“Bujuk Tamoni” Menjadi Jujukan Pasutri Yang Sulit Mendapat Momongan

Avatar of PortalMadura.com
Bujuk Tamoni/Asta Paregi, Sumenep, Jujukan Pasutri Mandul
Bujuk Tamoni/Asta Paregi, Sumenep, Jujukan Pasutri Mandul

PortalMadura.Com, Sumenep – “Bujuk Tamoni” atau Asta (Makam) Paregi di Desa/Kecamatan Batuan Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur ramai dikunjungi pasangan suami-istri (Pasutri) yang kesulitan mendapat momongan (keturunan).

Mereka yang datang tidak hanya warga Madura, melainkan dari berbagai daerah di Jawa Timur. Bahkan, pasutri dari kota-kota besar seperti Jakarta menyempatkan diri untuk berdoa dan tawasul (sarana).

“Tiga hari yang lalu, ada yang dari Jakarta. Tujuan utamanya memang ke sini (Bujuk Tamoni, red) untuk memohon agar cepat dikarunia keturunan, karena sudah empat tahun nikah belum mendapat momongan,” kata Fatimah, salah seorang nenek yang setia menunggu para tamu di Asta Paregi, Kamis (23/10/2014).

Baca Juga:  Festival 'Jaga Jaggur', Titik Awal Kebangkitan UMKM Sumenep

Para tamu (pengunjung) yang datang, mayoritas mempunyai keinginan agar cepat mempunyai keturunan. Mereka sering ‘curhat’ pada penjaga (juru kunci), bahwa telah banyak usaha yang dilakukan termasuk memeriksakan diri kepada tenaga medis, namun sulit mendapatkan keturunan.

“Atas ijin Allah, mereka banyak yang dikabulkan do’anya, sehingga dikarunia keturunan dengan selamat,” terangnya.

Dinamakan “Bujuk Tamoni” karena banyak warga yang datang ketempat tersebut membawa ari-ari dari bayi yang dilahirkan dan diletakkan disebelah barat bangunan makam yang berukuran 6×4 meter.

Tak ayal, jika gundukan ari-ari mencapai + 4 meter. Bahkan, ada yang digantung diatas pohon asam dengan menggunakan wadah berbahan plastik. Ari-ari tersebut mirip seperti “tumbal” yang harus dipersembahkan setelah mendapatkan keturunan.

Baca Juga:  SAI dan PDI Perjuangan Gelar Operasi Katarak Gratis, Jadi Agenda Tahunan

Ari-ari tersebut dijaga hingga 40 hari oleh juru kunci. Anehnya, tumpukan ari-ari tersebut tidak bau pada lingkungan sekitar. Namun, bagi yang jauh dan tidak memungkinkan untuk membawa ari-ari bayi, bisa ditebus dengan uang. Mereka juga disarankan membawa beras, kopi, gula, kelapa, jajan tujuh warna (jajan pasar) dan bahan-bahan lainnya, layaknya sebuah kebutuhan untuk upacara selamatan.

“Kalau tidak bisa membawa ari-arinya ya tidak ada masalah, bisa ditebus dengan uang. Termasuk untuk membeli beras dan semacamnya,” urai Fatimah tanpa menyebut berapa nilai uang yang harus diserahkan sebagai penggantinya.

Setiap tamu yang datang, disarankan berdoa didekat dua makam (“Bujuk Tamoni”) yang ada didalam sebuah bangunan. Juru kunci juga ikut mendoakan. Lalu, diperkenankan pulang dengan diberi bunga yang ada diatas nisan “Bujuk Tamoni” tersebut.

Baca Juga:  Atap Sandar Samping Gedung DPRD Sumenep Ambruk

“Bunga ini, setiap hari ambil sedikit dan campur air. Airnya diminum oleh suami-istri. Insyaallah dalam waktu tidak lama akan segera mendapat keturunan. Yang perlu diingat, bunga yang sudah digunakan tidak boleh dibakar. Buang saja ditempat yang aman,” katanya tanpa menjelaskan akibat bunga jika dibakar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.