oleh

Ini 5 Cara Didik Anak Ala Nabi Ibrahim

PortalMadura.Com – Setiap pasangan kekasih yang menikah, kehadiran seorang anak tentu menjadi harapan dan keinginan bersama. Bukan tanpa alasan, hadirnya seorang anak bisa melanjutkan keturunan dalam sebuah keluarga.

Selain itu, anak juga akan membuat kehidupan rumah tangga menjadi berwarna dan semakin harmonis. Hal ini sebenarnya tidak hanya menjadi harapan orang tua, tapi juga menjadi suatu hal yang dinanti oleh Rasulullah. Sebagaimana anjurannya;

Kawinilah wanita yang kamu cintai lagi subur (banyak melahirkan) karena aku akan bangga dengan banyaknya kamu terhadap umat lainnya,” (HR. Al-Hakim).

Itulah anjuran Rasulullah SAW kepada umatnya untuk memiliki keturunan. Tentu saja anak yang dinanti adalah anak yang akan menjadi umatnya Nabi Muhammad SAW.

Dari pernyataan di atas dapat diambil gambaran bahwa ada satu amanah yang dipikul oleh kedua orang tua, yaitu bagaimana menjadikan atau mentarbiyah anak titipan Allah itu menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad SAW.

Nah, untuk menjadi bagian dari umat Rasulullah tersebut harus memiliki karakteristik yang disebutkan oleh Allah SWT:

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu Kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya Karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar,” (QS. Al-Fath, 48: 29).

Jadi, karakteristik umat Rasulullah adalah: [1] keras terhadap orang Kafir, keras dalam prinsip, [2] berkasih sayang terhadap sesama umat Muhammad, [3] mendirikan salat, [4] terdapat dampak positif dari aktivitas salatnya, sehingga orang-orang yang lurus, yang hanif menyukainya dan tentu saja orang-orang yang turut serta mentarbiyahnya.

Sedangkan untuk mentarbiyah anak yang akan menjadi bagian dari Umat Muhammad SAW, Anda mengambil dari caranya Nabi Ibrahim, yang Allah ceritakan dari isi doanya Nabi Ibrahim dalam surat Ibrahim berikut ini:

Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Aku Telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur.

Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.

Segala puji bagi Allah yang Telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha mendengar (memperkenankan) doa.

Ya Tuhanku, jadikanlah Aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.

Ya Tuhan kami, beri ampunlah Aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat),” (Ibrahim: 37-41).

Dari doanya itu Anda tentu bisa melihat bagaimana cara Nabi Ibrahim mendidik anak, keluarga dan keturunannya yang hasilnya sudah bisa Anda ketahui bersama, di mana kedua anaknya Ismail dan Ishaq menjadi manusia pilihan Allah:

Lantas, bagaimana caranya?. Berikut penjelasannya sebagaimana dilansir PortalMadura.Com, Kamis (28/11/2019) dari laman Islampos.com:

Mencari, Membentuk Biah yang Salihah

Representasi biah, lingkungan yang salihah bagi Nabi Ibrahim Baitullah (rumah Allah), dan kalau Anda adalah masjid (rumah Allah). Maka, Anda bertempat tinggal dekat dengan masjid atau anak-anak Anda lebih sering ke masjid, mereka mencintai masjid. Bukankah salah satu golongan yang mendapat naungan Allah di saat tidak ada lagi naungan adalah pemuda yang hatinya cenderung kepada masjid.

Kendala yang mungkin Anda akan temukan adalah teladan. Padahal, belajar yang paling mudah itu adalah meniru dari ayah, sedangkan ayahnya berangkat kerjanya ba’da subuh yang mungkin tidak sempat ke masjid dan pulangnya sampai rumah ba’da Isya. Praktisnya, anak tidak melihat contoh salat di masjid dari orang tuanya selama ia di rumah.

Selain itu, kendala yang sering Anda temui yaitu mencari masjid yang ramah anak. Sejauh ini, masih banyak pengurus masjid dan jemaah yang terlihat kurang suka melihat anak dan khawatir terganggu kekhusukannya dan ini dipengaruhi oleh pengalamannya selama ini bahwa anak-anak sulit untuk tertib di masjid.

Mentarbiyah Anak Agar Mendirikan Salat

Mendirikan salat ini merupakan karakter umat Nabi Muhammad SAW sebagaimana yang uraian di atas. Nabi Ibrahim bahkan lebih khusus di ayat yang ke-40 dari surat Ibrahim berdoa agar anak keturunannya tetap mendirikan salat.

Sebab, salat merupakan salah satu pembeda antara umat Nabi Muhammad SAW dengan yang lainnya. Salat merupakan sesuatu yang sangat penting, mengingat Rasulullah SAW memberikan arahan tentang keharusan pembelajaran salat kepada anak: suruhlah anak salat pada usia 7 tahun, dan pukullah bila tidak salat pada usia 10 tahun.

Rasulullah membolehkan memukul anak di usia 10 tahun kalau dia tidak melakukan salat dari pertama kali disuruh di usia 7 tahun. Ini artinya ada masa 3 tahun, orang tua untuk mendidik anak-anaknya untuk salat. Dan waktu yang cukup untuk melakukan pendidikan salat.

Baca Juga : Umat Muslim, Ini 5 Cara Mendidik Anak Agar Salat Sejak Usia Dini

Dalam proses mendidik tersebut, tentunya setiap orang tua akan menghadapi berbagai tantangan. Dengan kata lain, proses tarbiyah anak dalam melakukan salat, sering mengalami gangguan dari berbagai kalangan dan lingkungan.

Dari pendisiplinan formal di sekolah dan di rumah, kadang membuat kegiatan salat menjadi kurang mulus dan bahkan fatal, terutama cara membangun citra salat dalam pandangan anak.

Baru-baru ini, ada seorang suami yang diadukan oleh istrinya tidak pernah salat kepada ustazahnya, ketika ditanya penyebabnya, ternyata dia trauma dengan perintah salat. Setiap mendengar perintah salat maka terbayang mesti tidur di luar rumah, karena ketika kecil bila tidak salat harus keluar rumah.

Sehingga kesan yang terbentuk di kepala anak kegiatan salat itu tidak enak, tidak menyenangkan, dan bahkan menyebalkan. Kalau hal ini terbentuk bertahun-tahun tanpa ada koreksi, maka sudah bisa dibayangkan hasilnya, terbentuknya seorang anak (muslim) yang tidak salat.

Mentarbiyah Anak agar Disenangi Banyak Orang

Orang senang bergaul dengan anak Anda, seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW: “Berinteraksilah dengan manusia dengan akhlaq yang baik” [HR. Bukhari]. Anak kita diberikan cerita tentang Rasulullah SAW, supaya muncul kebanggaan dan kekaguman kepada nabinya, yang pada gilirannya menjadi Rasulullah menjadi teladannya. Kalau anak kita dapat meneladani Rasulullah SAW berarti mereka sudah memiliki akhlaq yang baik karena sebagaimana kita ketahui Rasulullah memiliki akhlaq yang baik seperti pujian Allah di dalam al-Quran: “Sesungguhnya engkau [Muhammad] berakhlaq yang agung” (Al-Qalam, 68: 4).

Selain itu, perlu juga mentarbiyah anak agar dapat menjemput rezki yang Allah telah siapkan bagi setiap orang. Dalam hal ini, anak ditarbiyah untuk memiliki life skill (keterampilan hidup) dan skill to life (keterampilan untuk hidup). Rezki yang telah Allah siapkan. Setelah itu anak diajarkan untuk bersyukur.

Mentarbiyah Anak dengan Mempertebal Terus keimanan

Perlu Anda ketahui, cara keempat ini perlu Anda terapkan sampai merasakan kebersamaan dan pengawasan Allah kepada mereka.

Mentarbiyah Anak agar Tetap Memerhatikan Orang-orang yang Berjasa

Sikap ini perlu diterapkan karena sebelum ada Anda terlebih dahulu ada orang-orang yang telah berjasa. Sekalipun sekadar doa dan peduli terhadap orang-orang yang beriman yang ada di sekitarnya, baik yang ada sekarang maupun yang telah mendahuluinya.

Demikian beberapa cara Nabi Ibrahim mendidik anaknya. Semoga cara ini bisa menjadi contoh agar melahirkan keturunan yang saleh dan salehah. Wallahu A’lam.

Rewriter : Putri Kuzaifah
Sumber : islampos.com

Komentar