Rupiah Tembus Rp 17.700 per Dolar AS, BI Tegaskan Kondisi Berbeda dari Krisis 1998

Avatar of PortalMadura.com
Rupiah Tembus Rp 17.700 per Dolar AS, BI Tegaskan Kondisi Berbeda dari Krisis 1998
Rupiah Tembus Rp 17.700 per Dolar AS, BI Tegaskan Kondisi Berbeda dari Krisis 1998

PortalMadura.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada Jumat, 22 Mei 2026, menembus level Rp 17.700.

Menurut data Bloomberg, rupiah di pasar spot tercatat melemah 0,28% secara harian menjadi Rp 17.717 per dolar AS.

Secara mingguan, mata uang Garuda telah terkoreksi 0,68% dari posisi Rp 17.597 per dolar AS pada pekan sebelumnya.

Bahkan, sejak awal tahun, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aida S. Budiman menyatakan bahwa rupiah telah melemah sekitar 5,5% dari level Rp 16.680-an hingga menyentuh Rp 17.700-an.

Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah

Pelemahan rupiah kali ini didominasi oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang memicu peningkatan ketidakpastian pasar.

Salah satu faktor global utama adalah gejolak geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara AS dan Iran, yang memicu kenaikan harga minyak dunia.

Presiden AS Donald Trump diketahui menunda serangan yang direncanakan terhadap Iran, mengindikasikan upaya negosiasi untuk meredakan ketegangan.

Selain itu, inflasi tinggi di AS dan ekspektasi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi juga mendorong investor global menarik modal dari negara berkembang ke aset safe haven di AS.

Dari sisi domestik, pelebaran defisit APBN akibat subsidi energi serta kebutuhan dolar AS yang tinggi untuk pembayaran dividen dan utang luar negeri pada kuartal II-2026 turut memberikan tekanan.

Respons Bank Indonesia dan Proyeksi ke Depan

Bank Indonesia (BI) menegaskan telah mengambil langkah-langkah stabilisasi dengan intervensi besar di pasar valuta asing domestik dan luar negeri.

BI juga memastikan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder berjalan baik untuk menjaga likuiditas dan stabilitas harga SBN.

Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman menekankan bahwa meskipun rupiah melemah 5,5% sejak awal tahun, situasi saat ini sangat berbeda dengan krisis moneter 1997-1998 yang menyaksikan rupiah terjun bebas secara mendadak.

Tujuan utama BI adalah menjaga stabilitas nilai tukar, bukan hanya pada level tertentu.

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah akan bergerak di rentang Rp 17.680 – Rp 17.800 per dolar AS dalam sepekan ke depan.

Sementara itu, analis lain, Amru, memperkirakan rupiah berada dalam tekanan terbatas di kisaran Rp 17.650 – Rp 17.850 per dolar AS.

Pelemahan rupiah ini berdampak langsung pada daya beli dan keamanan ekonomi masyarakat kelas menengah, yang harus menyesuaikan pengeluaran rumah tangga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses