesif

PortalMadura.Com – Di masa tumbuh kembang balita, Anda sebagai orang tua akan mengalami momen di mana anak menjadi sangat posesif pada benda atau orang yang ada di sekitar mereka.

Biasanya, mereka akan beranggapan bahwa apapun yang ada di dekatnya, baik berupa benda atau orang di sekitarnya adalah miliknya. Sehingga, orang lain tidak diperbolehkan untuk menyentuh dan memilikinya.

Apabila ada orang yang berani menyentuh mainannya, mereka akan marah. Atau jika makanannya diminta, mereka akan menangis. Selain itu, misalnya ketika orang tuanya harus berangkat kerja, anak kemudian menjadi histeris.

Walaupun hal ini terkesan menjengkelkan, perilaku posesif ini merupakan tahapan normal dalam perkembangan usia mereka. Dengan kata lain, di usianya itu, wajar terjadi dan dialami oleh anak.

Tapi, kenapa balita bisa jadi posesif?. Perlu Anda ketahui, fase posesif biasanya dimulai sejak anak berusia 18 bulan hingga 4 tahun. Fase ini merupakan tahap perkembangan yang normal, karena di fase ini balita belajar untuk memahami konsep kepemilikan, ikatan, dan identitas dirinya.

Sebuah studi terdahulu juga menyebutkan bahwa perilaku posesif yang dikenal dengan istilah “endowment effect” tidak hanya dimiliki oleh orang dewasa, tapi juga balita. Apa itu endowment effect?.

Endowment effect adalah istilah yang menunjukkan bahwa seseorang cenderung menganggap barang-barang yang dimilikinya lebih berharga hanya karena barang tersebut milikinya.

Dilansir PortalMadura.Com, Kamis (26/12/2019) dari laman Hellosehat.com, seorang psikolog perkembangan anak di University of Michigan juga menjelaskan bahwa pemikiran balita masih sangat sederhana.

Di usia 2 hingga 4 tahun, balita menyadari bahwa ia bisa mengklaim suatu barang atau orang sebagai miliknya hanya lewat kata-kata seperti, “Ini punyaku!”. Jadi jangan heran jika anak Anda akan mengklaim semua benda yang ia sukai sebagai miliknya.

Selain itu, di usia balita, mereka juga mulai menyadari eksistensi diri. Misalnya waktu bayi mereka akan bercermin dan mengira bahwa yang ia lihat di cermin adalah bayi lain. Sedangkan balita sudah tahu bahwa pantulan di cermin adalah dirinya sendiri.

Maka, seiring dengan perkembangan kesadaran balita akan eksistensi dan identitasnya, balita juga mulai menyadari kepemilikannya. Balita akan merasakan bahwa identitasnya semakin kuat jika ia berhasil mengklaim sesuatu sebagai miliknya dan disepakati oleh orang lain.

Apakah Anak Posesif Bisa Berubah?

Menghadapi anak posesif memang sulit dan penuh tantangan. Namun, yang perlu Anda ketahui adalah sharing atau berbagi bukanlah konsep yang bisa diterima dengan mudah oleh anak-anak.

Jadi, jika Anda ingin melatih anak posesif jadi lebih ikhlas berbagi, maka Anda perlu membimbing anak Anda dengan sabar. Belajar berbagi untuk anak itu membutuhkan proses dari waktu ke waktu.

Berikut adalah beberapa langkah yang bisa Anda ambil untuk membantu prosesnya:

1. Latih anak Anda untuk mulai berbagi dengan orang tuanya sendiri. Ini akan lebih mudah karena mereka tahu Anda tidak akan merebutnya, dan mereka bisa meminta mainan mereka kembali.

2. Sering-sering pergi ke taman bermain. Ajak si kecil untuk main di luar. Ini adalah tempat terbaik untuk anak belajar bersosialisasi, berbagi mainan, dan main bergantian bersama dengan teman-temannya. Kalau anak mau membawa mainan sendiri dari rumah, mintalah anak Anda untuk menyisihkan setidaknya satu mainan yang boleh dipinjamkan pada orang lain.

3. Minta anak untuk meminjamkan barang yang mereka punya banyak. Misalnya buku cerita, lego, krayon, dan lain-lain. Pasalnya, berbagi hal-hal yang jumlahnya banyak tentu akan lebih mudah.

4. Bersabarlah saat mengajari anak Anda berbagi. Lama-lama fase anak posesif ini akan berkurang juga seiring dia mulai mengerti tentang arti kepemilikan.

5. Menjadi teladan. Selain karena memang sedang melewati fase tertentu, anak posesif juga bisa meniru perilaku negatif ini dari lingkungan di sekitarnya.

Baca Juga : Mams Lakukan Ini Bila Si Batita Anda Posesif

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk menjadi teladan bagi anak dengan mau saling berbagi. Hindari berebut hal-hal yang sepele atau tidak perlu di depan anak.

Rewriter : Putri Kuzaifah
Sumber : hellosehat.com

Komentar