Buatan Sunan, Sembilan Sumur Jadi Nama Desa Parsanga Sumenep

  • Bagikan
Somor Paregi Sanga
Salah satu sumur yang masih ada di Desa Parsanga, Sumenep (Istimewa)

PortalMadura.Com, Sumenep – Penamaan Desa Parsanga, Kecamatan Kota Sumenep, Madura, Jawa Timur, tidak lepas dari sembilan (9) sumur yang dibuat oleh Raden Bindara Dwiryapadha yang mempunyai julukan Sunan Paddusan dan menyebarkan agama Islam pada abat ke-15 atau sekitar tahun 1450 masehi di Sumenep.

Ia keturunan dari Haji Utsman atau Sunan Manyoran Mandalika (Lombok). Bapak dari Sunan Manyoran Mandalika adalah Sunan Lembayung Fadal yang mempunyai nama asli Sayyid Ali Murtadha (Kakak kandung dari Sunan Ampel Surabaya/Sayyid Ali Rahmatullah).

Sunan Lembayung Fadal menyebarkan agama Islam di Sapudi. Hingga saat ini, makamnya tetap dikeramatkan oleh warga Sapudi. Orang menyebutnya dengan Rato Pandita. Kuburannya saat ini disebut Asta Nyamplong.

Desa Parsanga

Parsanga berasal dari dua suku kata, yakni Paregi dan Sanga’. Paregi artinya sumur. Tempo dulu, setiap warga yang membuat sumur akan diberi susunan batu yang ditata dari bawah mengelilingi dinding sumur hingga bibir sumur. Tujuannya, sebagai penahan agar dinding tidak runtuh.

Penyebutan Sanga’ merupakan angka sembilan yang menunjukkan jumlah dari sumur yang dibuat oleh Raden Bindara Dwiryapadha.

“Dari penggabungan dua suku kata tersebut, menjadi nama desa, yakni Parsanga,” terang salah seorang sejarawan Sumenep, Tadjul Arifien R, pada PortalMadura.Com, Kamis (30/8/2017).

Pembuatan sembilan sumur tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan Raden Bindara Dwiryapadha dalam menyebarkan agama Islam di daerah tersebut.

Dijelaskan, bahwa setiap orang yang akan masuk Islam, diharuskan melalui proses dimandikan. Baru berikrar dengan membaca dua kalimat syahadat dan diajarkan ilmu-ilmu agama. Warga Madura menyebut “Edudus” (dimandikan).

Dari kebiasaan itu, ia mendapat julukan Sunan Paddusan atau orang yang ahli dalam memandikan warga yang akan masuk Islam.

Sumur buatan Sunan Paddusan masih dapat dikunjungi. Salah satunya, ada di Kampong Perrengtale, Desa Parsanga. “Namun sayang, meski airnya bagus dan layak untuk dikonsumsi, kondisinya sudah dipugar menggunakan beton dan ada tambahan mirip pilar sebagai penyangga alat mengerek air,” kata Tadjul Arifien R, usai berkunjung ke lokasi.

Kerabat Sunan Paddusan

Sunan Lembayung Fadal memiliki 4 orang keturunan:

(1) Haji Utsman atau Sunan Manyoran Mandalika (Lombok) mempunyai keturunan Raden Bindara Dwiryapadha atau Sunan Paddusan di Parsanga. (Menjadi menantu Jokotole)– Makam Jokotole, ada di Kecamatan Manding.

(2) Usyman Haji yang mempunyai julukan Sunan Ngudung (Sunan Andung). Ia mempunyai putra Sunan Kudus (Sayyid Jakfar Shodik), Jawa Tengah, tergabung dalam Walisongo, yang lahir 9 September 1400M/ 808 Hijriah). Dan seorang putri, Siti Sujinah (Istri Sunan Muria).

Sunan Kudus mempunyai putra Sunan Pakaos. Sedangkan Sunan Pakaos sendiri juga mempunyai putra Syech Ahmad Baidawi yang mempunyai julukan Katandur. Saat ini, makamnya ada di Desa Bangkal, Sumenep.

Syech Ahmad Baidawi diperkirakan datang ke Sumenep, pada abat ke-17. Kala itu, pemerintahan dipimpin Pangeran Lor dan Pangeran Wetan, sekitar tahun 1550-an.

(3) Tumenggung Pulangjiwa dan dikenal Penembahan Blingi. Ia dikarunia dua keturunan, bernama Adipoday dan Adirasa.

(4) Nyi Ageng Tanda (Tondo). Ia kemudian menjadi istri Khalifah Husain atau Sunan Kertayasa di Sampang, Madura.

Sunan Lembayung Fadal diperkirakan satu zaman dengan Panembahan Joharsari yang berkuasa antara tahun 1319-1331 Masehi di Sumenep. Sunan ini, lebih awal dari Walisongo yang memasifkan gerakan dakwahnya pada abad ke 15-16 Masehi.

Penerus Kepemimpinan Desa Parsanga

Seiring dengan perjalanan dakwa Islam yang disebarkan oleh para tokoh agama, maka sekitar abad ke-17 datang Syech Ahmad Baidawi ke Sumenep. Ia yang mendapat julukan Pangeran Katandur memiliki 4 putra yaitu:

(1)  K. Hotib Paddusan yang berada di Desa Parsanga, Kota Sumenep
(2) K. Hotib Paranggen yang berada di Desa Bangkal.
(3) K. Hotib Sendang, tempat dakwah dan meninggal di Sendang Pragaan (Pencipta musik Saronen).
(4) K. Hotib Rajul (Ragel/anak terakhir) berada di Pulau Kangean (tidak mempunyai keturunan).

Putra sulung Syech Ahmad Baidawi, yakni K. Hotib inilah yang juga disebut-sebut K. Hotib Paddusan. Sebab, dalam menyebarkan Islam di wilayah Parsanga, juga dengan cara dimandikan (Edudus) dan memanfaatkan air dari 9 sumur buatan Raden Bindara Dwiryapadha (Sunan Paddusan).

Baru sekitar abad ke–18, Parsanga dipecah menjadi 3 (tiga) desa, yaitu Parsanga, Bangkal, dan Desa Kacongan. “Kondisi saat ini, Desa Parsanga memiliki luas wilayah 353,33 Ha yang tersebar menjadi tiga dusun, 9 RW dan 28 RT,” kata Kepala Desa Parsanga, Kecamatan Kota Sumenep, Imam Idafi, pada PortalMadura.Com. (Hartono)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.