oleh

Apresiasi Puisi Terhadap Karya Chairil Anwar dan Ebit G Ade

PortalMadura.Com – Selama ini pembelajaran apresiasi puisi yang masuk dalam wilayah pembelajaran bahasa Indonesia dinilai oleh banyak pihak masih belum menunjukkan hasil yang memuaskan.

Kualitas pembelajaran sastra, khususnya apresiasi puisi yang dinilai rendah tentunya dapat disebabkan oleh berbagai faktor.

Minat dan apresiasi siswa terhadap puisi hendaknya mulai dibangkitkan dan ditumbuhkan sejak awal, yaitu ketika pembaca masih berusia sekolah.

Mutu dan tingkat pemahaman apresiasi sastra yang telah dilalui oleh siswa di sekolah akan menjadi modal bagi perkembangan lebih lanjut pada saat mereka nanti terjun sebagai anggota masyarakat.

Lembaga pendidikan seharusnya tidak hanya mengajarkan puisi yang berorientasi pada para siswa hafal judul puisi atau buku-buku puisi berikut nama pengarangnya.

Dalam situasi ini, guru dituntut senantiasa dapat mengoptimalkan fungsinya untuk memajukan siswa melalui apresiasi puisi.

Pengajaran sastra sebenarnya bukan hanya bermanfaat dalam menunjang kemampuan berbahasa murid dan mengembangkan kepekaan pikiran serta perasaan murid, melainkan juga bermanfaat dalam memperkaya pandangan hidup serta kepribadian murid.

Apresiasi sastra sendiri mempunyai arti menggali cipta sastra dengan sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran, kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra.

Dengan mengapresiasikan sastra, siswa dapat secara langsung menikmati sebuah karya sastra, pengajaran sastra tidak hanya bertujuan mengetahui teori-teori tersebut untuk memahami sebuah karya sastra saja, melainkan juga dapat menerapkan teori-teori tersebut untuk memahami sebuah karya sastra.

Baca Juga : Tahun Disayang Tuhan

Pengajaran sastra direncanakan untuk melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Pemahaman sastra itu terwujud dalam bentuk dari apa yang diketahui dan dirasakan oleh siswa yang berupa sensasi, emosi, dan gagasangagasan.

Salah satu cara untuk mengembangkan apresiasi sastra pada anak didik ialah dengan pengajaran puisi. Melalui puisi siswa dapat memperkaya kehidupan batin, menghasilkan budi pekerti, membangkitkan semangat hidup, dan mempertinggi rasa ketuhanan dan keimanan.

Menikmati puisi memang jauh lebih sukar dibanding dengan menikmati cerita rekaan seperti roman, cerpen, dan novel. Sebab menikmati puisi memerlukan keterbukaan hati, ketekunan, dan konsentrasi pikiran.

Hal ini terjadi karena isinya sering merupakan pelambang dari kehidupan sehingga seluruh indra kita ikut tergugah dibuatnya. Dalam sebuah puisi pengarangnya berusaha menggunakan kata-kata dan jalinan kata yang didapatkan sehingga sepintas lalu merupakan susunan pikiran yang tidak jalan.

Menyadari betapa penting manfaat pengajaran pemahaman puisi bagi siswa, maka kompetensi pemahaman puisi perlu ditingkatkan. Standar kompetensi pemahaman puisi adalah siswa mampu mendengar dan merefleksi pembacaan puisi; mampu memahami puisi dan mendiskusikan maknanya; siswa mampu menanggapi, mendengar dan merefleksi pembacaan puisi.

Mengingat pentingnya pembelajaran pemahaman puisi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, maka yang perlu dilakukan guru adalah menerapkan suatu pendekatan pembelajaran yang dapat meningkatkan minat dan kreativitas siswa. Guru harus mengingat apa yang menjadi tujuan pembelajaran pemahaman puisi.

Dalam beberapa kumpulan puisi yang sudah tercipta oleh sastrawan yang ada, saya akan menjelaskan analisa saya dari dua puisi yang berbeda, yaitu “Untuk Kita Renungkan” oleh Ebiet G Ade, dan “Doa” oleh Chairil Anwar.

Masing-masing puisi memiliki perbedaan dan ada juga beberapa aspek yang memiliki kemiripan. Maka pada akhir analisa ini saya akan membuat kesimpulan berisi perbandingan kedua puisi tersebut yang menjelaskan bagaimana kedua puisi tersebut memiliki kesamaan dan perbedaan.

Setelah membaca kedua puisi di atas dengan teliti, serta menganalisa masing-masing puisi dari segi intrinsik dan ekstrinsik, maka saya dapat membuat kesimpulan berikut mengenai kemiripan dan perbedaan yang dimiliki kedua puisi tersebut.

Kedua puisi yang tertera di atas memiliki beberapa persamaan, begitu juga perbedaan. Persamaan yang sangat terlihat adalah tema, karena kedua puisi berhubungan dengan ketuhanan, karena dua puisi tersebut mengandung kata-kata tuhan dan doa kepada-Nya.

Tetapi sedikit perbedaannya adalah Ebiet G Ade menghubungkan ketuhanan dengan bencana alam, di sisi lain, Chairil Anwar menulis puisinya seluruhnya mengenai doanya kepada tuhan. Ada sedikit persamaan juga dalam amanat yang disampaikan, yaitu kita harus meminta ampun dan berdoa hanya kepada Tuhan.

Kemudian persamaan lain yang dapat terlihat adalah penggunaan majas atau gaya bahasa dalam puisi kedua penyair tersebut. Ada dua jenis majas yang terkandung yaitu metafora dan repetisi.

Sepertinya mereka sama-sama menyukai menggunakan kata lain untuk membandingkan dan merepresentasikan suatu hal lainnya. Karena biasanya dengan membandingkan suatu hal dengan hal lainnya dapat memperjelas makna dari hal tersebut.

Repetisi juga digunakan untuk mengulang kata-kata yang berhubungan dengan tuhan. Dalam puisi Anwar, beliau mengulang kata tuhan, sedangkan Ade mengulang kalimat agar Dia tersenyum ini yang juga berhubungan dengan Tuhan.

Dalam segi alur, suasana, latar tempat, dan waktu sudah jelas berbeda karena penyampaiannya juga tidak sama. Ebiet G. Ade melakukannya seperti mendeskripsikan sebuah kejadian, kemudian mengungkapkan perasaannya. Sedangkan Chairil Anwar hanya mengucapkan seluruh perasaannya pada satu puisi itu.

Perbedaan lainnya terdapat pada rima, karena pada puisi Untuk Kita Renungkan tidak ada pola rima, tetapi tiap-tiap barisnya lebih panjang dibanding puisi lainnya. Sedangkan di puisi Doa sang penulis membuat beberapa pola rima dalam tiap barisnya, namun tiap baris dalam puisinya sangat pendek, bahkan ada yang hanya satu atau dua kata.

Pada dasarnya pembacalah yang menentukan ada atau tidaknya persamaan dan perbedaan antara teks yang satu dengan teks yang lain itu. Hal demikian berdasarkan persepsi, pemahaman, pengetahuan, dan pengalamannya membaca teks-teks lain sebelumnya.(*)

Penulis: Cindy Geofany Okta Putry
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia


Komentar