oleh

Berikut Fakta Menarik Santri Pondok Pesantren Modern Gontor

PortalMadura.com – Siapa sih yang tidak kenal dengan Pondok Pesantren Modern Gontor, yaitu pondok besar di Indonesia yang berlokasi di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Di Pondok Pesantren Modern Gontor ini semua santri diajarkan tentang kedisiplinan dan penguasaan Bahasa Asing (Arab dan Inggris) yang baik.

Pondok Pesantren ini di dirikan oleh Kyai R.M. Sulaiman Djamaluddin bersama istrinya yang awalnya diberi tugas mendirikan pesantren baru untuk meneruskan Pondok Tegalsari yang pada pertengahan abad ke-19 mengalami kemunduran. Awalnya santri di Pondok Pesantren Gontor ini hanya 40 santri, namun saat ini sudah mencapai jutaan santri. Menjadi Santri tentunya tidak sama dengan menjadi pelajar pada umumnya, setiap hari dan setiap saat ada peraturan yang harus diikuti selama berada dalam lingkungan pesantren. Dilansir dari kumparan.com, Jumat (25/6/2021) berikut fakta menarik santri pondok Pesantren Modern Gontor yang jarang terkespos ke publik :

No Bag

Kebiasaan membawa tas saat kesekolah pada umumnya tidak terlihat dalam keseharian para santri Pondok Modern Gontor Pria. Segala keperluan belajar seperti buku, kitab, pensil dan pulpen mereka bawa dengan tangan. Namun apabila bawaannya terbilang banyak, biasanya mereka akan membawa plastik kresek.

No HandPhone

HandPhone termasuk pada benda yang paling haram dimiliki para santri dilingkungan pesantren. arung Telpon (Wartel) menjadi satu-satunya media komunikasi ketika mereka ingin melepas rindu dengan kedua orang tuanya. Santri yang ditemukan membawa telepon genggam akan mendapat hukuman digundul dan pemanggilan orang tuanya.

Hukuman Gundul, Jundi, atau Jasus

Hukuman ini berupa hukuman setengah gundul kepada santri pria yang melakukan pelanggaran di kawasan pesantren. adapun pelanggaran yang dimaksud tersubut ada 2 jenis, yaitu pelanggaran bahasa dan pelanggaran kedisiplinan.

Agen Rahasia alias Jasus

Bentuk hukuman lain bagi santri yang melakukan pelanggaran yaitu penugasan menjadi agen rahasia atau disebut dengan istilah Jasus (mata-mata) di kalangan para santri. Jasus diberikan misi untuk mematai-matai santri lain dan melakukan pencatatan pelanggaran yang dilakukan. Biasanya seorang Jasus memiliki target mengumpulkan tiga pelanggaran oleh tiga pelaku.

Minggu Arab dan Minggu Inggris

Keseharian para santri Gontor di lingkungan pesantren harus menggunakan Bahasa Asing (Arab dan Inggris). pembagian bahasa ini akan di umumkan secara mingguan. Pengawasan penggunaan bahasa akan dilakukan oleh teman-teman mereka sendiri yang tengah bertugas sebagai Jasus (agen rahasia). Bagi mereka yang melakukan pelanggaran akan mendapatkan hukuman sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan.

Setrika Baju Pakai Kamus Oxford

Inilah fakta yang sangat unik di kalangan para santri Gontor. Para santri tidak diperbolehkan membawa setrika masuk ke dalam asrama. Karenanya merapikan pakaian menjadi tantangan tersendiri para santri. Mereka harus bisa mencari cara lain selain mnggunakan setrika. Dalam kondisi tersebut, para santri tidak kehabisan akal. Beberapa santri menuturkan bahwa mereka merapikan baju dan sarung mereka menggunakan buku atau kamus yang berukuran besar seperti kamus Oxford.

Rewriter : Fianolita Purnaningtias
Sumber : kumparan.com

Komentar