oleh

Bank Dunia: Penduduk Asia Timur ingin Berpenghasilan Tinggi

PortalMadura.Com, Jakarta – Bank Dunia mengatakan banyak di antara penduduk Asia Timur yang secara realistis bercita-cita untuk memiliki penghasilan tinggi pada satu atau dua generasi setelahnya.

Saat ini, lebih dari 90 persen penduduk Asia Timur tinggal di 10 Negara berpenghasilan menengah.

Kesepuluh Negara tersebut adalah Kamboja, China, Indonesia, Laos, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Sudhir Shetty menjelaskan kombinasi kebijakan Negara-negara Asia Timur yang mendorong pertumbuhan berorientasi keluar, pertumbuhan padat karya, penguatan modal dasar SDM, dan penyediaan tata kelola ekonomi yang sehat, telah memberikan pertumbuhan yang cepat dan berkelanjutan di Asia Timur. dilaporkan Anadolu Agency, Senin (10/12/2018).

Kombinasi kebijakan ekonomi di Asia Timur, lanjut dia, juga telah berperan dalam menggerakkan ratusan juta orang di Asia Timur keluar dari kemiskinan menuju keamanan ekonomi.

“Tetapi, pembangunan itu mungkin sangat menantang dalam menghadapi perubahan cepat di dunia dan di kawasan ini,” imbuh Shetty dalam laporan Bank Dunia A Resurgent East Asia: Navigating A Changing World, Senin.

Shetty menjelaskan para pembuat kebijakan perlu menyesuaikan unsur-unsur model pembangunan tradisional Asia Timur untuk secara efektif memenuhi tantangan yang muncul.

Shetty mengatakan laporan ini meneliti sifat dari tantangan-tantangan di Asia Timur serta menggambarkan bagaimana pembuat kebijakan di seluruh Asia Timur yang sedang berkembang dapat mengatasinya dalam dekade mendatang.

Laporan ini mengidentifikasi kombinasi dari kedua prioritas kebijakan baru dan kebijakan yang sudah akrab di lima bidang utama yang harus ditingkatkan.

Pertama, Shetty mengatakan Negara-negara Asia Timur perlu terus mempromosikan daya saing ekonomi, selain terus memperkuat lingkungan bisnis dan peraturan.

Prioritas peraturan dan lingkungan bisnis yang perlu diperkuat termasuk reformasi sektor jasa, memperdalam perjanjian perdagangan, kebijakan inovasi yang lebih luas, dan peningkatan akses ke pembiayaan, terutama untuk usaha kecil dan menengah.

Kedua, menurut Shetty, Asia Timur harus membangun keterampilan.

Selain fokus pada sumber daya manusia dasar, penting bagi Asia Timur untuk mendukung pengembangan keterampilan lanjutan, termasuk keterampilan sosio-emosional dan literasi digital.

Selanjutnya, Asia Timur, menurut dia, perlu memupuk program ekonomi yang inklusif.

Selain program perlindungan sosial tradisional, perlu ada program untuk mengalihkan pekerja rentan ke peluang kerja baru dan butuh untuk memastikan akses terjangkau ke teknologi digital.

“Keempat, (Negara-negara) Asia Timur harus memperkuat institusi Negara. Negara-negara perlu meningkatkan efektivitasnya melalui peningkatan suara dan partisipasi warga, peningkatan transparansi, dan akuntabilitas Pemerintah yang lebih besar,” urai dia.

Prioritas kebijakan kelima menurut laporan Bank Dunia adalah upaya untuk membiayai transisi menuju status berpenghasilan tinggi.

Pemerintah, menurut Shetty, perlu mencari cara untuk membiayai agenda kebijakan yang lebih ambisius untuk mencapai status berpenghasilan tinggi dengan meningkatkan mobilisasi pendapatan domestik.

“Meskipun sifat dan laju perubahan yang tepat masih tidak pasti, kenyataannya adalah perubahan itu terjadi dan mengabaikannya bukanlah sebuah pilihan,” jelas Shetty.

Bank Dunia menyimpulkan kebangkitan di Asia Timur akan berisiko kehilangan peluang untuk mempertahankan kinerja pembangunan yang luar biasa, bila pembuat kebijakan di wilayah tersebut tidak bertindak tegas terhadap tantangan-tantangan yang ada saat ini. (AA)

Komentar