oleh

Anak Tunggal Punya Sifat Manja dan Egois, Benarkah?

PortalMadura.Com – Hampir semua pasangan suami istri mengharapkan kehadiran seorang anak. Karena, keberadaan anak akan melanjutkan keturunan keluarga dan menjadi anugerah terindah yang tidak bisa ditukar dengan uang.

Tidak heran, ketika seorang anak lahir dalam kehidupannya akan dibuat istimewa. Apalagi anak tersebut tunggal atau satu-satunya anak yang dilahirkan oleh ibunya ataupun ibunya melahirkan beberapa anak tetapi hanya satu yang masih hidup, biasanya cenderung dimanja.

Tidak hanya itu, anak tunggal juga distigmakan sebagai anak yang egois, dan tidak mengenal kompromi lantaran dianggap terbiasa selalu dipenuhi keinginannya saat di rumah. Stigma negatif ini sudah beredar di lingkungan masyarakat. Tapi, benarkah itu?.

Menurut Denise Duval Tsioles, Ph.D., Direktur Child Therapy Chicago dan Susan Newman, Ph.D., penulis buku The Case for the Only Child: Your Essential Guide and Parenting an Only Child pendapat bahwa setiap anak tunggal itu manja dan egois tidaklah tepat. Anak tetap punya banyak tempat untuk melatih bersosialisasi.

“Anak-anak memiliki banyak kesempatan untuk sosialisasi, terutama ketika mereka bersekolah. Mereka berinteraksi dengan anak-anak lain sepanjang hari di sekolah, selama kegiatan ekstrakurikuler dan di berbagai fungsi sosial dan teman sebaya lainnya,” kata Duval, seperti dilansir Liputan6.com yang dikutip dari Purewow.

Dalam sebuah studi berjudul “Good for Nothing: Number of Siblings and Friendship Nominations Among Adolescents” yang diterbitkan dalam Journal of Family Issues, para peneliti meminta 13.500 anak-anak untuk menyebutkan sepuluh teman. Diketahui ternyata anak tunggal cukup populer di antara teman sebayanya dibanding mereka yang memiliki saudara.

Anak Tunggal Kesepian?

Tidak sedikit beberapa orang yang bertanya, apakah anak tunggal akan merasa kesepian?. Faktanya, justru memiliki waktu sendiri sangat penting dalam pembentukan kepribadian anak dan bahkan dapat membentuk karakternya jadi lebih kuat.

Menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam Personality and Social Psychology Bulletin, kesendirian dapat menyebabkan relaksasi dan mengurangi stres ketika individu secara aktif memilih untuk menyendiri.

Menurut Newman, lebih baik orang tua mengarahkan anak untuk memiliki kegiatan yang positif agar tidak merasa kesepian. Karena sendiri bukan tidak mungkin akan membuatnya jenuh.

“Salah satu keuntungan menjadi anak tunggal adalah bahwa tidak ada persaingan saudara kandung, tidak ada perselisihan dan tidak ada agresi verbal antara saudara,” kata Newman.

Baca Juga : Anak Tunggal, Ini 6 Ciri Kepribadian yang Biasa Anda Miliki

Tidak bisa dipungkiri, umumnya yang terjadi keberadaan saudara kandung terkadang menimbulkan perselisihan, pertengkaran dan berbagai persoalan lain.

Bisa dikatakan, tidak selamanya hubungan kakak beradik bisa berjalan baik, justru konflik terjadi seumur hidup. Saudara kandung tidak selalu saling menyukai, bahkan hingga dewasa.

Stereotip yang dimiliki banyak orang tentang anak tunggal sebenarnya berkaitan dengan temperamen. Menurut Dr. Duval Tsioles, beberapa anak tunggal dilahirkan dengan temperamen yang lebih sensitif, intens, dan reaktif.

“Anak tunggal cenderung perasa dan sangat reaktif. Jadi ketika sesuatu terjadi atau tidak berjalan seperti yang mereka bayangkan, mereka cenderung memiliki reaksi yang lebih kuat, dan dianggap sebagai keegoisan,” ujar Duval.

Sebagaimana dalam artikel yang dipublikas di Scientific American yang mengatakan bahwa menjadi anak tunggal bukanlah cara yang negatif atau “kurang sehat” untuk tumbuh dewasa.

Jadi dapat disimpulkan bahwa menjadi anak tunggal hanya salah satu cara dan keputusan yang berbeda, dari keluarga kebanyakan. Jangan dijadikan patokan bahwa anak tunggal adalah anak yang manja ya.

Rewriter : Putri Kuzaifah
Sumber : liputan6.com
Tirto.ID
Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

portalmadura.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE