oleh

Begini Perkembangan Bandara Trunojoyo Tiga Tahun Terakhir

PortalMadura.Com, Sumenep – Bertugas di Kabupaten Sumenep sejak Maret 2018, banyak yang telah dilakukan Indra Triyantono untuk mengembangkan Bandar Udara (Bandara) Trunojoyo. Mulai dari pembangunan fisik hingga pembukaan penerbangan ke kepulauan.

Selama tiga tahun terakhir, banyak perkembangan yang bisa terlihat di Bandara satu-satunya di Pulau Madura ini. Menjabat dua tahun 10 bulan sebagai Kepala Bandara Kelas III Trunojoyo Sumenep, Indra tercatat telah merealisasikan sejumlah program. Baik fisik maupun non fisik.

Pembangunan fisik yang dilaksanakan diantaranya pembangunan terminal baru Bandara Trunojoyo. Peningkatan infrastruktur ini dimulai sejak 2018 hingga 2020. Dana pembangunannya bersumber dari APBN.

Kemudian Rehabilitasi terminal eksisting Bandara. Tidak hanya itu, Indra juga melaksanakan program perluasan appron atau tempat parkir pesawat. Termasuk perluasan pada masing-masing bagian ujung landasan. Fungsinya agar tempat berputarnya pesawat lebih luas.

Program fisik lainnya yaitu pembangunan rumah dinas. Namun ada juga program pembangunan fisik yang masih dalam proses perencanaan. Yakni Hanggar pesawat. Sejumlah persiapan telah dilakukan. Salah satunya pembebasan lahan.

“Kami ingin menjadikan Sumenep sebagai homebase tempat parkir pesawat pribadi atau general afiation. Juga ada tempat untuk maintenance pesawat,” kata Indra.

Diterangkan, setiap 50 jam terbang pesawat harus masuk hanggar. Maka dari itu, keberadaan hanggar di Sumenep menurut dia bisa juga meningkatkan perekonomian daerah. Selain itu, sejauh ini belum ada Bandara pemerintah yang memiliki hanggar.

“Sehingga Bandara Trunojoyo ini diharapkan bisa menjadi yang pertama memiliki hanggar dan general afiation,” ucapnya.

Di sisi lain, Indra juga merealisasikan sejumlah program non fisik. Antara lain pembukaan penerbangan perintis rute Sumenep-Pagerungan pada September 2019. Pihaknya bersama Pemkab Sumenep mempersiapkan pembukaan penerbangan ke kepulauan ini selama dua tahun.

“Kami berkoordinasi dengan SKK Migas-KEI agar Bandara yang ada di Pulau Pagerungan Besar itu bisa dimanfaatkan sebagai Bandara umum. Prosesnya cukup panjang,” kenang Indra.

Tahun 2020, frekuensi penerbangan perintis yang dilayani maskapai Susi Air itu menjadi dua kali dalam sepekan. Semula, hanya sekali sepekan. Sampai saat ini, masyarakat khususnya dari kepulauan tetap antusias untuk memanfaatkan jasa penerbangan yang disubsidi pemerintah tersebut.

Sebelum menyandang jabatan baru sebagai Kepala Bandara H. Hasan Aroeboesman, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), dia bersama Pemkab Sumenep juga berencana membuka penerbangan menggunakan sea plan. Persiapannya sudah dilakukan. Tinggal eksekusi pembangunan Bandara apung di Pulau Kangean.

“Semoga pengganti saya nanti bisa melanjutkan perjuangan kami bersama Pemkab untuk membuka penerbangan baru ke Pulau Kangean ini,” harapnya.

Jika terealisasi, rencana rute penerbangan tersebut nantinya akan melayani penerbangan dari Bali-Kangean-Sumenep-Masalembu dan sebaliknya. “Agar masyarakat kita di kepulauan bisa terlayani,” tutup Indra. (*)

Penulis : Badri Stiawan
Editor : Lisa Mana L

Komentar