oleh

Benteng ERFPRINS Saksi Bisu Kota Bangkalan

BANGKALAN (PortalMadura)- Ditengah kota tepatnya disamping Kantor Unit Laka Lantas Polres Bangkalan, berdiri kokoh bangunan tua. Bangunan itu dikelilingi tembok setinggi 4,5 meter, dengan ketebalan tembok 0,5 meter, di dalam dinding tersebut terdapat gedung yang memiliki luas 980 m2. Luas seluruh bangunan penginggalan tua tersebut 7.249 m2.

Masyarakat bangkalan umumnya mengenal bangunan tersebut sebagai Benteng Bangkalan atau Benteng Kolonial, Namun sebenarnya nama benteng tersebut “ERFPRINS” yang diambil dari nama kecil Raja Williem III sebelum dilantik menjadi Raja Belanda. Hal ini didasakan pada Surat yang dikirim KITV (Koninklijik Instituut voor de Tropen) dan ditujukan pada Direktur Museum Cakraningrat, pada bulan Mei 2010.

 Bangunan tua  yang terletak di dusun Sumur Kembang, Kelurahan Pejagan Kota Bangkalan ini sangat dimungkinkan merupakan gedung persenjataan pada masa kolonial. Benteng ERFPRINS merupakan salah satu Cagar Budaya di kabupaten Bangkalan, hal ini diperkuat dengan Surat Keterangan Benda Cagar Budaya dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Trowulan (BP3 Trowulan), tertanggal 12 Desember 2003.

Berdasarkan catatan sejarah yang ada Benteng ERFPRINS pernah difungsikan sebagai Kantor Residen Madura Barat pada masa Panembahan Sedo Mukti periode Tahun 1745-1770. Selain menjadi Kantor Residen Madura, Benteng ERFPRINS pernah digunakan sebagai Markas Brimob, pada tahun 1960-an.

Benteng ERFPRINS merupakan bukti sejarah keberadaan Kerajaan Madura Barat, hal ini tertulis dengan jelas di GEDENK BOEK atau (Buku Kenang-kenangan) yang diterjemahkan dari bahasa Belanda oleh R.A.A. Cakraningrat Bupati ke-III di Bangkalan”.  Ujar Ketua Paguyuban Kesultanan Bangkalan.

 Saat ini Kondisi benteng tersebut tidak terawat, benteng tampak kumuh, di sekeliling benteng banyak terdapat pedagang kaki lima dan rumah warga yang bersentuhan langsung dengan dinding benteng. Sementara didalam benteng sendiri terdapat 17 kepala keluarga yang mendiami, mereka adalah keluarga purnawirawan Brimob yang dahulu ditempatkan di Bangkalan.

 Kurangnya perhatian masyarakat Bangkalan terhadap peninggalan sejarah ini dirasakan Muhammad Irwanto yang telah menjadi Juru Pelihara sejak tahun 1997, menggantikan almarhum ayahnya.

 “Jarang sekali masyarakat mengetahui sejarah benteng ini, padahal benteng ini merupakan bukti sejarah penting di Bangkalan”

 Menurut penuturan Muhammad Irwanto selaku Juru Pelihara Benteng, pada era Bupati Abd. Fatah, Benteng tersebut sempat akan dikelola menjadi museum dan pusat pagelaran budaya, namun sayangnya tidak terealisasi. (fhm)


Tirto.ID
Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

portalmadura.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE