Artis Last Child, Madura Itu Alamnya Bagus dan Jaga Jangan Sampai Dirusak

Artis Last Child, Madura Itu Alamnya Bagus dan Jaga Jangan Sampai Dirusak
Foto Bersama Last Child

PortalMadura.Com, Pamekasan – Virgoun Teguh Putra yang akrab disapa Virgoun mempunyai kesan tersendiri dengan kondisi alam Pulau Madura.

“Dari Jembatan Suramadu sampai Pamekasan, alamnya bagus dan jaga jangan sampai dirusak karena kepentingan tertentu,” kata Virgoun pada PortalMadura.Com saat makan siang di rumah makan Asela di Kabupaten , Sabtu (23/1/2016).

Ia yang berperan sebagai vokalis dan gitar di Last Child berharap bisa datang dan tampil kembali di Pulau Garam Madura. “Menyenangkan, dan suatu saat semoga bisa tampil lagi di sini (Madura, red),” ujarnya.

Bahkan, ia sangat terkesan dengan masakan Madura. “Suka banget dengan masakan Madura, karena di Jakarta juga terkenal makanan Madura. Pokoknya suka banget,” ucapnya.

Hal serupa juga disampaikan Rahmat Firdaus (Rahmat-Gitar), Dimas Rangga (Dimas-Bassist), dan Abdul Jamil Rizki (Rizki-Drummer). “Madura oke banget dan berkesan,” katanya kompak.

Baca Juga : Pertama di Madura, Last Child Konser di SMAN 2 Pamekasan

Last Child

Last Child terbentuk pada tanggal 11 Januari 2006 dari trio Virgoun (vokal & gitar), Dimas (bass & vokal), dan Ari (drum). Mereka kemudian tampil kuartet sejak Juli 2009, dengan merekrut Yodi (gitar) untuk memperkaya eksplorasi musik mereka.

Nama Last Child sendiri sebenarnya tidak mempunyai arti special. Awal mereka membentuk band ini, usia mereka memang masih kecil. Mereka mengikuti audisi band, dan tak disangka-sangka, mereka bisa lolos. Dari situ kemudian mereka bertekad untuk meneruskan Last Child dengan serius. Band ini merupakan band yang menjadikan Blink 182 sebagai influence mereka.

Last Child mengalami beberapa kali pergantian personil. Ari dan Yodi keluar dari band, sehingga formasi terakhir saat mereka menggarap album studio pertama mereka tahun 2012 adalah Virgoun (vokal & gitar), Dimas (bass & vokal), Rahmat (gitar), dan Rizki (drum).

KARIR
Setelah merilis mini album GROW UP secara swadaya pada tahun 2001, kemudian pada 2008, di bawah bendera Fake Records mereka unjuk gigi dengan album berjudul EVERYTHING WE ARE EVERYTHING. Album ini melahirkan single hits Diary Depresiku, Pedih, dan Kembali.

Hingga April 2010, tercatat lebih dari 110,000 orang Last Friends, sebutan untuk fans mereka, secara rutin berinteraksi di www.facebook.com/lastchild. Dan berkat kesetiaan Last Friends pula, RBT Last Child dari album EVERYTHING WE ARE EVERYTHING, menembus angka lebih dari 300,000 download. Sungguh sebuah angka yang fenomenal bagi sebuah band indie yang belum terlalu dikenal oleh masyarakat luas.

Di bawah naungan label Dr. M, lagu Diary Depresiku kemudian dimastering ulang oleh Jemi Sitanayah, MMus (Mastering of Music, sound engineering), jebolan Berklee College of Music, USA.

Setelah sukses dengan single Diary Depresiku, Pedih, dan Percayalah itu, Last Child kemudian merilis album OUR BIGGEST THING EVER, di bawah label Dr. M. Album ini merupakan studio perdana Last Child yang dirilis pada 25 Januari 2012. Dalam album ini, mereka juga merangkul Gisel, salah satu jebolan INDONESIAN IDOL di lagu Seluruh Nafas Ini.

(kapanlagi.com/Hartono)

Dapatkan Barang Elektronik Dengn Harga Termurah Cek >> Rekomendasi Elektronik.
Jangan Lupa Ikuti kami di Google Berita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.