oleh

5 Dampak Buruk Penggunaan Kipas Angin pada Kesehatan Bayi

PortalMadura.Com – Penggunaan kipas angin pada bayi memang punya tujuan baik, selain untuk mencegah bayi tidak kegerahan, juga untuk melancarkan sirkulasi udara di dalam ruangan. Akan tetapi, tetap ada aturan dalam menyalakan kipas angin di dalam ruangan bayi. Salah satunya adalah dengan tidak mengarahkannya langsung ke tubuh bayi.

Hal penting yang harus diperhatikan, Anda perlu menyadari bahwa ada efek samping dari penggunaan kipas angin secara terus-menerus. Dilansir dari laman Popmama.Com, Minggu (6/12/2020) berikut beberapa dampak buruk penggunaan kipas angin pada bayi.

Selamat Ibadah Puasa

Mengalami Penurunan Suhu Tubuh Hingga Hipotermia

Penggunaan kipas angin untuk bayi terutama di dalam kamar tentu sangat berguna untuk memastikan sirkulasi udara tetap baik. Namun penggunaan kipas angin tetap ada aturannya, usahakan tidak mengarahkan langsung ke tubuh bayi.

Jika udara yang dihasilkan oleh kipas angin langsung ke arah bayi, bisa saja berdampak buruk untuk kesehatannya seperti hipotermia. Apalagi udara yang dikeluarkan kipas angin membuat seisi ruangan bersuhu lebih dingin untuk kulit bayi.

Saat mengalami hipotermia, tanpa disadari suhu tubuh bayi akan berkurang drastis dari suhu yang seharusnya. Sebagai orang tua, Anda perlu ketahui bahwa penurunan suhu tubuh bayi yang berada di bawah batas normal tentu akan berbahaya untuk kesehatannya.

Meningkatkan Risiko Bayi Mengalami Dehidrasi

Pemakaian kipas angin yang diarahkan langsung ke tubuh bayi hanya akan membuatnya kekurangan cadangan air. Jika pemakaian tersebut terus dilakukan dengan mengarahkan langsung ke tubuh bayi, maka bayi berisiko untuk mengalami dehidrasi dan kulit pun menjadi kering.

Hal ini diakibatkan karena air yang berguna untuk menjaga kelembapan kulit semakin menipis dan berkurang. Ketika asupan cairan di dalam tubuh berkurang dan menyebabkan dehidrasi, biasanya bayi akan memperlihatkan sebuah tanda seperti merasa kehausan karena penggunaan kipas angin yang terlalu lama.

Mengakibatkan Infeksi Pernapasan

Penggunaan kipas angin secara langsung ke tubuh bayi akan berdampak buruk untuk kesehatan apalagi jika kebersihannya tidak dijaga dengan baik. Kebersihan kipas angin secara konsisten perlu sekali diperhatikan. Debu yang menempel pada baling-baling justru akan membuat kipas angin jadi terlihat kotor dan tidak terawat dengan baik.

Tak hanya itu, kipas angin yang kotor dan jarang dibersihkan dapat menurunkan kualitas udara saat dihirup oleh bayi. Debu atau kotoran dengan mudah terbawa angin. Walaupun kipas angin memiliki filter penyaring debu, namun tidak menutup kemungkinan berbagai debu atau kotoran yang menempel bisa terhirup oleh bayi.

Jika dibiarkan, dapat memicu infeksi saluran pernapasan. Sebelum berdampak buruk untuk kesehatan , Anda perlu rajin membersihkan berbagai sisi kipas angin terutama dibagian baling-balingnya.

Bayi Berisiko Mengalami Sinusitis

Sinusitis tidak hanya bisa terjadi pada orang dewasa saja, namun juga pada bayi. Sinusitis pada bayi bisa dipicu akibat udara yang dihasilkan oleh kipas angin membuat suhu udara dingin. Kondisi inilah yang mampu menyebabkan selaput lendir dalam hidung juga bisa mengering.

Jika kondisi selaput lendir dalam hidung semakin kering, maka produksi lendir juga akan semakin banyak. Produksi lendir berlebih akan berbahaya karena dapat menganggu saluran pernapasan, sehingga memicu iritasi sinus.

Kondisi sinusitis ini tidak bisa dianggap remeh karena dapat menjadi sumber infeksi di bagian susunan saraf pusat, seperti radang otak. Tidak hanya itu, bayi pun dapat memiliki daya tahan tubuh yang kurang baik.

Memicu Terjadi Masalah pada Otot Bayi

Saat kipas angin terus dipakai untuk menjaga agar suhu kamar tidak panas, namun tanpa disadari diam-diam dapat berdampak buruk. Paparan angin secara langsung ke tubuh bayi dapat memicu terjadinya masalah otot.

Suhu dingin pada tubuh bayi perlahan-lahan berisiko terhadap penurunan produksi pelumas cairan otot serta bagian sendi. Penggunaan kipas angin inilah yang dapat menyebabkan otot menjadi kaku dan berisiko terkena nyeri otot, sehingga membuat bayi menjadi lebih rewel karena kesakitan.

Anda perlu memerhatikan kondisi ini karena bayi belum bisa berbicara dan mengutarakan kalau ototnya terasa nyeri.

Rewriter : Oktaviana Dwi K.K
Sumber : Popmama.Com

Komentar