Bongko Arosbaya, Jajanan Kampung yang Memanjakan Lidah Pejabat

Avatar of PortalMadura.com
Bongko Bangkalan
Bongko buatan Halimah di Jalan Raya Pecinan, seberang Puskesmas Arosbaya. (Foto: Agus Hidayat)
    Bagikan:

PortalMadura.Com, Bangkalan– Arosbaya tak hanya identik dengan wisata religi. Kecamatan yang berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat kota Bangkalan, Madura, juga menawarkan kuliner khas. Dari bahan-bahan sederhana yang diolah lewat tangan terampil, lahirlah jenis kuliner yang kemudian populer dengan nama bongko.

Bongko memang identik dengan Arosbaya. Kuliner khas yang tergolong jajanan ini awalnya memang hanya ada di Kecamatan Arosbaya. Namun tak tau pasti sejak kapan jajanan yang didominasi rasa manis ini mulai dibuat. Konon kabarnya, bongko telah ada lebih dari setengah abad yang lalu.

Di tengah gempuran beragam kuliner jenis jajanan maupun camilan kekinian, kehadiran bongko masih mendapat tempat di hati. Khususnya bagi masyarakat Arosbaya. Lidah mereka seakan telah bersenyawa dengan rasa manis nan menggoda yang ditawarkan bongko.

Dari bahasa tutur yang diyakini masyarakat Arosbaya, nama “bongko” berasal dari kata Madura “bengko”, yang berarti rumah atau tempat tinggal. Kebiasaan orang Madura mempermudah pengucapan serta menyingkat kata atau kalimat inilah yang (mungkin) tanpa sadar mengubah huruf “e” menjadi “o”.

Jadilah kata “bongko” digunakan sebagai nama paten kuliner khas Arosbaya. Jika diartikan, bongko adalah jajanan khas asal Arosbaya yang hanya dijual di rumah.

“Memang seperti itu yang saya tahu. Kebanyakan hanya dijual di rumah. Mungkin karena tempat pembuatannya berada di desa atau kampung,” ujar Halimah (61), salah satu pembuat bongko di Kecamatan Arosbaya.

Bahan-bahan yang diperlukan untuk pembuatan bongko tergolong sederhana dan mudah didapat. Terdiri dari tepung beras, gula pasir, kelapa untuk diambil santannya, serta daun pandan.

Sedangkan daun pisang dipakai sebagai pembungkus adonan sesuai takaran. Pengukusan menjadi tahap terakhir pembuatan, yang lamanya hingga 30 menit.

Di Bangkalan, bongko dapat dijumpai di beberapa jalan protokol. Berbekal sepeda motor dan box plastik yang berisi bongko, sejumlah penjual menjajakannya di pinggir jalan.

Setelah mereka membeli langsung dari tempat pembuatan, puluhan bongko langsung mereka jual. Bongko yang ditawarkan umumnya terdiri dari tiga rasa (original, mutiara, dan pisang).

Soal selera tinggal dipilih mana yang lebih pas di lidah. Bongko dapat dinikmati siapapun, kapanpun, dan di manapun. Cocok sebagai sajian pencuci mulut setelah makan. Juga bisa disajikan untuk kerabat, teman, tamu, serta rekan kerja.

Baca Juga:  Dua Tim Bola Voli Pasir Putra Sumenep Raih 2 Medali Perunggu

Kini bongko tak hanya milik warga Arosbaya. Rasa manisnya telah menembus kantor atau instansi negeri maupun swasta. Bisa dibilang bongko Arosbaya telah naik kelas.

Yang awalnya disukai masyarakat biasa kini telah memanjakan lidah pejabat. Sejumlah kantor atau instansi di Bangkalan sering menghadirkan bongko sebagai sajian rapat, menjamu tamu, atau acara lainnya.

500 Bungkus Ludes Terjual per Hari

Halimah adalah salah satu pembuat bongko yang tergolong laris di Kecamatan Arosbaya. Usaha rumahan ini berlokasi di Kampung Timur Lorong No. 248. Bongko buatan nenek dari sembilan cucu ini tak hanya disukai masyarakat Arosbaya, tapi juga telah dirasakan lidah warga Bangkalan lewat penjual keliling yang membeli langsung darinya untuk kemudian dijual kembali.

Bongko buatan Halimah sering menjadi pilihan utama yang dipesan oleh dinas atau instansi negeri maupun swasta untuk disuguhkan pada berbagai acara. Sejumlah kantor swasta di Surabaya juga tak mau ketinggalan menyajikan bongko sebagai pelengkap sajian lantaran telah merasakan sebelumnya.

“Saya memang sering mendapat pesanan dari kantor-kantor, jumlahnya bisa sampai ratusan. Ada yang pesan lewat telepon atau datang langsung kesini. Alhamdulillah, kata mereka bongko saya enak,” ungkap Halimah disertai senyum kecil kepada PortalMadura.Com beberapa waktu lalu.

Tak hanya di lingkup dalam dan luar kota. Penyebaran bongko asal Kampung Timur Lorong bahkan sampai lintas negara. Para tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Arosbaya yang hendak kembali ke Malaysia atau Singapura sering membawa bongko sebagai buah tangan bagi rekan-rekannya sesama perantau. Tak ayal, bongko menjadi salah satu pengobat rindu bagi para TKI yang tak mendapat kesempatan pulang ke kampung halaman.

Saat ditanya kapan tepatnya mulai membuat bongko, Halimah mengaku lupa. Namun ia menegaskan kalau dirinya menjadi orang ketiga yang menjalankan usaha keluarga. “Ini adalah usaha turun temurun. Awalnya dari nenek, kemudian ibu, dan sekarang ganti ke saya,” terangnya.

Saat PortalMadura.Com tiba di lokasi pembuatan, tampak Halimah beserta tiga orang lainnya sedang melakukan pekerjaan masing-masing. Ada yang mempersiapkan bahan mentah, membuat adonan, juga mengukus adonan bongko yang telah dibungkus daun pisang. Sementara Halimah sendiri terlihat mencampur tiap adonan bongko pada daun pisang.

Baca Juga:  Sumenep Tambah 2 Medali Emas dan 1 Perak

Awalnya bongko buatan Halimah hanya rasa original. Kemudian hadir dua rasa tambahan, yakni mutiara dan pisang. Kini telah menjadi lima varian rasa. Dua rasa terbaru adalah coklat dan coklat-pisang. Rasa coklat-pisang dijual Rp.5.000 per bungkus, sedang empat varian rasa lainnya Rp.4.000 per bungkus.

Setiap harinya Halimah memproduksi bongko hingga 500 bungkus. Jumlah ini sudah termasuk pesanan. Berbeda saat datangnya bulan puasa. Produksi bongko bisa lebih dari 1.000 bungkus. Halimah mengaku sampai kewalahan melayani pesanan yang datang hampir tiap hari di bulan puasa.

“Banyak yang bilang kalau bongko cocok dijadikan menu berbuka puasa. Mungkin anjuran berbuka puasa dengan yang manis membuat bongko saya selalu habis dalam beberapa jam saja di bulan puasa,” cetusnya dengan dialek Madura kental.

Bongko yang telah dikukus selanjutnya diantar secara bertahap ke lokasi penjualan yang berada di Jalan Raya Pecinan, seberang Puskesmas Arosbaya. Tak sampai sore, ratusan bongko dengan lima varian rasa tersebut langsung habis terjual. Ada yang membeli untuk dibawa pulang atau dijual kembali. Ada pula yang datang untuk mengambil bongko yang telah dipesan sebelumnya.

Uniknya, meski banyak peminat, Halimah tak ingin membuka lokasi penjualan di tempat lain yang mudah dijangkau konsumen. “Di Pecinan saja sudah cukup, asalkan bongko saya laku dan dirasakan banyak orang dari luar Arosbaya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.