oleh

5 Keunikan Masjid Agung Demak Sebagai Masjid Bersejarah di Jawa Tengah

PortalMadura.Com – Masjid Agung Demak adalah salah satu masjid tertua yang ada di Indonesia. Masjid ini terletak di Kampung Kauman, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Masjid ini merupakan tempat berkumpulnya para ulama (wali) yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa yang disebut dengan Walisongo. Pendiri masjid ini diperkirakan adalah Raden Patah, yaitu raja pertama dari Kesultanan Demak sekitar tahun 1401 Saka atau 1479 Masehi.

Masjid ini terdiri dari bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Salah satu dari tiang utama tersebut konon berasal dari serpihan-serpihan kayu, sehingga dinamai saka tatal. Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Atap limas Masjid terdiri dari tiga bagian yang menggambarkan ; (1) Iman, (2) Islam, dan (3) Ihsan. Di Masjid ini juga terdapat “Pintu Bledeg”, mengandung candra sengkala, yang dapat dibaca Naga Mulat Salira Wani, dengan makna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.

Selain memiliki Arsitektur dan sejarah yang luar biasa, ternyata Masjid Agung Demak ini memiliki beberapa keunikan. Dilansir dari Akurat.Com yang mengolah dari berbagai sumber, Minggu (18/4/2021) inilah berbagai keunikan Masjid Agung Demak yang tidak dimiliki oleh masjid-masjid lainnya di Indonesia. Di antaranya adalah:

Pusat penyebaran Islam di Pulau Jawa

Masjid ini dibangun oleh Raden Patah yang merupakan salah satu dari walisongo yang tak lain memang para alim ulama yang memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Masjid ini memiliki sejarah yang sangat luar biasa, karena di masjid inilah biasanya Walisongo kerap berkumpul di masjid ini dan mendiskusikan bagaimana cara mendakwahkan Islam di Pulau Jawa.

Atapnya Bercorak Hindu

Sebelum Islam masuk di Pulau jawa, banyak orang Jawa beragama Hindu, maka dari itu banyak sekali bangunan, budaya di pulau Jawa yang bercorak Hindu, oleh karena itulah masjid ini disesuaikan dengan model arsitektur sekitar. Atap masjid ini terdiri dari tiga tingkat yang melambangkan tiga aspek yakni Iman, Islam dan Ihsan. Akulturasi budaya ini menunjukkan betapa bijaknya pendakwah Islam kala itu yang mampu membaur dengan masyarakat Hindu.

Tiang Penyangga Dari Tatal Sisa Ketaman

Jika dilihat sekilas, bentuknya sama seperti tiang pada umumnya. Namun tahukah Anda, bahwa tiang tersebut merupakan tiang yang di buat dengan berbahan dasar tatalan kayu (serpihan kayu) yang tidak utuh oleh oleh empat wali yakni Sunan Ampel, Sunan Gunungjati, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga, dan anehnya tiang tersebut tetap kokoh dan kuat hingga saat ini.

Pintu Petir

Pintu petir ini disebut juga dengan pintu bledek, pintu ini merupakan karya Ki Ageng Selo yang merupakan wali penangkap petir sekitar tahun 1446 Masehi. Pintu ini terbuat dari kayu yang penuh dengan ukiran yang memiliki makna yang sangat dalam.

Tempat Wudu

Tempat wudu di masjid ini sangat unik, bentuknya seperti kolam dengan kedalaman lima meter dengan tiga batu hitam yang berbeda ukuran. Namun kini tempat wudu para wali tersebut sudah tidak difungsikan dan dimuseumkan oleh pengelola masjid.

Luar biasa sekali ‘kan? Jika Anda hendak ke Jawa Tengah, khususnya Kabupaten Demak, maka jangan lewatkan untuk datang dan berkunjung ke Masjid Agung Demak ini.

Rewriter : Fianolita Purnaningtias
Sumber : Akurat.Com

Komentar