oleh

Bakal Gelar Diskusi “Menggugat PT Pertamina Energy Trading (Petral)”

PortalMadura.Com, Jakarta – “Menggugat PT Pertamina Energy Trading (Petral)” bakal menjadi sajian diskusi dua mingguan yang bakal digelar Barisan Nusantara di Warung Daun Cikini, Jakarta, pukul 15.00 – 18.00 Wib, Sabtu (13/1/2/2014).

Undangan yang dikirim ke Redaksi PortalMadura.Com disebutkan dalam Term of Reference diskusi, bawah salah  satu  pihak yang selama ini dituduh sebagai biang kerok mafia migas adalah  PT Pertamina Energy Trading (Petral) yang berkedudukan di Singapura.

Petral berdiri pada 1969 dengan  nama PT Petral Group dengan dua pemegang sahamnya dari Petra Oil Marketing Corporation Limited yang terdaftar di Bahama dengan kantornya Hong Kong, serta Petral Oil Marketing Corporation yang terdaftar di California, Amerika Serikat (AS).

Pada 1978, kedua perusahaan pemegang saham Petral tersebut melakukan marger dengan mengubah nama perusahaanya menjadi Petra Oil Marketing Limited yang terdaftar di Hong Kong.

Kemudian  pada  1979-1992, kepemilikan saham Petra Oil Marketing Limited dimiliki oleh perusahaan Zambesi Invesments Limited yang terdaftar di Hong Kong dan Pertamina Energy Services Pte Limited yang terdaftar di Singapura.

Pada 1998, perusahaan tersebut diakusisi oleh PT Pertamina  (Persero) dan pada 2001 mengubah namanya menjadi PT Pertamina Energy Trading Ltd (Petral). Selain Pertamina, sahamnya juga dimiliko Zambesi Invesments Limited dan Pertamina Energy Services Pte Limited.

Tugas Petral adalah melakukan jual-beli minyak. Lebih tepatnya membeli minyak dari mana saja untuk dijual ke Pertamina. Semua aktivitas jual beli minyak oleh Petral dilakukan di Singapura. Dalam proses jual beli minyak inilah para mafia minyak bermain.

Seperti  dijelaskan oleh Ketua Tim Reformasi Tatakelola Migas Faisal Basri dalam sebuah diskusi bahwa Indonesia mengalami kebangkrutan di sektor migas pada masa SBY. Sumber utama defisit berasal dari impor minyak yang besar. Indonesia hanya memproduksi minyak 700-an ribu barel per hari, tapi mengkonsumsi 1,4 juta barel per hari.

Celah kebutuhan ini yang dipenuhi oleh impor sebanyak 741 ribu barel per hari. Sayangnya, menurut Faisal, rantai perdagangan impor minyak diganggu jaringan mafia yang berkolaborasi dengan PT Petral. Faisal mengaku menerima banyak laporan dari orang dalam di Pertamina dan Petral. “Ada calonya, mereka dapat fee US$ 80 ribu untuk setiap transaksi pengapalan minyak impor,” kata Faisal.

Faisal juga mempertanyakan aktivitas bisnis Petral yang berlokasi di  Singapura. Faisal mengatakan akibat aktivitas bisnis itu, pajak besar dari perdagangan impor minyak ke Indonesia justru dinikmati Singapura. Fakta ini, menurut dia, ironis karena Indonesia saat ini merupakan pengimpor bensin Premium, Pertamax, dan solar terbesar di dunia.

Diskusi yang bakal dilaksanakan oleh Barisan Nusantara tersebut mencoba menganalisis lebih mendalam keberadaan Petral dan permainan mafia Migas selama ini, serta mencoba mencari solusi terbaik terhadap keberadaan Petral ini, serta bagaimana memberantas mafia migas untuk mengurangi resiko kerugian negara yang lebih besar.

Untuk mengungkap lebih dalam mafia Migas di Indonesia, panitia bakal menghadirkan nara sumber, antara lain ; Satya Yudha (Anggota Komisi VII DPR-RI Bidang Energy), dan Dr. Fahmi Radhy (Anggota Satgas Anti Mafia Migas), serta pihak Direksi PT Pertamina Energy Trading (Petral) – (dalam konfirmasi).

Ingin tahu isi diskusi tersebut?. PortalMadura.Com bakal merilis hasilnya.(htn)


Tirto.ID
Loading...

Komentar