oleh

Asal Usul Lahirnya Ojhung di Batuputih Sumenep

PortalMadura.Com, Sumenep – Budaya Ojhung disebut-sebut sebagai tradisi ritual warga Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, untuk meminta turun hujan.

Namun, tidak semua orang mengetahui asal usul lahirnya Ojhung yang merupakan salah satu budaya yang sampai saat ini, keberadaannya masih dilestarikan.

Budaya atau tradisi Ojhung adalah pertarungan dua orang laki-laki dengan mamakai rangkaian rotan yang dipegang oleh tangan kanannya. Sedangkan lengan tangan kirinya, dibungkus kain yang diikat dengan tali untuk menangkis pukulan lawan.

Pada bagian kepalanya dibungkus alat pengaman sehingga hanya bagian muka yang terlihat. Keduanya telanjang dada dan hanya memakai celana pendek yang dililit oleh sarung serta tidak memakai alas kaki. Dalam perkembangannya wanita pun ikut serta dalam tradisi ojhung ini.

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Sumenep, Tadjul Arifien R menjelaskan, Ojhung sering dilakukan dikala musim kemarau dengan tujuan untuk meminta turun hujan.

Dari cerita tutur yang didapat Tadjul, antraksi Ojhung dimulai sejak jaman dahulu kala. “Sayangnya tidak ditemukan tahun lahirnya,” kata Tadjul, Minggu (11/10/2020).

Hanya saja, keberadaan Ojhung berkembang dan ditemukan di sebuah desa terpencil di Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep, Madura. Saat itu, ada empat orang laki-laki pencari air di wilayah pedesaan yang daerahnya tandus dan penuh dengan batu kapur.

iklan hari santri

Sumur atau mata air itu, konon airnya tinggal sedikit dan hanya cukup digunakan oleh satu orang, maka terjadilah perselisihan. Maka kedua orang di antara mereka melakukan pertarungan dengan memakai pakaian seperti yang dilestarikan hingga saat ini. Sedangkan yang lainnya bertindak sebagai wasit.

Dari cerita ini, kata Tadjul, siapa yang lukanya sedikit, berarti sebagai pemenang dan dialah yang berhak atas air yang sedikit di dalam sumur tersebut. Pertarungan pun berjalan cukup lama. Namun tiba-tiba turunlah hujan dengan sangat lebat sehingga membuat mereka berempat merasa gembira.

“Sejak saat itulah, antraksi Ojhung dilakukan untuk memanggil hujan,” terangnya.

Saat ini, antraksi Ojhung telah menjadi ajang tontonan yang menarik serta dikomersialkan oleh masyarakat. Dalam perkembangannya, budaya Ojhung merebak keberbagai daerah di Madura hingga wilayah tapal kuda Jawa Timur.

Sementara, salah seorang pelaku Ojhung, pak Tabrani menyebutkan, selama dirinya ikut dalam pertandingan Ojhung perlu melakukan ritual agar pukulan lawan tidak terasa sakit. Kalaupun pukulan rotan menyentuh tubuhnya tidak akan melukai.

Ritual yang harus dilakukan sebelum bertanding yakni tidak tidur selama lima malam dan puasa selama 11 hari. Selama melaksanakan ritual, ia memperbanyak mendekatkan diri kepala yang maha kuasa, seperti membaca Alquran.(*)

Tonton PortalMaduraTV : Asal Usul Lahirnya Ojhung di Batuputih Sumemep

Penulis : Hartono
Editor : Raudatul Fitrah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.